Rahim Impian

Rahim Impian
Ibu Syok


__ADS_3

POV Haris


Pecah berkeping-keping hingga menjadi bagian-bagian terkecil, mungkin seperti itulah cara menggambarkan hatiku saat ini. Bukan hanya retak, bukan hanya sakit karena dikhianati, tapi perih karena dimanipulasi.


Aku bertahan menjadi seorang pria sejati yang tidak meninggalkan istrinya saat masih hamil, membicarakan baik-baik kalau rumah tangga ini tak bisa dilanjutkan lagi karena tak ingin Diana juga merasa sakit hati, tapi semua itu dimentahkan olehnya. Sekarang dia memberi hadiah tak terlupakan untukku. Hadiah penghianatan dengan pria yang selama ini melakukan kekerasan fisik maupun psikis kepada perempuan yang aku cintai.


Komplit sudah semua alur penderitaan, penyesalan, juga perasaan bersalah yang kini bersarang di dadaku. Aku pergi tak tentu arah. Aku sendiri tidak tahu harus ke mana membawa kaki ini melangkah. Aku tidak yakin masih ada tempat untuk bisa bernapas dengan lega setelah semua kegilaan yang dilakukan Diana.


Bagian terbaik dari semua ini adalah aku bisa memutuskan semuanya dengan jernih sekarang. Tidak ada lagi keraguan, kebimbangan, atau ingin berjalan mundur. Dengan segala ketetapan hati, sudah aku putuskan untuk meninggalkan Diana, wanita manipulatif dalam hubungan kami yang boleh dibilang sebagai toxic relationship.


Pikiranku seperti terprogram otomatis untuk melajukan mobil ini menuju sebuah rumah tua dan sederhana dengan cat yang sudah mulai mengelupas di mana-mana.


Aku memasuki halaman rumah kami, rumah penuh kenangan indah, lalu tiba-tiba aku tersadar aku sudah banyak mengabaikan keluarga ini. Rumah yang catnya memudar adalah bukti tidak adanya bakti diriku sebagai anak laki-laki. Ibu yang terjatuh di kamar mandi juga satu perwujudan ketidakpedulian yang terjadi karena ulah Diana lagi.


Hari sudah malam. Saat aku mengetuk pintu, lalu Santi membuka pintu dan melihatku dengan pandangan keheranan. Ibu yang menatapku dari ruang tengah segera menghampiri.


"Haris, ada apa Nak? Kenapa kamu datang sendiri? Mana Diana?" tanya ibu.


Aku menubruknya lalu memeluknya erat. Masih tersirat seribu tanya di mata Ibu, tapi beliau memendamnya seketika. Cukup tepukan perlahan di punggung yang mewakili dialog hati.


"Ini diminum dulu tehnya," ujar Ibu sembari meletakkan secangkir teh yang masih mengepulkan asap.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, aku segera menyeruput teh itu untuk menghangatkan badan. Ibu duduk sambil memandangku dengan tatapan penuh kekhawatiran, tapi mulut wanita mulia itu terkunci karena aku tidak mau menceritakan apa-apa. Setelah meminum teh, aku menaikkan kaki di atas kursi lalu merebahkan diri di pangkuan ibu.


"Haris mau tidur di pangkuan ibu," desisku lirih.


Dengan lembut, Ibu mengusap kepalaku, lalu kedamaian itu perlahan-lahan menelusup ke dalam dada. Usapan tangan Ibu membuat aku tenang, dan akhirnya aku tertidur malam itu setelah puluhan tahun aku kembali tidur dalam pangkuan ibu.


Keesokan harinya, saat suara ayam tetangga mulai berkokok, burung-burung mulai berkicau, dan beberapa anak kecil bermain di belakang rumah, aku terbangun. Suara-suara khas pedesaan yang aku rindukan mulai terdengar. Aku terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih lega.


"Ibu sudah bikinkan kopi untuk kamu, Haris. Semalam kamu bahkan tidak sempat makan. Ini ibu bikinkan nasi uduk kesukaan kamu."


"Iya Bu, Haris minum kopinya. Semalam memang haris tidak lapar, tapi pagi ini mencium aroma jengkol sama nasi uduk, cacing di perut sudah berontak."


Ibu tertawa lalu menyendokkan nasi uduk ke dalam piring. Aku segera duduk dan menyantap makanan yang selalu terasa enak di lidah karena ibu yang membuatnya.


Ibu menganggukkan kepala, lalu menuang teh panas lagi ke dalam gelasku. Aku segera menghabiskannya. Kenyang sekali rasanya.


"Iya, tidak apa-apa. Diana sedang hamil, jadi mungkin dia sensitif."


Mendengar nama Diana diucapkan Ibu, mendadak wajahku memanas. Seolah bisa membaca perubahan di wajahku, Ibu kembali bertanya, "Kenapa dengan Diana? Kenapa dia tidak ikut?"


Ibu bertanya dengan sangat hati-hati, seolah-olah tidak ingin menyakitiku.

__ADS_1


"Bu, Haris harus mengatakan sesuatu. Haris akan melanjutkan proses perceraian."


Ibu terdiam menatap kedua bola mataku dengan sorot mata penuh tanda tanya.


"Anak yang ada di dalam kandungan Diana itu bukan anak Haris, Bu." Aku melanjutkan penjelasan, membuat bibir ibu terbuka saking terkejutnya.


"Diana sudah selingkuh dengan seorang pria. Dia menggunakan bayi di dalam kandungannya itu untuk terus menahan Haris agar tidak menceraikannya. Tapi kali ini Haris tidak akan mundur, Bu. Haris sudah mantap untuk menceraikan Diana."


"Ohhh Tuhan!"


Ibu terlihat sangat syok mendengar kata-kataku. Bahkan wanita yang melahirkanku itu segera memegang dadanya.


"Bu, Ibu... Ibu nggak papa?" Melihat reaksi ibu yang tidak terduga, aku segera merangkulnya.


Badan Ibu dingin dan sangat lemah.


"Diana, tidak... ini tidak mungkin!" Tatapan mata ibu kosong.


"Santi... Santi, ke sini cepat, tolong, Ibu mau pingsan!" teriakku.


Tbc.

__ADS_1


Diana emang biang kerok semuanya. 🤧🤧🤧


__ADS_2