Rahim Impian

Rahim Impian
Diana tidak menyerah


__ADS_3

POV Diana


Papa menyimak ucapanku yang meminta hal yang bisa dibilang cukup ekstrem. Bagaimana tidak? Aku meminta agar Haris di blacklist dalam daftar pelamar kerja hingga pria itu tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan baru. Tentu saja tujuanku agar Haris tidak bisa berkutik dan dengan begitu ia akan kembali padaku. Setidaknya aku akan menerimanya setelah ia memohon di bawah kakiku.


Sebelum menjawab, Papa tampak menarik napas panjang.


“Papa akan bertanya balik, jika Papa melakukan apa yang kamu inginkan, apa kamu akan benar-benar melepaskan Haris?”


Pertanyaan balik Papa membuatku terhenyak. Netraku melebar sambil mengerutkan kening. “Maksudnya?” aku benar-benar bingung.

__ADS_1


“Kamu jelas mengerti apa yang Papa maksud. Papa akan mengabulkan permohonanmu asal kamu benar-benar meninggalkan Haris.”


“PAPA!”


“Kalau begitu Papa tidak bisa menuruti apa maumu. Sudah cukup Papa mengikuti keinginanmu selama ini, dari mulai meminta persetujuan pernikahan yang sebenarnya Papa kurang berkenan, memberikannya pekerjaan sampai masalah menafkahi orang tuanya di kampung. Masih banyak pria yang lebih baik bahkan memiliki bibit, bebet, dan bobot yang mumpuni. Namun, kamu malah memilih dia. Kamu terpesona dengan penampilan saja, dan sekarang dia berani berselingkuh. Papa sampai heran, bagaimana bisa kamu sebodoh ini?!”


Aku gelagapan, Haris tidak sepecundang itu. Dia bisa mencari pekerjaan dengan kemampuannya sendiri. Aku hanya ingin menjadikan hal itu menjadi sebuah hutang budi dia padaku dan juga aku ingin terlihat jika aku sangat berwelas asih sebagai seorang menantu di mata orang tuaku, tapi kenapa menjadi seperti ini? Haris malah berani berselingkuh dariku. Kenapa semuanya tidak berjalan sesuai yang aku mau?!


“Ini semakin tidak masuk akal. Papa sama sekali tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran kamu.”

__ADS_1


“Pa, please … tolong aku. Aku tidak mau kehilangan Haris,” aku mengiba dengan derai air mata. Melihat aku yang sangat sedih, bukannya membuat Papa luluh. Ternyata pria yang ada andil dalam melahirkan aku ke dunia ini malah terlihat murka.


“Kamu sudah tidak rasional Diana, hal yang memang seharusnya terjadi adalah perpisahan. Dia yang salah, mengapa kamu yang merengek seperti bayi? Sudah! Jangan bahas pria sialan itu lagi!” hardik Papa lalu berlalu meninggalkan aku seorang diri.


“Pa! Bantu aku! Papa!” aku berseru memanggil Papa yang tidak mengindahkanku.


Aku mulai ketakutan, aku tidak mau kehilangan Haris. Susah payah aku berhasil memilikinya dengan sebuah ikatan suci, masa sekarang memutuskan begitu saja. Aku harus mencari cara agar Haris bisa bersamaku lagi, agar pria itu kembali terikat dan tidak bisa lepas.


***

__ADS_1


Keesokan harinya aku sudah keluar dari rumah sakit, aku terus menghubungi Haris yang tidak kunjung ia terima. Semua teleponku diabaikan, sms pun tidak dibalas. Bahkan dibaca juga tidak.


Aku semakin prustasi, padahal baru sehari tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu. Aku memandang foto pernikahan kami yang ada di ponselku. Moment itu terlihat begitu sempurna. Hal yang selayaknya aku dapatkan. Pernikahan tanpa cacat dengan pengantin pria idaman. Haris, hanya milikku!


__ADS_2