
Pov Diana
Haris pergi ke Bandung karena ada urusan meeting mendadak, jadi aku memutuskan untuk menginap di rumah Mama. Sudah lama aku tidak mengunjungi rumah orang tuaku. Kesibukanku di kantor dengan banyak agenda selalu membuat rencana menengok mama dan papa tertunda.
Wajah Mama Nani sangat cerah menyambut kedatangaku. Aku memeluknya erat.
“Loh, kok datang sendirian? Haris mana?” tanya Mama saat aku mengurai pelukan.
“Haris ada acara kantor, Ma.”
“Sabtu Minggu begini? Kok tumben?”
“Iya, dia harus menggantikan temannya yang sakit. Dia juga bilangnya mendadak sekali. Halo, Pa, papa sehat, kan?”
Laki-laki paruh baya itu memelukku erat. Aku selalu suka pelukan papa yang hangat.
“Ayo langsung ke meja makan, kebetulan papa dan mama baru saja mau makan malam.”
Aku tentu tak menolak tawaran itu. Salah satu hal yang paling aku rindukan saat pulang ke rumah mama adalah menikmati kelezatan masakannya.
“Haris Sabtu dan Minggu, kok, kerja? Kenapa kamu enggak bilang papa, biar papa jewer atasannya itu.” Aku tertawa kecil mendengar perkataan papa. Papa memang masih punya pengaruh sekuat itu meskipun sudah pensiun lima tahun lalu.
“Haris kasih tahunya juga dadakan, Pa, karena dia gantikan temannya. Ya udah enggak papa, ini juga bagus buat karir dia.”
Aku menyendok cumi saus tiram yang terlihat enak di piring, lalu menikmatinya tanpa nasi.
Kami makan malam dalam suasana yang hangat. Aku hanya dua bersaudara, adik perempuanku tinggal di kota yang berbeda. Sedangkan aku tinggal satu kota tapi berbeda daerah, butuh waktu 40 menitan untuk tiba di rumah papa dan mama.
“Kamu masih sering rutin periksa ke dokter kandungan, Di?” tanya mama.
Aku memang sudah memberitahu mama kalau kami sering periksa ke dokter kandungan. Tidak secara langsung aku mengatakan sedang ikut program kehamilan, supaya tidak menambah beban pikiran mama.
“Masih kok, Ma. Rutin sebulan sekali,” jawabku.
“Haris memang sekarang makin sibuk?” selidik Papa.
“Hmm, enggak juga, dia pulang pergi sesuai jam kerja, hanya terkadang akhir bulan saja suka lembur.”
“Kalau dia mulai nyeleneh, aneh-aneh, bilang papa aja, biar papa yang ngatasin.”
Papa memang selalu mendukungku, termasuk saat memutuskan menikah dengan Haris. Aku masih ingat saat itu Haris baru lulus kuliah, masih mencari kerja kesana kemari. Saat tahu Haris melamar di bank, papa langsung menggunakan tangan saktinya, dan hasilnya Haris diterima tanpa prosedur yang rumit.
__ADS_1
Aku yang meyakinkan Haris untuk segera menikah begitu dia lulus kuliah. Sebenarnya dia belum terlalu siap, tapi apa lagi yang dia tunggu? Kami sudah setahun berpacaran, dan terlalu banyak gadis-gadis yang menyukainya. Haris memang pemuda tampan menjadi idola di kampusnya. Ia bukan rahasia lagi. Jadi menurutku aku harus mengamankan posisi dengan menjadi istrinya.
Apalagi papa juga mendukung dengan mengatakan akan mengusahakan pekerjaan untuk Haris, meskipun saat itu dengan sopan Haris menolaknya. Dia bilang akan berusaha sendiri. Memang terkadang dia senaif itu, zaman sekarang mana ada pekerjaan tanpa koneksi?
“Kalau begitu sepertinya kamu yang harus mengurangi kesibukan, Di. Jangan teralu keras bekerja. Lagian kalian belum punya anak, dan enggak punya cicilan. Jangan ngoyo. Kamu juga harus memerhatikan kesehatanmu, terutama kesehatan reproduksi,” tutur mama.
