
POV Diana
Sejak kepergian Haris, apartemen yang aku tinggali terasa semakin dingin. Suamiku yang begitu aku cintai tega berkhianat dan memilih wanita kumal yang bahkan tidak ada seujung kukupun jika di bandingkan denganku. Sampai saat ini aku masih terheran-heran, mengapa Haris bisa menyukai wanita murahan itu? Pasti ada yang tidak beres, apa jangan-jangan Haris diguna-guna?
Cih, seorang penggoda pasti menggunakan berbagai cara yang licik untuk memangsa pria-pria macam Haris. Sekelebat bayangan Haris dan Keysha yang bercumbu mesra terlintas di pikiran membuatku semakin geram dan prustasi. Aku melempar apa pun yang ada di dekatku sebagai pelampiasan kekesalan.
BRUK, PRAK! PRANK!!!
“Sialan, dasar wanita busuk! Aku bersumpah, tidak akan membiarkanmu hidup tenang bersama Haris, Haris hanya milikku! Dia suamiku, aaarrrggg!!!”
Berbagai vas, foto dan pajangan di ruang tamu berserakan, semuanya hancur berkeping-keping seperti hatiku saat ini.
“Lihat saja, bahkan dengan cara kotor pun, pernikahan ini tidak boleh hancur!” ucapku penuh tekad. Aku mengusap kasar jejak air mata di pipi lalu mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang yang setidaknya mampu mengurangi rasa putus asa ini.
Tut, tut, tut, klik!
[Halo?]
“Ini aku, Diana.”
[Diana? Ada apa? Kita belum lama berpisah, apa kamu merindukanku?]
“Ya, sepertinya begitu. Aku butuh seseorang yang bisa menghilangkan penatku, bagaimana?”
__ADS_1
[Aku akan segera ke sana,]
“Terima kasih,” ucapku sambil tersenyum. Aku pun segera memutus panggilan.
Aku pergi ke walk in closet memilih beberapa gaun tidur yang menjadi koleksiku. Gaun yang aku gunakan ketika melayani Haris, sayangnya pria itu seperti tidak begitu berminat. Aku memutar tubuh berkali-kali di depan cermin. Aku merasa tidak ada yang kurang, dadaku berisi, dengan pinggang ramping. Kulitku pun mulus tanpa cela, aku pun terlihat menggairahkan, tapi kenapa?
Ting, Tong!
Suara bel mengalihkanku dari cermin, ternyata Andre sudah sampai apartemen.
“Hm, cepat juga,” monologku sambil melangkah menuju pintu.
Aku menyambut pria itu dengan senyum dan tentunya gaun malam yang sangat minim. Aku bisa melihat lehernya yang menelan saliva. Aku sangat suka saat seseorang menatap takjub padaku, memujaku seolah aku yang terbaik.
“Gaunmu ….”
“Bagaimana? Apa bagus?”
“Ba-bagus, sangat cocok denganmu,” ucapnya gugup.
“Baiklah, sebaiknya kamu memeriksanya lebih detail agar tau seberapa bagus gaun ini,” aku meraih tangannya dan menarik tubuhnya ke dalam apartemen. Kami pun tidak menyiakan waktu meski Andre sempat terkejut dengan keadaan ruang tamuku yang berantakan.
“Apa terjadi sesuatu?”
__ADS_1
“Tidak, hanya tersenggol. Sudah, jangan dihiraukan, lebih baik kita ke kamar!”
Aku sudah tidak sabar, antara nafsu, kesal, kecewa menyatu jadi satu. Aku melucuti pakaian Andre lebih dulu sampai pria itu terheran-heran. Aku mendorongnya ke ranjang.
“Biarkan aku memimpin!”
Kegiatan panas pun terjadi, aku begitu menikmatinya. Bahkan aku membayangkan wajah Andre menjadi wajah Haris, membuatku semakin bersemangat. Hingga di ujung puncak aku memintanya untuk tidak mengeluarkannya di luar.
“Di dalam saja,” bisikku parau.
“Apa kau serius?”
“Ya! Tentu saja!”
Andre menuruti semua keinginanku, hingga puncak kenikmatan kuraih aku menjerit menyebut nama Haris.
“HARIS, OH!”
Andre terdiam, aku tersenyum melihat ekspresinya yang berubah masam. Aku segera bangkit dan berniat membersihkan diri.
“Apa kamu sengaja?” tanyanya dengan nada datar. Aku tau dia marah, tapi aku sama sekali tidak peduli. Toh, dia sendiri yang bilang semua dilakukan atas sebuah pembalasan. Lagi pula, Andre hanya tempat pelampiasan, apa dia mengira jika dirinya sebegitu berarti?
“Mungkin karena aku terbiasa menyebut namanya, jadi jangan marah.”
__ADS_1