Rahim Impian

Rahim Impian
Tipu daya Diana


__ADS_3

POV Haris


Tubuhku membeku. Aku mematung, berdiri mengamati dua manusia yang sedang bercakap-cakap di depan sana. Dua manusia tak tahu malu yang telah menempuh segala cara untuk meraih keinginan mereka masing-masing.


Aku diam sambil berpikir, apa yang harus aku lakukan sekarang? Mendekat lalu mendengar semua pembicaraan itu dengan sangat gamblang membuatku seperti orang gila.


Aku nyaris jatuh terduduk. Jadi rupanya selama ini aku telah dibohongi oleh Diana. Anak yang berada di dalam kandungannya bukan anakku, tapi dia memanfaatkannya untuk terus mengikatku supaya tetap berada di sisinya.


Pada akhirnya memang aku tak sanggup lagi menopang tubuh ini. Tubuhku jatuh melorot ke tanah. Aku hancur berkeping-keping. Dengan tenaga yang tersisa, aku bertumpu pada pilar besar, lalu mengeluarkan ponsel, dan mulai merekam pembicaraan mereka.


"Sudah aku bilang jangan temui aku lagi, Andre! Haris bisa saja memergoki kita!" teriak Diana.


Aku hanya tersenyum miring dan miris. Ucapan istriku itu benar-benar di luar dugaan. Dia sungguh dengan sadar mencoba memperdaya aku.


"Aku butuh kepastian, anak yang kamu kandung itu anakku! Katakan yang sebenarnya atau aku bongkar semuanya ini di hadapan Haris!"


Terdengar suara Andre mengintimidasi Diana. Pria itu pasti penasaran. Tidak mungkin dia menanyakan bayi yang berada di dalam kandungan Diana kalau dia tidak pernah menanam benih di sana.


Kenyataan inilah yang membuat aku muak sekaligus hancur. Aku pernah berpikir mencintai Keysha adalah kesalahan terbesar. Aku bahkan belum pernah tidur dengan Keysha, tapi Diana begitu berani melakukan hal tercela itu dengan Andre. Dan ini sungguh di luar dugaanku.

__ADS_1


"Katakan sekarang atau aku yang akan mengatakan kepada Haris!"


"Jangan macam-macam kamu, Andre! Anak ini bukan anakmu! Anak ini adalah anak Haris!" Diana masih menyembunyikan kebenaran.


"Aku bilang ingin bicara baik-baik dengan kamu, Diana. Aku sudah mendapatkan data-datanya dari perawat. Kamu tidak bisa mengelak lagi, jadi lebih baik sekarang kamu mengakui semuanya di hadapanku atau aku yang akan bicara terus terang pada Haris, kalau kita pernah tidur bersama dan anak yang kamu kandung itu bukan anak Haris!"


"Tutup mulut kamu, Andre, jangan katakan apa pun pada Haris. Iya, anak ini anakmu, tapi demi aku, tolong simpan rahasia ini. Demi anak ini. Aku akan merawat anak ini dengan baik. Tolong, Andre." Kini Diana memohon.


Tanganku nyaris tak kuat memegang ponsel yang aku gunakan untuk merekam percakapan mereka berdua.


Membayangkan Diana sudah tidur dengan laki-laki lain, sudah membuatku ingin muntah.


'Haris, kasihan sekali kamu,' aku meratapi nasibku sendiri.


Jika ada pria yang patut dikasihani sekarang, itu adalah aku. Tak ada alasan untuk tidak menertawakan diriku sendiri.


Bagaimana jadinya kalau aku merawat anak orang lain, anak Andre? Gara-gara masalah ini aku juga hampir kehilangan ibuku. Lalu aku merayakan pesta yang meriah atas kehadiran anak hasil perselingkuhan Diana dengan Andre? Pria brengsek itu sungguh tidak tahu diuntung!


Aku memukul kepala, mengacak-acak rambut dengan geraman tertahan. Akhirnya, memang aku hanya bisa tertawa sendiri menyaksikan kebodohan yang bertubi-tubi aku lakukan. Bahkan cintaku pada Keysha sudah aku relakan pergi, terbang dan menghilang.

__ADS_1


Aku tidak mengizinkan diri ini berbahagia demi Diana, tapi wanita itu justru menyumbang penderitaan terbesar untukku.


Kalau saja aku tahu hal ini sejak awal, aku pasti tidak akan kehilangan Keisya. Semua ini karena tipu muslihat Diana! Memang, setelah aku pikir-pikir, Diana itu sangat cocok untuk Andre. Jadi kenapa tidak aku biarkan keduanya bersatu? Perlahan, otakku menyala.


Aku segera bangkit. Diana masih berteriak-teriak seperti orang gila. Begitupun juga dengan Andre. Mereka saling menyalahkan, saling menuduh, dan saling mengancam. Aku sudah tidak tertarik lagi dengan akhir pembicaraan keduanya. Bukti yang aku butuhkan sudah lebih dari cukup.


Aku segera menyelinap menuju ke tempat parkir lalu memacu mobilku menuju ke apartemen. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk pergi dari tempat yang lebih mirip penjara ini.


Aku kemasi semua barang-barang, tak ada yang aku tinggalkan. Aku ingin mengakhiri semuanya, sudah tidak ada alasan lagi aku untuk bertahan di sini.


"Semua sudah usai, Diana," gumamku setelah memandang sekali lagi apartemen tempat aku selama ini menumpang hidup. Aku segera pergi meninggalkan apartemen itu.


Tak lama kemudian, ponselku berbunyi. Diana menelepon. Pandanganku lurus ke depan, tapi aku masih bisa menerima panggilan Diana.


"Halo, sayang? Kamu ada di mana sekarang?" tanya Diana dengan suara cemas.


"Jangan pernah hubungi aku lagi, dan semoga kamu bahagia dengan Andre. Gugatan cerai akan aku layangkan kembali. Mulai hari ini, kita tidak punya hubungan apa pun lagi!"


Tbc.

__ADS_1


Lo gue ... End!


__ADS_2