Rahim Impian

Rahim Impian
Surat panggilan


__ADS_3

POV Haris


Wanita itu tidak pernah menyerah. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, saat perselingkuhannya dengan Andre sudah aku ketahui, dia tetap bersikap seolah-olah tidak bersalah. Iya, Diana terus saja menghubungiku, menelepon tanpa henti, mengiringi pesan WA, meskipun tidak pernah aku gubris. Kali ini aku tidak boleh lengah dalam tipu daya perempuan itu.


"Kak dari tadi ponselnya bunyi terus, nggak diangkat?" tanya Santi sambil duduk di sebelahku.


"Biarin aja, enggak penting," sahutku sambil tersenyum. Santi membalas senyumanku dengan menghela napas panjang. Kami kemudian terlibat dalam obrolan kakak-adik yang hangat.


Keesokan harinya aku tidak menyia-nyiakan waktu. Aku segera mengajukan gugatan cerai. Meskipun sebenarnya berat, ibu akhirnya memasrahkan semua keputusan padaku tanpa melarang.


"Ibu percaya kamu bisa menghadapi semuanya, Haris. Keputusan ini pasti sudah kamu pikirkan matang-matang. Jika benar anak yang ada dalam perut Diana itu bukan anakmu, ibu juga tidak mau kamu ikut menanggungnya. Kamu boleh memilih untuk bebas."


Perkataan Ibu seolah-olah memberi kekuatan kepadaku untuk mengambil sikap yang selama ini belum pernah aku seriusi. Memang berkali-kali aku punya niat untuk berpisah, kemudian meragu karena hasutan Diana. Cengkeraman tangannya begitu kuat, melemahkan semua pertahananku. Aku sangat bersyukur kali ini ibu mau mengerti.


Tiga hari pun berlalu, surat panggilan sidang telah siap, aku berniat menyerahkannya langsung pada Diana tanpa perantara. Aku kemudian membawanya langsung ke apartemen wanita yang akan menjadi mantan istriku. Tanpa aku duga ternyata di sana ada kedua mertuaku.


"Sayang, akhirnya kamu pulang juga," sambut Diana dengan wajah semringah dan senyum merekah.

__ADS_1


Aku harus mengacungi jempol pada aktingnya yang tidak pernah gagal. Kali ini dia sedang berakting menjadi seorang istri yang ditinggalkan suaminya, lalu menyambut kepulangan suami dengan wajah lugunya.


"Aku datang hanya ingin menyerahkan ini." Aku segera mengambil amplop coklat dari dalam tas selalu menyerahkannya kepada Diana.


Sontak senyum mereka di wajahnya menguap tiba-tiba saat ia membaca isi surat yang aku serahkan. Wajahnya memucat, tubuhnya gemetaran lalu dia terduduk di lantai. Pasti dia sedang menyiapkan strategi baru.


Ah, basi! Kali ini apalagi Diana? Air mata buayamu itu tidak akan membuatku goyah.


"Apa ini? Surat apa?" Papa mertuaku merebut surat yang ada di tangan anaknya lalu membacanya dengan seksama. Satu persatu huruf ia telusuri sampai kemudian paham atas apa yang terjadi.


"Berani sekali kamu menceraikan anakku!"


Hadiah satu tamparan keras mendarat di pipiku. Seperti biasa Papa Diana selalu memakai kekerasan untuk menyelesaikan masalah kami berdua. Kali ini aku tidak akan menyerah meskipun dia akan menghajar atau membuatku babak belur.


Bahkan kalau aku harus meregang nyawa untuk bisa keluar dari pernikahan toxic ini, aku tidak takut.


"Bedebah! Laki-laki brengsek! Kamu benar-benar enggak tahu diri, Haris! Kurang apa kami mengangkat derajatmu, memberikan semua kemewahan yang sekarang bisa kamu nikmati. Begini balasannya? Kamu mau menceraikan putri saya?" Dadanya turun naik, napasnya terdengar kasar.

__ADS_1


Aku tahu papa Diana murka. Aku tidak menyalahkannya karena pasti Diana sudah berbicara yang tidak-tidak tentang aku, tentang kami dan semua prahara yang terjadi. Maka dengan berat hati aku segera mengeluarkan ponsel lalu memutar rekaman pembicaraan Diana dengan Andre yang sudah aku rekam beberapa waktu lalu.


Wajah Papa mertuaku berubah seketika, dari kemarahan kepadaku, kali ini tangannya mengepal sambil menatap Diana yang masih berada di lantai. Bukan hanya papanya, mamanya juga sangat syok mendengar rekaman itu. Kedua tangannya menutupi bibirnya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


Diana sang pemeran utama tentu saja tidak bisa menutupi keterkejutannya mendengar rekaman pembicaraan antara dirinya dan Andre. Satu-satunya bukti yang aku miliki ini membuatnya tidak akan berkutik lagi. Kali ini kamu harus menyerah, Diana!


"Benar semua ini? Kamu yang memulai semuanya, Diana?" tanya papanya dengan sinis menatap ke arah anaknya yang sedang ketakutan meringkuk di atas lantai.


"Bukan Pa, bukan begitu. Ini cuma salah paham. Haris itu cuma menduga saja dan aku belum sempat menjelaskan, dia bahkan nggak ngasih aku kesempatan untuk ngasih penjelasan apa pun, Pa," rengek Diana seperti anak kecil yang kehilangan mainan.


"Karena aku memang tidak membutuhkannya, Diana. Jadi simpan penjelasan kamu itu untuk kedua orang tuamu. Aku sudah menyerah. Papa dan Mama, saya sebagai menantu selama ini sudah berusaha menjadi suami yang baik, tapi apa yang saya dapatkan? Penghianatan dari putri Anda! Sekarang sudah tidak ada alasan saya lagi untuk tinggal dan hidup bersama Diana. Saya minta maaf kalau selama ini punya salah. Hanya ini yang bisa saya lakukan, bertahan sejauh ini sudah membuat saya mati rasa. Permisi, saya mau pulang."


Diana bangkit lalu dengan histeris meneriaki aku dengan suara keras.


"Haris kamu tidak bisa melakukan ini, tolong ini nggak seperti yang kamu pikirkan! Haris ... tunggu dulu, aku belum selesai bicara, kamu harus dengerin aku dulu!"


Suara Diana masih memanggil-manggil, tapi aku sudah tidak memedulikannya lagi. Dengan cepat aku keluar dari pintu apartemen lalu memencet tombol lift untuk segera turun ke basement, meninggalkan penjara pernikahan ini selama-lamanya tanpa harus menoleh ke belakang lagi.

__ADS_1


Tbc.


Maaf ya, bukan mengabaikan permintaan update kalian. Ternyata aku malah kena gejala typus. Makasih udah stay, end Enjoy!


__ADS_2