
Ritual memakai bajuku sempat tertunda karena Haris yang mencekal tanganku. Maniknya memindai begitu instens dari ujung kaki hingga ujung rambut dan itu berhasil membuat bulu kudukku berdiri.
“Haris? Maaf … aku ingin memakai bajunya,” ucapku mengalihkan tatapannya yang seperti ingin menelanku bulat-bulat.
Aku menunggu reaksinya yang ternyata tidak kunjung melepas cekalan, ia malah menggenggam tanganku.
“Aku memilih pakaian yang terdapat banyak kancing, sepertinya akan sulit untuk dipakai seorang diri,” terangnya tanpa memutus pandangan. Seperti mengunciku untuk tidak bergerak.
Aku menelan saliva karena kerongkonganku yang tiba-tiba terasa kering. Bukan karena kehausan, tapi karena Haris menutup pintu kamar mandi hingga kami berada di dalam ruangan yang sama. Hawa ruangan seketika berubah panas, mungkinkah karena kami berbagi oksigen di tempat sempit ini?
Haris memberikan paper bag yang barusan terjatuh kemudian melirik bath tube yang terdapai tirai sebagai penghalang. Aku tertegun sampai Haris mengeluarkan kata.
“Kamu bisa memakai dalaman di sana, aku akan menunggu di sini.”
__ADS_1
Aku menoleh pada bath tube tersebut dan kembali melihat ke arah Haris yang melipat tangan.
“Aku hanya akan membantumu memakaikan blouse, Key. Cepat sana pakai **********, nanti kamu masuk angin.”
Aku seperti orang linglung ketika memasuki bath tube dan menarik tirai menyekat keberadaan kami. Jantungku berdebar tidak karuan karena seolah sekat itu tidak berfungsi dengan baik. Aku merasa netra Haris mampu menembus tirai dan menelanjangiku dengan tatapannya yang panas.
Aku menggelengkan kepala menepis pikiranku yang mulai liar, yang harus aku lakukan sekarang adalah segera berpakaian. Aku membuka paper bag itu, terdapat sepasang pakaian formal yang sangat cocok untuk mengajar nanti. Aku tersenyum terharu, Haris begitu mengerti dan memperdulikan aku. Seleranya pun sangat bagus, kurasa ini adalah pakaian yang paling bagus yang akan kupakai. Saking senangnya aku sampai tidak sengaja menjatuhkan pakaian dalam yang terselip diantara blouse, sepasang Victorya Secret berwarna merah menyala. Aku mengambilnya dengan terburu-buru hingga aku terselip dan terduduk di bath tube. Suara bentulan cukup keras terdengar. Aku memejamkan mata karena malu. Berpakaian saja bisa sesulit ini.
“A-aku baik-baik saja,” jawabku kikuk.
Namun, jawaban saja tidak membuat Haris tenang, pria itu malah menyibak tirai dan melihat keadaanku yang sedang terduduk di atas bath tube. Aku menunduk malu.
“Biar aku bantu, aku akan memejamkan mata, jadi berpeganganlah padaku.”
__ADS_1
Haris menjulurkan tangannya sambil memejamkan mata. Sudah seperti itu aku mau tidak mau menerimanya. Karena kakiku pun terasa sedikit nyeri. Aku memegang tangannya untuk berdiri saat mengenakan dalaman organ vitalku. Setelah selesai memakai dalaman aku beralih pada satu stel pakaian fotmal berupa blouse dan rok sepan. Modelnya bagus serta elegan, begitu pas membungkus tubuhku.
Haris membuka mata ketika aku tidak memegang tangannya lagi. Ternyata sedikit sulit untuk memasang kancing blouse tersebut. Haris pun membantuku memasangkannya. Manik kami sempat bertabrakan hingga tanpa kusadari pria itu mendekatkan wajahnya ke leherku.
Ia menghirupi bau tubuhku yang baru selesai mandi. Aku mengingatkannya untuk tidak bertindak lebih jauh, meski aku akui gejolak hasrat di antara kami selalu menggebu saat bersama.
“Haris, geli!” aku mendorong dadanya yang menghimpit tubuhku, tapi sulit. Ia sangat lekat seperti perangko.
“Sebentar lagi, ah … rasanya aku sudah tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya,” bisiknya di telingaku memberikan sensasi menyengat.
Sesuatu yang keras mengenai pahaku dan itu membuatku membeliak seketika. Kali ini aku harus mengambil langkah nekat. Melihat celah yang ada aku pun langsung melesat keluar dari kamar mandi meninggalkan Haris seorang diri.
“Jika dibiarkan lebih lama, aku tidak yakin bisa bertahan,” batinku menjerit.
__ADS_1