Rahim Impian

Rahim Impian
Diana diusir


__ADS_3

POV Haris


Aku berteriak kepada Santi saat melihat tubuh ibu terkulai lemas di dalam pelukanku. "Tuhan, bukan ini yang aku harapkan." Jika aku tidak bercerita tentang Diana, Ibu pasti akan berpikir yang tidak-tidak.


"Ayo, segera kita bawa ibu ke rumah sakit, Kak!" jerit Santi ketika mendapati tubuh ibu yang lemah lunglai.


Seolah kehilangan akal, aku masih belum bisa berpikir jernih. Akan tetapi, saat Santi menepuk pundakku, kesadaran itu kembali lagi. Aku segera membopong ibu dibantu Santi memasukkannya ke dalam mobil, lalu kami membawa ibu ke rumah sakit secepatnya.


"Ibu, maafin Haris. Sungguh nggak ada maksud untuk bikin Ibu khawatir, apalagi sampai pingsan begini, Haris cuma tidak bisa menyimpan semuanya sendirian, Bu," ucapku sambil memijit-mijit pergelangan tangan ibu dengan tangan kiriku, sementara tangan kanan masih fokus memegang setir.


"Udah, Kak, tenang aja. Memang sekarang Ibu agak lemah, jadi tidak bisa mendengar berita yang mengagetkan. Biasanya ibu langsung kepikiran," ucap Santi, semakin menyadarkanku kalau sekarang kondisi ibu semakin menua dan rapuh.


Sesampainya di rumah sakit, ibu segera dilarikan ke IGD. Beruntunglah ibu karena dokter mengatakan sakit ibu ini hanya akibat kelelahan dan tekanan pikiran.


"Jadi Anda putranya?" tanya dokter saat melihat aku menghampirinya usai keluar dari ruang IGD.


"Betul, dok, saya Haris. Jadi cuma kelelahan ya, Dok?" tanyaku khawatir.


"Sebaiknya Anda jaga suasana hati ibu supaya tidak kembali drop, karena saat stres tekanan darah ibu Anda menjadi sangat tinggi, dan hal itu bisa membahayakan. Bisa juga mengakibatkan stroke, jadi saya minta hal ini benar-benar diperhatikan, ya, Pak Haris," pesan dokter yang kuperkirakan seumuran dengan ibu itu. Ia menepuk pundakku, lalu segera bergegas pergi meninggalkan aku dan Santi setelah kami mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Santi segera berlari menuju ruangan IGD. Aku segera mengikuti langkah Santi, bersimpuh, dan memohon ampun kepada ibu setelah kulihat wanita yang rambutnya sudah mulai memutih itu mulai tersadar.


"Ibu, Haris minta maaf. Haris nggak bermaksud membuat Ibu khawatir. Doakan semuanya baik-baik saja ya, Bu. Sekali lagi, Haris minta maaf sama Ibu, kalau semuanya tidak berjalan seperti yang Ibu harapkan, tapi Ibu harus tenang. Haris memang sudah tidak sanggup lagi meneruskan pernikahan ini. Tolong, Ibu jangan banyak pikiran. Kalau ibu sakit begini, Santi dan Haris jadi sedih," ucapku sambil berlinang air mata.


Tanpa kusadari, air mata menetes melihat raut wajah ibu semakin sedih. Mungkin beliau hancur menyaksikan rumah tangga putranya kini jadi porak-poranda. Padahal selama ini ibu selalu berusaha menjaga sikap dan menjaga jarak agar Diana tidak bersikap canggung, karena ibu tahu Diana berasal dari kalangan berada, sedangkan kami keluarga yang biasa-biasa saja. Selalu dinding pemisah yang dibangun Diana dan ibuku, tanpa diberitahu pun, beliau sudah cukup mengerti dan tahu diri.


Aku teringat saat aku menikah dengan Diana dulu, ibu terkejut tidak menyangka ada orang kaya yang mau menerima aku yang berasal keluarga biasa saja.


Setelah Diana menjadi menantunya, ibu selalu memperlakukan perempuan itu seperti ratu, melebihi putrinya sendiri. Apa pun yang terpenting adalah Diana. Mungkin rasa sakit itu juga disebabkan pengkhianatan Diana, karena pada akhirnya Diana yang telah membohongi aku. Itu juga pasti menyakiti hati ibu.


"Ini memang kebodohanku, untuk yang kesekian kalinya aku mempercayai wanita ular itu," gumamku dalam hati.


"Haris, ibu sekarang sudah tenang memikirkan semuanya. Ibu hanya sedikit kaget karena Diana bisa berbuat sejauh itu. Kamu juga jangan terlalu lama bersedih. Ibu yakin kamu pasti bisa melewatinya, ya, Nak? Semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap ibu sambil memelukku erat. Aku juga menyambut pelukan ini. Santi terisak-isak melihat kami, lalu ia tak tahan untuk ikut serta. Kami bertiga berpelukan di dalam ruang IGD di rumah sakit.


"Ibu, sedang mikirin apa?" tanyaku sambil duduk di samping brankar. Ibu hanya terdiam saja, tidak menjawab apa pun.


"Ibu sudah boleh pulang 'kan hari ini?" tanyanya sambil menatapku.


"Iya, Bu, sebentar lagi. Tunggu dokter visit terakhir, lalu kita pulang."

__ADS_1


Dokter datang dan memastikan kondisi ibu memang sudah boleh pulang. Aku segera membawa ibu pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, ibu terdiam, hanya sesekali menatapku dari kaca spion, seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkan. Sesekali ibu juga melihat ke arah Santi, seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan. Hingga tiba di rumah, ibu tetap diam tanpa mengatakan apa pun.


"Ayo, Bu, pelan-pelan. Haris bantu," ucapku sambil berusaha membantu ibu masuk ke dalam rumah. Alangkah terkejutnya aku saat tiba di pelataran, wanita itu sudah berdiri menanti kami.


"Sayang, kita harus bicara. Aku akan jelaskan semuanya," ucap wanita itu sambil memandangiku dengan pandangan memohon.


Aku berdecih mendapati panggilan memuakkan itu dari Diana. Telingaku terasa kebas.


"Sudahlah, Diana. Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Lebih baik kamu pulang sekarang. Aku nggak ada urusan lagi sama kamu!" teriakku kepada Diana, sengaja aku usir dia, tapi seperti biasa, bukan Diana jika dia tidak keras kepala.


"Tolonglah, Haris, ini cuma salah paham. Ada satu hal yang harus aku jelaskan sama kamu," pinta Diana, masih mencoba menerobos kesabaranku.


"Diana, sebaiknya kamu pulang sekarang dan jangan pernah ganggu Haris lagi!" tegur ibu tegas.


Terdengar satu kalimat serupa petir, kalimat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, kalimat yang keluar dari mulut wanita yang sangat aku hormati dan sayangi.


Ibu berteriak kepada Diana. Satu pemandangan yang selama aku menikah tidak pernah aku lihat. Ibu selalu membela Diana, tapi kali ini ibu berdiri di belakangku.


"Ibu ... tapi saya harus jelaskan sama Mas Haris kalau ...." coba Diana mempertahankan diri.

__ADS_1


"Ibu bilang kamu pulang saja sekarang. Kamu nggak dengar kata Haris, dia sudah tidak ada urusan sama kamu! Pulang saja sekarang, Diana, kami tidak ingin melihat kamu lagi!" potong ibu dengan tegas.


Untuk pertama kalinya, Diana melongo tak percaya dengan apa yang ia dengar.


__ADS_2