Rahim Impian

Rahim Impian
Membawa koper


__ADS_3

POV Haris


“Hngn … Haris … jangan tinggalkan aku.”


Aku mengeryit ketika suara seseorang memanggilku, tapi aku tidak tahu siapa. Hanya sekelebat sosok yang terlihat berada di atas. Aku tidak bisa sekedar membuka mata. Kepalaku terasa pening.


“Kau akan selalu menjadi milikku. Kita sudah ditakdirkan bersama.”


Lagi suara itu terdengar. Tubuhku lemas, tidak bisa bergerak yang terakhir aku rasakan ada sentuhan lembut pada bibirku dan aku kembali tidak sadarkan diri.


***


Aku mengerang merasakan pening yang masih terasa di kepala. Apa yang terjadi hingga kepalaku bisa sakit seperti ini? Tidak hanya itu, aku pun merasakan keram di tanganku dan aku membeku seketika saat sadar sedang terbaring dia atas ranjang bersama Diana di dalam pelukanku. Aku membelalak dan segera bangkit. Gerakanku sontak membuat Diana yang tadinya memejamkan mata kini terjaga. Aku menoleh pada meja tempat di mana Diana memberikan aku minuman. Aku meraihnya dan melemparnya hingga gelas itu hancur berkeping-keping.


PRANK!


“Haris, apa yang kamu lakukan?” tanya Diana setengah histeris.


Sepintas bayangan saat aku dan Diana sedang bercumbu berseliweran, meski samar karena bisa dipastikan Diana yang terus mengambil alih permainan. Peningku semakin terasa, ini tidak benar! Aku yakin tidak mungkin ereksi. Aku menegang dengan amarah memuncak.


“Kau menjebakku?!”


“Menjebak gimana, Haris? Kita masih suami istri, lagipula semalam kamu yang meminta.”


“Jangan bercanda, kamu pasti memasukkan sesuatu pada minumanku. Cih, sampai saat terakhir pun kamu tidak henti menggunakan cara kotor!”

__ADS_1


“Yang kotor itu kamu yang sudah tidur dengan wanita lain. Sedangkan aku? Semuanya wajar, aku masih istrimu!”


Pernyataan Diana menohok hatiku. Memang apa yang aku lakukan lebih kotor, berselingkuh, tapi sampai saat ini aku belum melangkah sejauh itu dengan Keysha. Dia yang menjaga dirinya dari diriku yang terkadang khilaf.


“Apa kau sudah puas?”


“Apa?”


“Jika kamu sudah puas, aku akan pergi. Jangan jadikan hal ini sebagai alasan menahanku. Karena semua yang terjadi tidak berarti untukku, apalagi kamu memaksakannya. Ini hanya akan semakin menyakitimu, Diana.”


Diana bangkit dari ranjang dengan tubuh polos, matanya nyalang dengan jejak air mata. “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah menyerah!”


“Bukankah kemarin kamu bilang ingin menjadikannya sebagai kenangan perpisahan?”


“Aku mengurungkannya,” ucapnya sambil menyeka pipi. Inilah Diana yang aku kenal, jadi kemarin hanyalah sebuah sandiwara.


“Surat gugatan akan sampai ke tanganmu seminggu lagi, tunggu saja!” ucapku sebelum menutup pintu. Tidak lama aku bisa mendengar suara barang yang terlempar tepat di pintu yang sudah aku tutup.


“Kenapa kau tidak melemparnya sejak tadi?” monologku di depan pintu.


***


Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Aku tersadar jika memiliki janji untuk menjemput Keysha kemarin sore. Semua kacau karena Diana. SIAL!


Aku hampir menerobos lampu merah jika tidak melihat ada polisi yang sedang berjaga di dekat lampu merah. Hal ini menambah khawatir perasaanku, ditambah ponselku mati. Ah, andai saja waktu itu aku langsung pergi meninggalkan Diana, tanpa membiarkannya berhasil membujukku dengan deraian air mata buaya.

__ADS_1


Sesampainya di depan kontrakan aku segera berlari dan mengetuk pintu dengan gusar.


“Key! Keysha, kamu ada di dalam?”


Tidak ada jawaban. Aku mengecek arlojiku yang menunjukkan waktu masih pukul 11, dia ada jadwal pukul 2 siang. Seharusnya dia masih ada di rumah.


“Key?Key! Buka pintunya!”


“Mas Haris, cari Mba Keysha?” tanya salah satu tetangga kami. Aku mengangguk mengiyakan.


“Iya, kebetulan saya ada urusan dengan Keysha,” jelasku. Orang di sini tidak ada yang tau hubungan kami kecuali Pak Rudi, pemilik kontrakan.


“Tadi kayaknya sudah pergi dari jam 8an, Mas!”


“Sudah pergi? Tapi jadwal ngajarnya masih lama, jam 2!” terangku.


“Iya, tadi waktu saya mau ke  pasar, saya papasan. Klo ngajar memang bawa koper segala ya?”


“Maksudnya?” jantungku berdetak cepat saat mendengar Keysha membawa koper.


“Mbak Keysha perginya bawa barang banyak. Bawa koper juga!”


Tbc.


Note. Mau kesel, mangga… sengaja emang ini konfliknya. Hahahaha ayo demo ke rumahku!

__ADS_1


Happy reading my reader, enjoy!


__ADS_2