Mama mungkin tidak tahu kalau bekerja itu bukan hanya tentang penghasilan, tapi ada juga prestise di dalamnya. Hal Itulah yang mendorongku untuk melanjutkan kuliah S2, mengambil jurusan kenotariatan.
Haris memang merelakan tabungan kami untuk kuliahku, tapi papa juga banyak membantu biaya kuliah yang tidak sedikit. Aku beruntung dilahirkan di keluarga ini. Sejak kecil aku tak pernah kekurangan apa pun, dan selalu mendapatkan apa yang aku mau.
“Iya, Ma, mama tenang aja. Diana tahu maksud mama. Pokoknya doakan semua lancar. Karena dokter bilang enggak ada masalah sama kami berdua, sama-sama sehat.”
“Papa masih kepikiran sama Haris, jadi dia sekarang sudah tidak belagu seperti dulu, kan?” tanya papa.
Aku memang pernah mengadukan Haris yang saat itu hendak menceraikanku. Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba Haris mengajak bicara serius.
“Daripada dipaksakan akan semakin menyakiti, Di. Lebih baik kita berpisah, pisah baik-baik.”
Tentu aku menolaknya mentah-mentah. Apa kata kawan-kawanku yang dulu datang ke pesta pernikahan kami yang mewah kalau baru menikah dua tahun sudah bercerai?
“Yang benar saja, Sayang! Kamu abis makan apa, sih? Salah obat? kok omonganmu ngelantur begini?”
“Diana, kita sudah tahu kalau sama-sama tidak cocok dalam banyak hal. Kalau dipaksakan bukan hanya kamu yang merasa sakit, tapi aku juga.”
Aku membentaknya karena dia sudah keterlaluan.
Aku yang mengangkatnya dari lumpur lalu menjadikannya pria mentereng dengan karir yang terus melonjak, lalu sekarang dia mau meninggalkanku? Entah di mana dia menaruh otaknya.
“Diana, aku enggak bisa hidup begini, terus-terusan dalam tekananmu. Aku juga punya mimpi yang hendak aku wujudkan, punya adik dan orang tua yang harus aku bahagiakan.”
“Keluargamu ini sekarang prioritasmu Haris! Kamu sudah menikah, jadi istrimu yang harusnya kamu utamakan. Lagian ibumu juga baik-baik saja, enggak pernah kekurangan. Setiap bulan aku selalu mengirimi mereka uang dari sebagian gajimu. Sudahlah aku sudah bertindak adil selama ini.”
Terkadang aku heran dengan pemikiran Haris. Sudah menikah tapi selalu keluarganya yang dipikirkan. Meskipun tinggal di desa, mereka mempunyai sawah yang cukup luas peninggalan bapaknya. Risma, adik perempuan satu-satunya juga kuliah sudah semester akhir, sebentar lagi wisuda, tidak perlu ia mencari alasan lagi untuk membiayai,
Seharusnya dia bersyukur, meskipun berasal dari keluarga sederhana tapi sekarang hidupnya berkecukupan, bahkan berlebih. Dia tidak pernah kekurangan apa pun. Gajinya meskipun tak seberapa selalu bisa aku kelola dengan baik. Mungkin aku satu-satunya istri yang selalu diam tak banyak protes saat menerima gaji yang terkadang hanya cukup untuk kebutuhan kami seminggu.
Aku tidak pernah mempermasalahkan soal uang, lalu dia berlagak minta cerai. Hal itulah yang membuatku marah dan mengadu kepada papa.
“Haris sekarang udah takut sama Diana, Pa. Dia selalu bilang mau kemana-mana. Mungkin dia sudah berpikir lagi, mana mungkin dia mau menceraikan istri sempurna seperti aku, iya kan?”
Papa tertawa mendengar kenarsisanku. “Papa cuma tidak suka kalau dia bertindak semaunya. Sudah betul hidupnya terjamin dengan menjadi bagian dari keluarga besar kita. Tugasnya hanya satu, menjadi suami yang baik untukmu, itu saja,” tandas papa.
__ADS_1
Aku menganggukkan kepala. Kali ini aku tidak akan mengadu ke papa bahwa kemarin saat Haris pamit mau ke Bandung kami sempat bertengkar kecil. Aku hanya mengatakan kepada Haris seharusnya dia menolak tugas itu, tapi dia tetap kekeh mau berangkat.
