
POV Diana
Hampir sebulan aku mencari keberadaan Haris, pria yang masih berstatus suamiku itu. Pria yang ingin lepas dariku demi seorang wanita kumal. Aku geram dan merasa dipermalukan. Apa bagusnya wanita itu di bandingkan aku? Haris seperti buta. Aku tidak akan rela, Haris hanya milikku.
Beberapa hari yang lalu aku sempat bersenang-senang, bersama suami wanita kumal itu. Lumayan, untuk mengikis sesak di dadaku. Apa jadinya jika dia tahu suaminya telah tidur denganku? Hahaha, aku ingin sekali melihat rautnya. Dia tidak akan mendapatkan apa pun!”
Tidak Haris, tidak juga Andre!
Dia pasti tidak akan mau kembali pada pria itu setelah tau apa yang sebenarnya. Dua pria itu berakhir di bawah kakiku.
Untuk saat ini yang terpenting aku menemukan Haris dulu. Masalah sundal itu, aku akan mengurusnya.
“Apa kamu tidak tahu Haris di mana?” tanyaku lewat telepon pada seseorang. Aku menghubungi beberapa teman suamiku.
[Diana, kamu ‘kan istrinya. Kenapa tidak tahu keberadaan suami sendiri?]
Aku memutar bola mata malas. “Sudah, jangan banyak tanya! Cepat beritahu aku!” gertakku kesal.
[Sabar Diana, sebentar. Sepertinya kemarin aku mendengar kabar jika dia meminjam mobil Hendra yang dipakai untuk taxi online.]
__ADS_1
“Haris menjadi driver taxi online? Jangan bercanda!”
[Memangnya ada masalah dengan driver taxi online? Diana, jangan menganggap remeh pekerjaan donk. Aku juga pernah jadi driver taxi online!]
Aku menahan tawa, aku lupa jika teman Haris tidak semua dari kalangan atas. Sejak bekerja di perusahaan pilihan Papaku saja dia menjadi terangkat.
“Maaf, bukan maksudku meremehkan, hanya saja … diakan bisa bekerja yang lain selain menjadi driver,” ucapku meredakan emosi teman Haris itu.
[Mana kutahu, kamu ‘kan istrinya. Aneh sekali tidak tahu pekerjaan suami!]
“Ok, ok. Jangan marah, aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung. Aku benar-benar butuh bantuanmu. Kami sedang ada sedikit masalah, dan aku ingin memperbaikinya, jadi … tolong ya!”
“Halo?”
[Dia biasa menarik orderan di daerah pondok indah, kamu stay saja di sana barangkali bisa bertemu dia.]
“Oh, iya! Makasih ya, aku berhutang banyak denganmu.”
[Sama-sama, mudah-mudahan kalian baikan kembali,]
__ADS_1
“Pasti!”
Aku menutup panggilan dan segera menuju tempat suamiku menarik penumpang. Haris pria yang supel, dia memiliki banyak teman. Tidak heran, sepertinya dia bisa bertahan di luar sana tanpa bantuanku. Dan itu mengusikku. Aku mengetatkan genggaman pada kemudi.
“Aku datang … sayang,” gumamku menyeringai.
***
“Sial, mana sih driver Hendra?”
Aku menggagalkan pesanan taxi online berkali-kali karena tidak mendapatkan driver yang aku inginkan, yaitu Haris. Aku kembali meminta petunjuk pada teman Haris mengenai merk mobil dan warnanya, sampai plat nomor yang dipakai. Hari ini juga kau harus bertemu dengannya. Sudah hampir 2 jam aku berdiri seperti gelandangan di pinggir jalan mencari keberadaan suamiku itu. Tidak lama aku mendapatkan notif driver baru, aku pun berbinar melihat nama yang tertera. Nama yang sama dengan plat nomor yang aku kenal. “Kena kau, Haris!”
Aku bersiap ketika sebuah mobil avanza veloz menepi, aku sengaja menggunakan masker serta kacamata. Pintu pun terbuka, menampakkan sosok yang aku rindukan beberapa pekan ini. Jantungku berdebar ketika suaranya menyapaku ramah.
“Selamat siang, mau diantar ke -”
“Apa kabar, suamiku?”
“Di-Diana?!”
__ADS_1
Ekspresi terkejutnya menjadi kesenangan untukku. Aku sangat bahagia.