Rahim Impian

Rahim Impian
Foto Haris


__ADS_3

“Kamu nggak bilang kalau suami orang!” Ayu memekik.


Aku mengedikkan bahu. “Ini aku baru kasih tau kamu.”


Ayu menyugar rambutnya kasar, wajahnya terlihat gusar. Pasti dia mengurungkan niat untuk mendukungku setelah tahu status Haris. Tentu saja, sebagai seorang istri siapa yang rela kalau suaminya berselingkuh? Meski itu suami orang lain. Setidaknya, jiwa sesama seorang istri menentang hal itu.


“Duh … kirain aku masih single. Sebaiknya jangan diteruskan, Key!”


“Iya, aku sudah memutuskannya, kok.”


“Beneran?”


“Iya, tadi waktu di perjalanan, aku kirim pesan ke dia. Makanya nanti aku mau ganti nomor agar kami tidak saling berhubungan lagi,” jelasku membuat Ayu menghela napas lega.


Ia mengenggam tanganku sejenak. “Kamu sudah melakukan hal yang benar.”

__ADS_1


Aku tersenyum tipis. Aku senang tidak mengecewakan Ayu. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain teman-temanku. Mau mengadu pada orang tua? Mereka sudah tidak ada di dunia ini. Aku baru merasakan betapa nelangsanya hidup sendirian tanpa sanak saudara.


Saudara-saudara dari orang tuaku memang masih ada, hanya saja mereka tinggal di luar daerah, jadi cukup sulit untukku mendatangi mereka. Ditambah aku belum memiliki cukup bekal untuk bepergian jauh. Nomor yang bisa dihubungi pun aku tidak punya karena Mas Andre sempat mereset ponselku.


“Aku penasaran, kayak apa sih selingkuhanmu?” Ayu memasang wajah penasaran.


Aku terdiam, sejujurnya kami sempat berfoto bersama dan ada 1 foto yang belum aku hapus. Aku ingin menghapusnya, tapi urung. Aku masih ingin memandangnya, meski hanya sebatas gambar saja. Mencintainya dalam hati dan menyimpannya menjadi kenangan. Seharusnya aku melupakannya, tapi pasti akan sangat sulit. Pelan-pelan saja, perasaan itu akan berkurang seiring waktu.


Karena Ayu orang yang aku percaya, aku mengulurkan ponselku padanya. Di sana ada fotoku bersama Haris. Ayu menerima ponselku kemudian melebarkan mata.


Ayu tidak salah, Haris memang tampan. Karena itu istrinya secantik Diana, mereka pasangan yang sangat serasi. Aku menjadi malu sendiri menyadari diri yang tidak sebanding dengan istrinya.


“Aku bertemu dengannya saat kontrol program kehamilan,” terangku berhasil membuat Ayu berpaling dari foto Haris.


“Dia juga promil?”

__ADS_1


“Iya, dia selalu datang bersama istrinya.”


Ayu makin geleng-geleng kepala. “Kamu sudah tau siapa istrinya?”


Aku mengangguk, Ayu segera menggoyang kedua bahuku. “Terus gimana ceritanya kalian bisa selingkuh? Jelasin semuanya!” desak Ayu tidak sabar.


“Semua terjadi begitu saja, awalnya karena aku menemukan kartu karyawan Haris yang tertinggal di poli kandungan, lalu aku mengembalikannya. Dari situ kami terus berhubungan, Haris memberikan nomor ponselnya padaku.”


“Dia duluan yang kasih nomor ke kamu?”


Aku menggerakkan kepala mengiyakan pertanyaan Ayu.


Ayu menghela napas lagi, sejak tadi ia melakukan hal itu seperti orang tua renta yang memiliki penyakit TBC. Mungkin, tidak lama lagi ia akan memiliki Riwayat itu. Siapa yang tidak akan sesak napas mengetahui orang terdekatnya mempunyai masalah serumit ini? Baru mendengarkan ceritaku saja Ayu seperti orang yang ikut prustasi.


“Pria memang selalu mengawali permainan dan wanita akan disalahkan pada akhirnya. Seharusnya, aku yang lebih peka dan bisa menjadi sandaranmu, Key. Semua terjadi karena keadaan. Kamu pasti saat itu sangat putus asa dan ketika menemukan kenyamanan, kamu pun terlena. Maafkan aku ya ….”

__ADS_1


Aku mengerjap, Ayu mengutarakan penyesalannya yang membuatku terharu. Apa mungkin memang karena keadaan aku menjadi seperti ini? Atau memang aku saja yang mencari celah? Terlepas dari itu aku sangat beruntung masih memiliki Ayu yang terus menyemangatiku dengan prasangkanya yang baik, yang berpikir dalam posisku. Hal itu malah membuatku sadar akan kesalahan dan dosa yang telah kuperbuat. Semoga Tuhan masih mau memaafkan aku.


__ADS_2