Rahim Impian

Rahim Impian
Menginap dengan Haris


__ADS_3

Aku akhirnya menginap dengan Haris di hotel yang di sewa pria itu. Awalnya aku menolak karena status kami yang masing-masing memiliki pasangan, tapi karena Haris berjanji tidak akan melakukan hal yang macam-macam, aku pun akhirnya menurut.


“Aku akan tidur di sofa,” ucap Haris setelah kami memasuki kamar. Kamar yang ia sewa kebetulan yang berukuran cukup luas dengan sebuah mini bar di dalamnya. Aku membatin, Haris tentu mengeluarkan banyak biaya untuk menginap di tempat ini.


“Haris,” panggilku pada pria yang entah mengapa terlihat semakin tampan. Apa mungkin karena kami sudah lumayan lama tidak bertemu? Aku berusaha mengatur detak jantungku yang bertalu-talu, aku bahkan merasakan debaran itu semakin hebat ketika Haris menoleh dengan binar di wajahnya.


“Ya?”


“I-itu, sejak kapan kamu menginap di sini?” tanyaku gugup.


“Hampir seminggu,” jelasnya.


“Seminggu?”


“Iya, aku segera keluar dari apartemen kami, setelah ayahnya Diana memintaku untuk menceraikan anaknya.”


“Ayah Diana tau semuanya?”


Haris mengangguk, aku semakin tidak enak. Ternyata begitu besar pengaruh buruk dari tindakanku mencintai Haris yang masih milik Diana.


“Kamu pasti kesulitan, aku tidak tahu lagi-”


“Stss … please Keysha. Kamu nggak salah, aku yang memulai semuanya. Aku  yang mengajakmu makan siang, aku yang meminta nomor hpmu sampai akhirnya kita di sini, semua karena aku. Bukan kamu,” terang Haris berusaha menenangkanku.


Aku menunduk, tidak berani menatap wajah Haris.


“Key, aku sudah bertekad untuk hidup bahagia bersamamu.” Haris meraih tanganku dan menciumi pungungnya. “Sayang, kamu mau ‘kan?”

__ADS_1


Aku langsung mendongak dipanggil begitu mesra oleh Haris. Pria tampan itu memandangku dengan tatapan penuh harap, sungguh itu berhasil membuatku goyah. “Haris ….”


“Just say you love me, Keysha,” pintanya.


“I love you,” jawabku pelan yang kemudian mendapatkan kecupan lembut di bibir.


“I love you too.”


***


“Selamat pagi,” sapa Haris yang sudah tampak rapi dan wangi.


Aku tersentak karena baru bangun dari tidur. Aku menggulung tubuhku dengan selimut, Haris terkekeh dan mendekat. Ia meletakkan baki berisi breakfast di meja nakas.


“Pa-pagi.”


“Key?”


“Jangan dekat-dekat! Aku belum mandi!” pekikku heboh.


“Memangnya kenapa kalau belum mandi?”


“Aku jelek dan bau!” cicitku malu.


“Masa sih? Coba aku lihat!” Haris malah semakin dekat, bahkan aku bisa merasakan hempusan napasnya ke wajahku yang harum papermint.


“Haris!”

__ADS_1


“Keysha, kamu tidak jelek. Kamu malah cantik saat bangun tidur, hanya … sedikit bau kecut.”


Mukaku langsung merah padam, dengan kecepatan cahaya aku segera melompat dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Aku bisa mendengar tawa dari balik pintu, Haris sepertinya sangat senang menggodaku. Diam-diam aku terus tersenyum selama membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian aku selesai mandi, aku baru sadar jika tidak membawa baju ganti. Aku menghela napas melihat bajuku yang kemarin.


“Masa harus pakai ini lagi?” monologku sambil membaui pakaian tersebut. Aku langsung mendengus, baunya sudah tidak sedap. Apa bedanya sudah mandi atau belum jika bajunya masih yang sama?


Aku mengacak rambutku, rasanya ingin menghilang saja. Aku tidak percaya diri untuk berhadapan dengan Haris yang sudah tampan paripurna.


“Apa yang harus aku lakukan?” ucapku gemas.


Di tengah kebimbangan aku masih setia di depan wastafel, berusaha mencari jalan keluar dan di saat itu pula pintu kamar mandi terketuk, aku sedikit terperanjat karena hanya mengenakan handuk.


Tok, tok, tok!


“I-iya Haris, maaf lama ya? Apa kamu ingin ke kamar mandi? Sebentar, aku belum pakai baju,” seruku.


“Mau aku bantu memakaikannya?”


“Tidak usah, aku bisa sendiri.”


Haris lagi-lagi terkekeh. “Aku hanya bercanda, tolong buka pintunya sedikit, aku ingin memberikan sesuatu untuk kamu kenakan. Kamu tidak bawa baju ganti ‘kan?”


Oh, tuhan, Haris memang benar-benar sosok malaikat yang sengaja diturunkan untukku. Aku segera membuka pintu kamar mandi sedikit lalu meraih paper bag pemberian Haris. Namun, saat aku akan menariknya. Haris mencekal tanganku hingga paper bag itu terjatuh ke lantai.


“Haris?”

__ADS_1


Pria itu tidak menjawab hanya menampilkan seringai yang mampu membuatku merinding.


__ADS_2