Rahim Impian

Rahim Impian
Pertemuan tidak terduga


__ADS_3

POV Diana


"Ibuku hampir mati!"


Teriakan Haris cukup keras terdengar di ponsel, hingga aku terpaksa sedikit menjauhkannya dari telinga. Entah kenapa tiba-tiba suamiku itu marah-marah.


Dia bilang ibunya hampir meninggal dan menyalahkan aku karena saat pesta baby shower aku sempat mematikan panggilan masuk dari Santi.


"Apa-apaan kamu ini? Mematikan ponselku tanpa izin, sama sekali nggak ada sopan-santunnya. Dan kamu juga nggak pernah bilang sampai sekarang, kalau Santi menelepon. Kamu sudah keterlaluan Diana!"


Wajarlah kalau aku melakukan itu. Acara pesta mahal yang sudah disusun Papa tidak mungkin harus terganggu oleh rengekan Santi. Memang mertuaku itu sudah berumur, jadi wajar saja kalau sedikit-sedikit dia harus ke rumah sakit. Itu bukan satu hal besar. Sampai sekarang dia masih hidup, artinya sakitnya tidak berbahaya. Hmm ... pastilah kalau dia mati, Haris sudah pasti tidak akan mengampuniku.


"Kamu dengar aku bicara?" ulang Haris dengan nada meninggi.


"Pulang sekarang atau aku akan menyeret kamu, Diana!"


Ucapan Haris benar-benar kasar. Selama ini dia jarang sekali mengucapkan kata-kata kasar khas laki-laki. Haris itu pria yang lembut, sopan dan selalu menjaga perasaanku meskipun dia tidak suka. Haris lebih sering mengabaikan egonya sendiri dan selalu menuruti apa yang aku mau.


Kalau malam ini dia marah, mungkin memang dia mengganggap aku bersalah. Aku sendiri tidak paham di mana salahku. Bagiku menyelamatkan acara mahal ini lebih penting dibanding mengangkat telepon cengeng dari Santi yang tidak tahu waktu.

__ADS_1


"Diana, ayo dong, gabung sini. Buruan, kita mau bikin arisan berlian kamu pasti ikut, kan?"


Suara Rima sedikit mengganggu konsentrasi dari bentakan Haris.


"Iya-iya aku pulang sekarang. Sebentar lagi aku pasti datang," bisikku ditelepon kepada Haris.


Aku tidak mau teman-temanku sampai mendengar kemarahannya, mereka pasti senang kalau aku mendapat masalah.


"Memangnya masih kurang member untuk ikut arisan berlian?" tanyaku seraya memasukkan ponsel ke dalam tas.


"Iya, masih kurang dua orang lagi. Rencananya Tita juga mau gabung. Aku pikir kamu pasti mau lah ikutan juga. Tiap bulan arisannya, dan kita akan tentukan lokasinya berbeda-beda, dengan dress code yang pastinya keren juga tiap bulan."


"Wow menarik, sih!" kataku sambil mengangkat senyum.


"Ya udah aku daftar, tapi aku nggak bisa kalau sekarang harus kumpul lebih lama sama kalian."


"Wah nggak ada kamu nggak seru, Diana, ayo dong, udah lama loh kita nggak ngumpul. Apalagi nanti kalau kamu udah punya baby, makin tambah susah keluar dari rumah, mesti bawa-bawa perlengkapan baby yang segambreng," komentar Siska yang sudah punya anak balita.


"Aku pengen, sih, ngumpul bareng kalian terus kayak gini lebih lama, cuma ya gimana lagi, namanya juga punya suami dan suamiku udah pulang karena dia habis lembur, jadi mau nggak mau aku harus pulang," kataku bersikukuh.

__ADS_1


"Yah, kamu biasanya nggak peduli juga Haris udah pulang."


"Udah, pokoknya kalian have fun, kalau ada apa-apa, biasa dong kita bahas di grup aja, oke? Bye semua!"


Dengan cepat aku meraih paper bag yang tadi sempat aku beli sebelum acara ini dimulai. Kebetulan memang acaranya di mall, di sebuah restoran ternama.


Sambil menunggu teman-temanku datang, aku menyempatkan diri mencari baju-baju untuk baby newborn. Dan ternyata baju-baju baby itu lucu-lucu banget. Aku kalap mata nggak terasa ada tujuh paper bag besar yang harus aku bawa. Ini cukup merepotkan, sekaligus menyenangkan.


Sebenarnya aku bisa belanja barang-barang kayak gini dianterin sama Haris, tapi namanya juga kalap mata. Nanti aku pasti akan mengagendakan acara belanja khusus dengan suamiku itu. Sekarang secepatnya aku harus pulang supaya Haris tidak semakin marah.


"Aduh ribet juga bawa paper bag banyak ini," gumamku sambil membetulkan syal yang aku pakai. Malam ini cukup dingin, hingga tak sengaja tiba-tiba aku menabrak seseorang.


Tentu saja paperbag yang ada di tanganku sempat berjatuhan.


"Oh maaf," ucapku pada seorang pria yang kemudian membuka topinya.


Ya Tuhan pria ini! Sambil mengambil paperbag yang terjatuh aku segera berlari meninggalkan pria yang tak asing lagi itu.


"Diana tunggu dulu! Diana, kamu hamil?" teriak suara itu sambil berusaha mengejarku.

__ADS_1


Tidak! Jangan sekarang! Aku tidak mau bertemu Andre!


Tbc.


__ADS_2