
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Apa karena aku begitu menikmati hidupku yang sekarang? Dari rasa cinta mendalam yang terjaga antara aku dan Haris, kami hampir tidak pernah bertengkar. Kehidupan kami berjalan sangat tenang tanpa ada riak gelombang yang berarti. Sempurna, mungkin bisa dibilang begitu. Sempurna versiku yang pernah sekian lama terkurung dalam neraka dunia.
Lima tahun sudah aku hidup bersama dengan Haris. Kebahagiaan ini semakin tergenapi dengan Tuhan menitipkan kami hal yang paling aku dambakan di dunia ini. Seonggok janin tumbuh di rahimku beberapa bulan setelah pernikahan dilangsungkan, lengkap sudah kodratku sebagai wanita. Menjadi seorang istri dan seorang ibu.
Kami bahagia bukan kepalang, dengan kehadiran bayi mungil yang membuat seisi rumah gemas dan jatuh sayang. Setiap hari aku mengucapkan syukur tidak terkira akan karunia yang didapat. Semua rasa sakit di masa lalu seolah tidak berbekas, teralihkan oleh kehadiran sang pelipur lara di keluarga kami.
Bayiku berjenis kelamin laki-laki, namanya Erick, tampan seperti Papanya. Kini ia sudah tumbuh besar dan siap untuk bersosialisasi di Taman Kanak-kanak. Rambut lurus Erick menurun dari Haris, sementara kulit dan hidung lancipnya adalah milikku. Erick tumbuh sehat dan sangat aktif. Terkadang aku kewalahan menghadapi semua tingkah polahnya.
"Mama, kapan Eik sekolah? Kata mama sebentar lagi, tapi kok lama nungguinnya, Eik capek!"
Wajah lucu dan montok itu sangat menggemaskan membuatku menjawil pipinya yang gemoy. Dia belum fasih mengucapkan R meskipun Haris selalu mengajarinya.
"Nanti hari Senin, sayang. Sebelum sekolah kita harus beli perlengkapan sekolah Erick dulu. Ada tas, sepatu, topi, buku, pokoknya nanti Erick kalau sekolah harus kuat bawa buku yang banyak." Aku mengusap kepalanya. Bocah lincah itu segera berlarian di ruang tengah bersama mobil-mobilannya.
"Iya, Mama. Eik suka minum susu, jadi pasti tulangnya kuat. Iya 'kan Nek?" Ibu yang sedang melintas menganggukkan kepalanya.
"Iya, Erick pintar minum susu terus, biar kuat juga gendong nenek nanti."
"Nenek jangan digendong, berat!"
Jawaban itu membuat kami terkekeh bersama-sama. Erick selalu menjadi pusat perhatian di rumah ini.
__ADS_1
Hari ini kami memutuskan untuk membeli perlengkapan Erick masuk TK nanti. Kami mendatangi sebuah mall di tengah kota. Usai memilih beberapa barang, aku segera menuju ke kasir. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan orang yg tidak pernah aku bayangkan. Sedikit ragu-ragu, aku menelisik wajahnya. Ya Tuhan, pandanganku benar!
Mas Andre, aku bertemu dengannya saat berada di kasir. Pria itu terlihat lebih kurus dari yang terakhir kulihat di Pengadilan. Tampak gurat lelah di wajahnya yang membuatnya terlihat lebih tua dari usianya. Rambutnya acak-acakan, bajunya juga tak rapi. Ini bukan seperti Mas Andre yang kukenal dulu, yang selalu memerhatikan penampilan, wangi dan rapi.
Kami saling membisu sesaat hanya saling melihat tanpa berkata apa-apa, hingga sebuah lengkingan suara mengalihkan kami.
"Lama amat sih, bayarnya! Bukannya kamu udah dari tadi ngantri di sini? Jadi laki nggak guna banget, disuruh bayar belanjaan aja lama! Apa-apa mesti lemot!"
Suara dari sosok yang tidak asing untukku. Diana, wanita yang kini menjadi pasangan hidup Mas Andre tampak berjalan dengan langkah berat sambil menyeret seorang bocah perempuan.
"Kamu tahu nggak, aku capek dari tadi jagain Calista yang liar lari kesana kemari. Kamu bukannya cepet-cepet datang, malah di sini lama. Kalau emang antriannya panjang, pindah dong ke kasir lain! Jangan diam di sini. Kalau punya otak itu buat mikir, bukan cuma buat main game terus!"
Diana memaki Mas Andre dengan kata-kata kasar dan menunjuk-nunjuk wajah pria itu. Raut wajahnya merendahkan, Diana terus bersuara keras sampai ia menyadari keberadaanku. Sejenak Diana gugup melihatku.
"Jangan berisik malu didengar orang," bisik Mas Andre tetap terdengar di telingaku.
Diana memandangku nyalang, menelisik dari ujung kaki hingga ujung rambut, seperti ingin memindai kehidupanku saat ini. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin dia masih merasa menang karena bisa membalas dendam, tapi buatku semua sudah berlalu.
Apa pun yang ada di dalam pikirannya, sudah bukan urusanku lagi. Aku terlalu sibuk mensyukuri hal-hal besar, hingga tak sempat memikirkan hal-hal kecil dan remeh-temeh seperti prasangka orang lain terhadap kehidupanku.
"Mama!"
__ADS_1
Suara nyaring Erick memanggilku. Untunglah Haris datang tepat waktu dengan puteraku di dalam gendongannya. