
POV Andre
Sejak terakhir aku diseret pergi dari rumah Ayu, aku mulai diam-diam mengamati rumahnya dari jauh. Aku masih sangat berharap bisa bertemu dengan Keysha. Aku ingin meminta maaf dan tentu saja memperbaiki hubungan kami yang telah rusak. Baru kusadari jika aku membutuhkannya, aku sudah terbiasa dengan keberadaannya serta kebaikannya yang selalu menurut dengan apa yang aku katakan.
Keysha adalah definisi istri yang baik, dia tidak pernah macam-macam, tidak banyak maunya bahkan selalu menerima meski aku selalu menyakitinya selama ini.
Memang penyesalan selalu datang terlambat, dan aku mengalaminya sekarang setelah bertemu dengan Diana. Saat mengetahui tabiat aslinya, sungguh aku benar-benar menyia-nyiakan Keysha. Aku malah membuatnya hancur berkeping-keping. Masih segar diingatanku bayangan wajahnya yang penuh kekecewaan disertai deraian air mata. Jika aku telaah, sepertinya aku tidak pernah melihat senyuman di bibirnya saat bersamaku.
Aku mengusap cermin yang mengembun, menatap diri yang sangat berantakan. Banyak anak-anak rambut yang mulai mencuat di daerah kumis dan janggutku, suraiku pun mulai sedikit memanjang hingga hampir menutupi penglihatan. Tidak hanya itu, aku sudah absen bekerja selama seminggu, puluhan panggilan telepon dari kantor tidak aku indahkan. Aku biarkan saja ponsel itu tergeletak hingga mati karena kehabisan daya.
Peduli setan, yang saat ini aku inginkan hanya bertemu dengan Keysha.
Sebulan sudah aku ditinggal pergi, dan dalam waktu sekejab hari-hariku berubah menjadi kelam sekelam malam tanpa bintang. Keysha ibarat cahaya yang menyinari kehidupanku yang monoton, semuanya baru terasa saat ia tidak ada di sini.
__ADS_1
“Apa sebaiknya aku bercukur? Siapa tahu hari ini aku bisa bertemu dengan Keysha,” monologku sambil bercermin. Tiba-tiba suasana hatiku berubah menjadi berbunga-bunga. “Ya, aku harus tampil rapi dan tampan hingga Keysha terpesona padaku!”
Aku segera merapikan diri, memangkas bulu-bulu yang tumbuh di wajahku. Sudah tidak sabar rasanya untuk menemui istriku tercinta.
Aku bersenandung saat menyalakan alat cukur dan mengamplikasikannya ke wajahku. Baru setengah jalan, suara bel tertangkap oleh indera pendengaranku. Aku tersentak dan berpikir, apa mungkin Keysha sudah pulang?
Secepat kilat aku menyambar handuk kemudian memasangnya asal sekedar menutupi area sensitifku. Jangan sampai Keysha menunggu lama di depan pintu. Aku tersenyum riang ketika membuka pintu, tapi kemudian tertegun dengan apa yang aku lihat. Ternyata, yang datang bukanlah Keysha, melainkan seorang kurir sebuah ekspedisi berlogo burung merpati.
“Permisi, dengan Pak Andre Rinaldi?” tanya kurir itu sambil memandangku. Aku segera menyadari jika aku hanya mengenakan sehelai handuk.
“Ini paket untuk Anda, tolong tanda tangannya,” pinta sang kurir setelah memberikan aku sebuah amplop. Aku mengerutkan kening.
“Dari mana ini?”
__ADS_1
“Ada alamat pengirimnya di amplop,” jelas sang kurir.
Aku mengamati amplop tersebut dan membaca alamat asal pengirim, seketika aku terbelalak, tubuhku gemetaran dengan bulir keringat sebesar biji beras menguar dari pelipisku. Buru-buru aku membuka amplop, memastikan kembali akan pikiran terburukku. Sang kurir mengingatkan aku untuk tanda tangan terlebih dahulu, tapi aku tidak mempedulikannya.
“Pak, tolong tanda tangan dulu sebelum membuka paket!”
Bagai disambar petir di siang bolong, aku mendapatkan kenyataan yang setara dengan sebuah vonis hukuman mati. Amplop itu berisikan surat gugatan perceraian dari Keysha. “Tidak! Ini Tidak mungkin, Anda pasti salah alamat!” aku meremas surat itu dan mencengkeram kerah si kurir.
“Saya sudah memastikannya, barusan Bapak sendiri bilang bahwa Anda yang bernama Andre Rinaldi,” ucap kurir itu meyakinkan aku.
Aku menggeleng keras dan melepas cengkeraman itu. “Tidak … Keysha tidak mungkin melakukan ini. Tidak!” aku tidak pernah percaya dan tidak akan pernah menerimanya.
Tbc.
__ADS_1
Kira-kira Andre bakal ngapain neh?
Jangan lupa, rate, vote, like dan komennya yach, diusahakan nanti siang up lagi, Enjoy!