
“Proses persidangan akan memakan waktu yang cukup lama, sekitar 6 bulan hingga status berubah. Aku harap kamu tidak berubah pikiran selama proses itu,” ucap Haris sambil memelukku dari belakang. Kami baru saja selesai makan malam dan kini sedang menikmati gemerlap keindahan lampu ibu kota yang membentang dari balkon hotel yang Haris inapi.
“Mungkin,” jawabku yang langsung mendapatkan respon. Haris membawa tubuhku menghadapnya, menatapku lekat.
“Mungkin?”
“Aku belum selesai bicara, mungkin aku akan berubah menjadi ranger pink,” selorohku membuat Haris menundukkan kepalanya. Pria itu terlihat lucu saat panik.
“Kamu mengerjaiku?!”
“Sedikit,” ucapku melepaskan diri lalu menjulurkan lidah meledeknya.
“Keysha … kamu sedang menggodaku?”
“Aku bukan menggoda, tapi meledekmu!” aku terkekeh saat Haris seperti bersiap mengejarku. Aku menghindari setiap tangkapan dengan belindung di balik sofa.
__ADS_1
“Katakan sekali lagi!”
“Akh, hahahha, ampun! Geli!” Aku pun tertangkap dan terjatuh di ranjang. Haris menggeliti perutku hingga aku hampir menangis. “Stop!”
“Berjanjilah, kalau kau tidak akan berubah terhadapku.” Haris mengecup tanganku.
Aku terdiam membalas ucapannya barusan. Kami saling bersitatap, matanya yang tajam sudah berhasil mengambil hatiku sejak lama. Senyuman ramahnya juga selalu memberikan ketenangan, dialah yang membuatku menjadi lebih hidup dan tau apa yang aku inginkan. Bagaimana bisa aku berubah padanya? Sedangkan selama ini aku yang banyak menerima daripada memberi. Aku mengusap wajah Haris, ia memejamkan mata meresapi setiap sentuhan.
“Aku tidak akan berubah, meski semua orang menjadi sosok lain. Aku tetap aku, yang kamu kenal … Haris.”
***
Keesokan hari berjalan seperti biasa, setelah semalam kami hampir kebablasan. Haris dan aku hampir saja melakukan hubungan intim karena terbawa suasana. Beruntung telepon Ayu menyadarkan aku, dan merubah suasana panas menjadi canggung. Haris pun berjalan gontai membawa bantal menuju sofa. Bukan aku tidak ingin, tapi sungguh aku tidak bisa melakukannya selama status kami belum jelas. Mungkin karena masih ada rasa bersalah akan keadaan kami yang tidak tepat. Terdengar lucu, padahal kami sudah dalam satu kamar. Namun, meski begitu aku tetap tidak bisa. Akupun menyampaikan keinginan untuk mencari kontrakan, Haris langsung berubah raut mukanya menjadi muram.
“Maafkan aku jika alasannya karena masalah semalam, kali ini aku akan benar-benar memenuhi janjiku meski sangat sulit menahan diri jika bersamamu. Jujur saja, selama bersama Diana aku tidak pernah merasakan hasrat. Tapi bersamamu, hanya melihat senyummu saja mampu membuat kepalaku pening, Key.”
__ADS_1
Aku yang sedang menyesap teh hampir tersedak. “A-aku membuatmu pusing? Berarti aku membawa dampak tidak baik.”
“Bukan begitu, bukan pusing yang seperti itu. Tapi, pusing karena tidak tersalurkan.”
Aku mengerjap dengan bibir terbuka. Aku tidak tau harus berkata apa, Haris begitu vulgar.
“Key, aku serius. Jadi, jangan pergi ya, aku akan bersikap baik. Aku akan menjadi pria yang penurut. Apa perlu aku membuat pembatas agar kamu merasa tenang. Aku hanya ingin terus bersamamu. Tidak melihatmu sehari saja rasanya seperti seabad.”
Haris memandangku dengan tatapan memohon. Puppy eyes yang sangat sulit untuk dilawan. Aku menyentuh dadaku yang berdetak hebat. Aku mencoba bertahan dengan memalingkan muka. Aku harus tegas, ini demi kami berdua. Ada baiknya untuk tidak terlalu dekat, karena sangat tidak baik untuk kesehatan masing-masing. Mungkin Haris merasa pusing kepala, sedangkan aku akan terkena serangan jantung karena tidak kuat oleh pesona Haris.
“Aku harus mendapatkan kontrakan, Haris. Ini demi kita berdua, apa jadinya jika ada salah satu muridku melihat aku masuk ke hotel bersamamu?”
“Bilang saja kita sepasang kekasih,” jawab Haris terdengar sepele. Aku menggeleng tanpa menatapnya.
“Itu bukan alasan untuk ke hotel setiap hari,” jawabku telak. Haris pun terdiam. Aku melirik pria itu yang tampak berpikir.
__ADS_1
“Apa yang kamu bilang ada benarnya. Kamu seorang guru. Harusnya aku lebih peka, maafkan aku, Key. Baiklah, jika itu memang yang terbaik, aku akan membantumu mencari kontrakan,” ucap Haris membuatku memandangnya kembali, pria ini sangat menghargai pendapatku dan memikirkan kebaikanku. Aku menghela napas lega.