
Sendiri, menyembuhkan luka hati dari kejamnya dunia dan putaran roda nasib serta takdir tak terduga, aku seperti diberi napas baru. Lega.
Meskipun kini aku tinggal di rumah kontrakan sempit, tapi tetap bersyukur karena punya pekerjaan dan kehidupan yang tenang.
Sekarang baru aku sadari kalau ketenangan ternyata berdampingan dengan kesepian.
Memang benar sekarang tidak ada yang mengganggu, tidak ada teriakan, bentakan, kekerasan psikis tapi juga tidak ada kehangatan keluarga. Bisa mengobrol dengan orang-orang yang benar-benar mengenalku sudah lama tidak aku lakukan.
Biarlah aku ingin mengikuti semua ini seperti air yang tidak pernah paham di mana muaranya.
Bukan ... aku tidak sedang berharap bermuara di tempat yang rendah, meskipun memang begitu adanya hukum alam.
Kini aku hanya mengikuti alur cerita hidup berpasrah kepada sang pemilik hati.
Sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu dengan Santi, sepertinya pertemuan kami saat di rumah sakit merupakan pertemuan terakhir. Mungkin itu yang terbaik, karena dengan begitu tidak ada lagi yang bisa menghubungkan aku dengan Haris. Siapa yang menyangka Santi adalah adik pria itu.
Terkadang aku tertawa sendiri dengan jalan hidupku. Sejauh aku melangkah, seolah bayangannya tidak membiarkan aku pergi. Jujur saja ada malam-malam saat kesepian merajai hati, timbul kerinduan untuk sekedar mengingat wajahnya.
Haris pria baik yang pernah menjadi bagian kecil dalam hidupku. Kecil tapi bermakna. Kecil tapi membuat hidupku sesaat tergenapi. Haris yang lembut memperlakukan perempuan, pria bermata teduh menggambarkan luasnya hati yang ia miliki.
Ah ... seperti tercubit hatiku rasanya ketika kembali mengingatnya.
__ADS_1
"Keysha, jangan lemah dan lengah, fokus pikirkan masa depanmu." Aku menguatkan dan mengingatkan hati.
Sekarang keadaan sudah berubah. Dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Jika diperkirakan, mungkin bayi mungil telah hadir melengkapi hidupnya yang kian sempurna. Tinggal aku disini mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Siapa yang ingin gagal berumah tangga? Tidak ada. Namun andai waktu bisa diputar kembali, lalu aku diminta mengulang kembali menjadi istri Mas Andre, aku juga tidak akan bersedia.
Memang aku sekarang sendirian, tapi sama sekali tidak sedih atau merasa hidupku tidak adil. Justru Tuhan begitu berbelas kasih, membukakan jalan untukku lebih baik, hidup selayaknya manusia seutuhnya tanpa ada sandiwara.
Kini aku menjadi burung yang dengan bebas mengepakkan sayap tanpa ragu.
Tidak pernah aku bayangkan akan menghabiskan seumur hidup dengan Andre. Seumur hidup itu tidak sebentar, menyerahkan diri pada laki-laki yang tidak tahu cara memperlakukan istri bukan pilihanku. Hidup tapi mati, seperti zombie.
Mungkin memang seperti ini jalan hidupku. Kini hari-hari kuhabiskan dengan suka cita mengajar anak-anak dengan masa depan mereka. Saat bersama mereka hatiku terhibur dengan segala tingkah polah mereka yang lucu meskipun kadang juga membutuhkan kesabaran.
Aku bisa melihat cahaya dari sana, karena itu aku mengerahkan segala kemampuanku untuk memberikan yang terbaik. Tidak apa hidup seperti ini, karena cintaku sudah dibawa pergi, menjadi kenangan di akhir hidupku nanti.
Aku pikir hidupku akan begini selamanya. Sampai aku melihat dia yang tidak seharusnya aku temui. Suara ketukan pintu itu menyadarkan lamunanku. Aku segera membukanya.
Ah, rupanya ini bagian dari khayalanku. Dia tersenyum menatapku di depan pintu.
"Haris," gumamku lirih.
Ini pasti hanya fatamorgana. Aku menepuk dahi berpikir otakku mulai tidak waras. Lebih baik aku tutup saja pintu ini.
__ADS_1
"Keysha."
Suara itu. Sapaannya menyadarkan aku jika semua adalah kenyataan. Aku bergerak cepat, tidak seharusnya kami berjalan di jalan yg sama. Aku berusaha menghindar untuk menghilang darinya untuk kesekian kali. Segera aku tarik kembali pintu tapi suara itu terus mengikuti.
"Keysha ini aku! Tolong buka pintunya!"
Ahhh, suara itu nyata, ini bukan ilusi, pria itu Haris! Tapi, bagaimana bisa dia sampai di sini?
"An-Anda salah orang!" sahutku sekenanya berharap dia percaya.
"Keysha, jangan bercanda. Aku tidak akan salah orang. Aku mendapatkan alamatmu dari tempatmu bekerja."
Aku memejamkan mata, semua memang bisa saja terjadi. Namun, untuk apa lagi Haris menemuiku?
"Tidak ada alasan untukku membuka pintu, kita-"
"Aku sudah bercerai! Anak yang dikandung Diana bukan anakku!"
Kali ini mataku membulat dengan mulut yang menganga, apalagi sebenarnya yang terjadi? Tanpa kusadari gagang pintu yang kupegang mengendur, di saat yang sama terbukalah pintu itu menampakkan Haris yang langsung memelukku.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi!"
__ADS_1
Tbc.
Duh, awas kepergok Pak RT. 🙈🙈🙈