“Udah, kamu bolos saja, biar Papaku yang atur semua, toh kamu bisa kerja di situ karena Papa juga," saranku kepada Haris.
Dia menatapku tajam. "Bagaimana bisa kamu bilang begitu? Aku masuk ke sana karena aku lolos tes seleksi, Diana. Aku mengerahkan semua kemampuan untuk bisa di posisi sekarang ini, bukan karena Papa kamu."
Aku terkekeh, sepertinya Haris semakin keheranan. "Kamu kenapa sih? Apanya yang lucu?" desaknya.
"Kamu lha, sayang. Seharusnya aku tidak membongkarnya, tapi karena kamu ngotot mau pergi juga. Maka aku akan beberkan semuanya. Kamu, bisa diterima bekerja di sana atas rekomendasi Papa aku, aku yang meminta Papaku agar kamu lolos seleksi. Jadi, jangan terlalu berlebihan. Realitanya di dalam dunia kerja, koneksi itu diperlukan. Berterima kasihlah padaku dan Papaku," ucapanku semakin membuat Haris keki. BIarlah taka pa wajahnya sekarang memerah, mungkin malu, marah, atau keduanya
“Enggak mungkin. Waktu aku baru saja diterima bekerja di Bank terkemuka sebagai konsultan, aku langsung bilang ke kamu, kan?”
“Dan asal kamu ingat saat itu sikapku biasa saja.” Aku mencoba mengingatkannya. Haris memang sangat senang kala itu. Dia bilang tidak semua orang bisa mencapainya. Dia pasti bangga dan merasa telah berhasil menunjukkan kelebihannya. Padahal bagiku semua itu biasa saja, karena papa sudah mengaturnya.
"Jadi, semuanya berkat kamu dan Papa kamu?" Dia masih bertanya seolah tak percaya dengan apa yang aku sampaikan.
Aku mengangguk sambil tersenyum, lucu saja melihat ekspresi wajah Haris yang bagai tentara kalah perang.
“Tidak seharusnya kamu berjodoh denganku, seorang pecundang yang bagai benalu, menumpang hidup serta pekerjaan. Kamu seharusnya menikah dengan anak konglomerat hingga tidak perlu repot meminta rekomendasi ke sana ke mari. Hanya membuat malu keluarga. Tidak! Malah seharusnya kita berganti peran. Aku memakai rok lalu mengurus rumah, sementara kamu mengejar karir yang sangat membanggakan itu. Aku bukan apa-apa di matamu," ucap Haris.
Aku memicingkan mata, kenapa Haris bicara begitu?
“Loh, kok kamu malah marah? Aku hanya melakukan yang terbaik untuk kita bukankah kamu juga jadi diuntungkan,” jawabku sedikit emosi. Aku layak mendapat ucapan terima kasih bukan kalimat sampah yang kudengar barusan.
“Diuntungkan? Apa kamu tahu yang kamu lakukan itu hanya membuat harga diriku jatuh di mata keluargamu? Tanpa kamu bantu pun aku yakin aku bisa mendapat pekerjaan tersebut, kenapa kamu selalu bertindak seenaknya?” jawab Haris penuh penekanan.
“Haris, sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Aku hanya ingin kamu cepat mendapatkan pekerjaan. Apa salahnya? Toh Papa juga tidak keberatan!”
Aku masih mencoba meyakinkannya agar jangan salah paham.
“Kamu tidak akan pernah bisa mengerti, karena kamu tidak berada di posisiku. Aku lupa jika kamu tidak pernah salah, hidupmu selalu sempurna,” pungkasnya seraya pergi.
"Sayang, kamu mau ke mana? Kamu marah sama aku?" Aku meneriakinya, tapi Haris tak peduli. Tunggu, dia berbalik, pasti sekarang dia menyesali ucapannya dan ingin meminta maaf.
"Untuk kali ini, aku mohon jangan ikut campur lagi dalam pilihan hidupku. Hargai aku, Diana."
"Maksudnya?"
"Aku akan berhenti bekerja dan mendapatkan pekerjaan yang mengakui kemampuanku, jerih payahku! Bukan atas rasa kasihan dan koneksi darimu atau keluargamu!"
__ADS_1