Rahim Impian

Rahim Impian
Dimana Haris?


__ADS_3

Sejak hari itu aku selalu memasak untuk Haris, dari mulai sarapan, makan siang hingga makan malam. Aku sendiri sama sekali tidak keberatan. Anggap saja ini sebagai balasan kebaikan yang bisa aku lakukan untuknya.


“Ini bekal untuk makan siangnya,” ucapku memberikan sebuah kotak bekal. Aku memberikannya di dalam mobil.


Haris tersenyum senang, wajahnya yang berbinar menjadi makananku sehari-hari. Hal tersebut memberikan energi positif padaku. Membuatku ikut bahagia.


“Makasih, Key.” Haris menatap kotak itu sejenak. “Apa kamu tidak kerepotan membuatnya setiap hari untukku?” tanyanya.


“Tidak, aku membuatnya sekalian untukku makan siang. Jadi tidak merepotkan,” ujarku agar dia tidak merasa sungkan.


Haris mengangguk. “Iya, kamu juga harus banyak makan. Pipimu mulai tirus.” pria itu mengusap pipiku lembut. Sentuhannya membuatku tersentak, aku memalingkan muka karena malu.


“Aku pasti banyak makan, tenang saja!”


Aku mendengar kekehan darinya, tawa kecil itu mengalun merdu. Aku sampai tidak jemu memandang rupa yang Tuhan pahat begitu sempurna. Sampai sekarang aku seperti sedang bermimpi bisa berada di sini dengannya, tertawa lepas bersama. Sebuah perasaan bahagia yang tidak pernah aku dapat, hingga kadang membuatku takut kehilangan. Tiba-tiba hatiku berdenyut nyeri.


Deg!


“Key? Kamu kenapa?”


Haris mengibaskan tangannya memecah lamunanku akan segala kemungkinan. Ya Tuhan, aku tidak ingin kehilangan pria ini. Namun, jika takdir kami tidak bersama apa aku bisa menerimanya?


“Key?”


“Keysha!”


“Ah, maaf aku melamun!” aku menunduk menutupi kegelisahan hati yang begitu nyeri.

__ADS_1


Haris menarik daguku agar menatapnya. “Kamu memikirkan apa? Barusan sebentar tertawa sekarang sudah muram, ada apa Key?”


Aku memindai kembali paras Haris, menyelami telaga hitam nan menyejukkan itu. Aku ingin menyimpannya sebagai memori di hati. Bersama atau tidaknya kami nanti, toh aku bisa mengenangnya. Ah, lagi-lagi aku berspekulasi. Aku tersiksa selama status kami masih menggantung seperti ini.


“Keysha, kamu tidak menjawab. Jangan buat aku khawatir.”


Tidak, aku sama sekali tidak ingin membuat Haris khawatir, tapi entah mengapa perasaan tidak enak ini tersirat secara mendadak.


Aku mengulum senyum tipis. “Sepertinya aku tidak enak badan. Kemarin aku begadang karena membuat rencana pembelajaran.”


Pria itu menghela napas panjang kemudian memelukku. “Key, jaga kesehatanmu. Jangan memforsil diri. Aku tidak mau kamu sampai sakit.”


Aku memejamkan mata meresapi kehangatan pelukan Haris. Aku mengusap punggungnya lembut. “Iya, aku tidak akan sakit. Aku akan jaga diriku baik-baik!”


***


"Aku akan menjemputmu, kebetulan pekerjaanku hari ini tidak banyak," terang Haris. Pria itu mengecup punggung tanganku mesra. Aku mengangguk dengan pipi merona.


Mobil Haris pun berlalu setelah menuruniku di parkiran tempat aku mengajar. Saat memasuki gedung banyak rekanku yang menyambut dengan sapaan hangat.


"Pagi, Bu Keysha!"


"Pagi, Bu Ratna," sahutku ramah.


“Bu Keysha ada jam untuk kelas berapa?”


“Saya ada jadwal mengajar di kelas III.”

__ADS_1


“Owh, kebetulan saya di kelas IV, mari kita ke sana bersama!” tawarnya padaku.


Kami pun berjalan beriringan menuju kelas. Diam-diam Bu Ratna memperhatikan diriku. Aku bisa melihat dari ekor matanya.


“Bu, Keysha … yang selalu mengantar itu kekasih Ibu, ya?”


Saat ditanya seperti itu lidahku mendadak kelu. Apa jawaban yang pantas untuk hubungan kami? Hubungan terlarang yang pastinya akan dibenci oleh banyak orang. Cap sebagai pelakor tersemat paten padaku karena status Haris yang masih berstatus suami orang. Tidak hanya itu, statusku sebagai seorang istri pun menambah buruk situasi yang ada. Aku menoleh pada Bu Ratna, jika ia mengetahui hal yang sebenarnya pasti dia tidak akan sudi mengenalku lagi.


Aku menggigit bibirku sebelum hendak menjawab.


“Dia .…”


Teeettt!


“Wah, belnya sudah berbunyi. Ayo, cepat masuk Bu! Nanti anak-anak berhamburan mencari kita, bisa gawat kalau sampai ketahuan Bu Rosi!” Bu Ratna melangkah lebih dulu meninggalkanku.


Aku tertegun, terdiam melihat Bu Ratna semakin menjauh. Padahal sedikit lagi aku akan membuka aibku, tapi ternyata semesta menahanku. Haruskah aku merasa bersyukur?


***


“Bu Key, kita duluan ya!” ucap para rekan kerjaku. Jam pulang sudah tiba. Tinggal aku seorang diri yang menunggu Haris datang menjemput.


“Iya, hati-hati di jalan!” seruku sambil melambaikan tangan. Aku melirik arlojiku yang menunjukkan pulu 18.30.


Tidak biasanya Haris terlambat, aku mengecek ponsel. Di sana juga tidak ada pesan dari Haris. Aku mencoba menghubunginya.


[Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif at-]

__ADS_1


Aku menekan ikon merah menutup panggilan. Ponselnya tidak aktif, apa mungkin dia sedang sibuk dan ada pekerjaan mendadak? Masalahnya, haruskah aku terus menunggu? Jika aku pulang, nanti Haris ke sini aku sudah tidak ada. Cukup lama aku menimbang hingga tanpa sadar langit semakin gelap. Arloji pun telah menunjukkan pukul 20.00.


“Sebaiknya aku pulang, mungkin Haris sedang banyak pekerjaan,” monologku menahan kekhawatiran. “Atau bisa jadi dia sudah sampai rumah?” tebakku lagi. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


__ADS_2