
POV Haris
Bagai sebuah karpet merah yang dibentangkan di hadapanku, ketika proses perceraian kami berjalan begitu mulus dan tidak bertele-tele. Mungkin papa mertuaku sudah mewanti-wanti putrinya untuk tidak menghalangi jalannya perceraian ini. Yang aku lihat sekarang Diana lebih kalem, dia tidak berapi-api saat bertemu denganku.
Beberapa waktu lalu aku sempat mendengar papa mertuaku yang sebentar lagi akan menjadi mantan itu, hampir meninggal karena ulah anaknya. Pasti Diana tidak berkutik melihat sosok yang sangat ia banggakan itu tergeletak di atas brankar dalam kondisi kesakitan.
Diana mendatangi setiap jadwal sidang kami digelar, meskipun dia sudah menyewa pengacara. Dari kejauhan wanita itu hanya mampu menatapku dengan pandangan penuh penyesalan. Kami sempat bertemu di lobby usai sidang. Diana meminta maaf.
"Mungkin bagimu ini tak ada artinya lagi, Haris aku minta maaf untuk semua yang pernah terjadi dalam rumah tangga kita."
Hanya itu yang ia ucapkan sambil menatapku sendu. Singa betina itu seperti sedang terluka, tak punya daya kekuatan yang dulu ia banggakan. Permintaan maaf itu mungkin untuk menebus rasa bersalahnya, atau lebih kepada dia ingin mengobati luka batinnya sendiri, aku sudah tidak peduli.
"Iya, sama-sama aku juga minta maaf kalau selama ini sebagai suamimu, terlalu banyak kekuranganku."
Hanya itu saja yang bisa aku jawab untuk Diana. Apalagi yang harus kita bicarakan? Tak sabar aku ingin segera melepaskan diri dari belenggu pernikahan ini.
Hanya empat kali sidang, pada sidang kelima palu hakim diketuk. Kali ini Diana tidak hadir. Pengacaranya mengatakan wanita itu sudah melahirkan anak pertama yang selama ini ia idamkan. Bukan hanya oleh Diana tapi juga seluruh keluarganya.
Dalam hati aku cuma bisa bersyukur, akhirnya Diana bisa juga merasakan kenikmatan menjadi seorang ibu. Aku tidak memungkiri upayanya begitu gigih memperjuangkan supaya rahimnya terisi janin. Bertahun-tahun ia usahakan dan belum berhasil lalu sekarang Tuhan memberikannya, meskipun bukan dari benihku. Diana benar-benar menjadi seorang ibu. Bagiku ini sudah cukup, setidaknya dia masih mendapatkan kado terbaik sepanjang hidupnya di balik prahara yang ia buat.
__ADS_1
Pada sidang putusan itu rupanya Andre hadir juga mengambil akta perceraian Diana. Kali ini aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk sekedar menyapanya.
"Selamat, Andre, akhirnya anakmu lahir juga."
Andre menoleh saat mendengar sapaanku. Laki-laki itu sepertinya tak punya muka lagi untuk bertemu denganku. Jika ia bisa menghindar pasti sudah ia lakukan sejak tadi. Sayangnya aku melihatnya terlebih dahulu.
"Kalau aku tahu kamu menginginkan istriku sejak awal, dengan senang hati aku akan melepaskannya untuk kamu, Andre. Supaya kamu tidak terlalu lama menyiksa Keysha," bisikku di telinganya, sebelum aku pergi meninggalkan kantor Pengadilan Agama.
Lagi-lagi Andre bersikap canggung. Laki-laki itu tidak menjawab kata-kataku. Dia tahu hal itu benar adanya. Aku pasti akan dengan sukarela melepaskan Diana jika memang mantan istriku itu menginginkan hidup bersama Andre.
Kini bukan hanya karpet merah yang dibentangkan di hadapanku, tapi seluruh duri dan kerikil tajam juga seolah menyingkir dari jalan yang hendak kulewati. Mereka yang punya niat tidak baik sudah tersingkir dengan sendirinya. Aku benar-benar terbebas dan bisa hidup tenang mulai sekarang.
Menyebut nama Keisya di hadapan Andre, seperti menyundut kembali sisi hatiku yang lain. Rasanya sedikit perih dan ada ngilu-ngilunya, karena sampai sekarang aku masih belum tahu di mana keberadaan Keysha.
Apa reaksinya ketika tahu anak yang dikandung Diana bukan anakku? Yang membuat aku paling penasaran, bagaimana raut wajahnya ketika aku mengatakan statusku sekarang bukan suami Diana lagi. Ah, perempuan anggun itu pasti tersenyum indah. Lengkung khas senyum itu akan segera hinggap di wajahnya yang ayu.
"Keisya ... ada di mana kamu sekarang?" gumamku di dalam hati. Kenapa dia bisa seolah-olah menghilang dari muka bumi?
Aku berharap meski mungkin hubungan indah kami tidak akan terjalin lagi, aku ingin meminta maaf jika semua yang terjadi malah membebaninya. Meskipun aku sampai saat ini tidak tahu mengapa dia pergi secara tiba-tiba.
__ADS_1
Menjalankan mobil di jalanan yang sibuk membuat otakku terus menyelidiki banyak kemungkinan. Aku tidak memungkiri kepergian Keisya pasti ada hubungannya denganku yang sudah mengingkari janji.
Aku ingat betul saat itu aku benar-benar melakukan kebodohan karena terjerat lagi dengan kata-kata manis Diana dan harus bermalam di apartemen.
"Ah, sial!"
Aku memukul setor menyesali kejadian itu.
Apakah Keysha tahu hal itu? Jika benar dia tahu, maka aku sudah menghancurkan hatinya.
"Bodoh! Aku benar-benar bodoh!" gerutuku kesal.
Kenapa aku tidak berpikir sampai di sana, atau mungkin Diana dengan sengaja datang memberitahu Keysha tanpa sepengetahuanku?
Jika menilik karakter Diana, hal itu bukan tidak mungkin ia lakukan.
Sekarang aku bertambah yakin, Keysha mengundurkan diri dari hubungan kami karena campur tangan Diana. Wanita itu benar-benar sudah membuat hidupku susah!
Tbc.
__ADS_1
Bonus malam ini, enjoy!