Rahim Impian

Rahim Impian
Ide Gila


__ADS_3

POV Diana


“TIDAK! AKU TIDAK MAU!” aku berteriak menolak mentah-mentah. Kenapa pula Papa memutuskan pernikahanku begitu saja setelah susah payah aku mencoba mempertahankannya?


“Ada apa denganmu Diana? Untuk apa kamu meneruskan hubungan ini? Bukankah dia sudah mengecewakanmu? Mati satu tumbuh seribu, tanpa dia kamu pasti akan mendapatkan penggantinya yang jauh lebih baik!” Papa bersikukuh.


“Benar kata Papamu Diana, kamu pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Kalau begitu saya permisi dulu.” Haris pamit dengan begitu mudahnya.


Tidak bisa, aku harus menghentikannya!


Aku melepaskan selang infus yang terpasang di lengan lalu turun dari ranjang. Aku mengindahkan Rasa nyeri yang menyengat pasca kecelakaan yang belum lama ini menimpaku. Semua tergantikan oleh rasa takut akan kehilangan. Aku tidak pernah mengharapkan perpisahan, meski memang Haris belum bisa menjadi suami idaman, tapi tidak bisa dipungkiri jika aku mencintainya. Aku akan memaafkan segala kesalahannya, aku akan memaklumi kekurangannya sampai ia bisa menjadi yang aku inginkan.


“DIANA!” Papa melotot melihat aku yang nekat berjalan dengan tangan yang berdarah-darah.

__ADS_1


“HARIS! KEMBALI!” panggilku menuju pintu berharap Haris mendengarnya. Namun, Papa menghalangi.


“Diana, jangan kejar Haris lagi. Kamu harus melupakan pria tidak tahu diri itu! Jadilah wanita terhormat!”


Gelengan keras aku berikan. “Diana tidak mau pisah, Pa!” ucapku dengan bibir bergetar.


“Apa lagi yang kamu harapkan? Selama ini Papa selalu membantunya atas namamu, tapi dia malah bertindak semena-mena. Papa tidak rela kamu diperlakukan seperti ini, Diana! Bukankah kamu sering mengeluh Haris yang begini, yang begitu … lalu sekarang ditambah ia berselingkuh, kamu masih mau bersamanya?”


“Semua masih bisa dibicarakan, Pa. Pokoknya aku tidak mau kehilangan Haris, titik!” tekanku.


Selama ini aku mengadu pada orang tuaku betapa Haris selalu membuatku sedih, tidak pernah membuatku bahagia dengan segala keterbatasannya serta keluarganya yang tidak terpelajar, hanya sebagai pelampiasan dan harapan sebuah dukungan dari Papa dan Mama. Aku selalu senang jika ada orang yang sejalan dengan pemikiranku. Aku pun senang bila berada di posisi teratas dari siapapun.  Tanpa kusadari, ternyata aku telah memupuk kebencian di mata kedua orang tuaku pada Haris. Mereka menjadi tidak respect pada suamiku itu. Awalnya aku merasa hal itu wajar, jadi Haris tidak akan macam-macam karena dia berada di bawah kuasaku. Apa yang bisa dia lakukan tanpaku?


Aku tidak pernah menyangka hari ini akan tiba, di mana semua rencana dan bayangan hidup sempurnaku tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua hancur

__ADS_1


berantakan karena orang ketiga.


Perkataan Papa berhasil menghentikanku, meski batinku menolak. Aku menahan diri dan memikirkan jalan lain. Saat keputusan telah dibuat, membantahnya adalah hal yang percuma. Papa lebih keras dari yang orang lain bayangkan dan aku tahu itu.


“Kembali ke ranjangmu! Sekarang kamu harus sembuh dahulu. Masalah


Haris, biar Papa yang selesaikan.”


Aku mengusap pipiku kasar, menghilangkan jejak air mata yang tersisa. Tanpa kata aku menurut dan menaiki ranjang. Saat itu juga sebuah ide terlintas di kepalaku. Hal penting yang harus aku lakukan agar Haris tidak bisa pergi. Setidaknya untuk saat ini.


“Aku akan mengikuti permintaan Papa, asal Papa mengabulkan permohonanku,” ucapku memandang lurus pada Papa.


“Apa itu?”

__ADS_1


“Masukkan Haris dalam daftar hitam hingga dia tidak bisa melamar pekerjaan dimanapun, sampai dia meminta maaf padaku.”


__ADS_2