
Mas Andre benar-benar melakukan apa yang ia katakan, mengurungku di dalam kamar. Aku sudah berada di sini sejak kemarin siang
dengan tangan yang terikat tali tambang yang terpaut pada nakas ranjang.
Sepanjang waktu aku berusaha melepaskan diri, tapi percuma. Tali ini mengikatku dengan kuat hingga akhirnya aku hanya bisa pasrah.
Hatiku tidak tenang sejak perkataan gila Mas Andre tercetus. Apa lagi ia sempat mengatakan akan mengabulkan impianku selama ini. Dia
tidak mungkin akan berbuat nekat ‘kan?
Kemarin malam aku sampai bergadang menatap pintu kamar yang bisa kapan saja terbuka. Entah mengapa, aku menjadi takut akan sosok pria yang masih berstatus suamiku tersebut. Mungkin, dulu aku sangat mendambakan keturunan darinya, tapi sekarang … keinginan itu sirna tidak berbekas.
Membayangkan Mas Andre menyentuh tubuhku saja membuatku merinding. Rasanya aku tidak akan sanggup. Aku menggeleng, berusaha menepis pemikiran mengerikan itu.
“Ya Tuhan … tolong aku,” ucapku memohon agar semesta memberikanku jalan.
Tidak lama, terdengar suara dari arah pintu. Aku menegang, mengetatkan genggaman dan beringsut
menaiki ranjang. Dari sana Mas Andre tampak dengan baki di tangannya. Pria itu berjalan mendekatiku dan meletakkan baki tersebut di atas meja sisi ranjang.
__ADS_1
“Makanlah, kamu belum makan seharian.”
Aku terdiam sambil menatap tali yang mengikat. Aku pikir iavakan melepaskannya setelah mendapati kode dariku. Namun, ternyata aku salah. Mas Andre malah mengambil sesendok makanan dan menyodorkannya padaku. Aku mengatupkan bibir rapat lalu memalingkan muka. Aku menolak makanan itu.
PRANK!
Mas Andre membanting piring hingga semua makanan berserakan.
Serpihan belingnya menyebar ke segala arah sampai melukai kakiku. Aku mengeryit menahan nyeri, tidak menyangka pria itu akan bertindak seperti ini. Pandangan sengit diberikan padaku, membuat hatiku ciut.
“Apa lagi maumu? Aku sudah bersikap baik, tapi ini yang aku terima? Penolakan?” tanyanya dengan napas memburu. Meski sebenarnya aku diselimuti ketakutan, aku berusaha menutupinya agar Mas Andre tidak menyepelekanku lagi. Aku bukan Keysha yang dulu.
“Sikap baik apa yang Mas maksud? Mengikatku seperti ini? Aku bukan binatang!” ucapku sedikit sumbang.
“Lalu aku harus membiarkanmu pergi begitu saja? Kau pikir aku sudi? Mati pun kau tetap milikku, Keysha!”
Aku membeliakkan mata, sebuah statements yang mencengangkan. Mas Andre tidak peduli padaku, dia hanya peduli akan ragaku. Tidak peduli jika selama ini aku sudah menderita dengan segala sikapnya yang selalu menyakiti
hati.
__ADS_1
Ia menghempas cengkeraman cukup keras sampai wajahku berpaling ke samping. Tidak sampai disitu, Mas Andre menarik kakiku dan merentangkannya cukup lebar hingga aku memekik.
“Mas, kamu mau apa?” aku takut, berusaha meronta meski tau tidak akan terlalu berpengaruh.
Pria itu menyeringai menakutkan sambil melepaskan gespernya. “Apa lagi? Aku akan memberikan apa yang kamu mau. Bukankah kamu selalu merengek memintanya?”
“Jangan, Mas! Please ….”
“Jangan apa? Jangan berhenti maksudnya?”
“Tidak! AKH!”
BREETT!
Bukannya berhenti, Mas Andre malah merobek bajuku hingga pakaian dalam terpampang nyata. Aku menangis sejadi-jadinya memohon agar
pria itu berhenti. Namun, usahaku tidak membuahkan hasil. Tampaknya, mendapati diriku yang menderita memberikan kesenangan untuknya. Maniknya memindaiku dengan lapar membuat bulu romaku meremang. Bukan karena teransang, tapi karena ketakutan.
“Mas … Stop!”
__ADS_1
"Nikmati saja Keysha, aku akan membuatmu melupakan pria sialan
itu!"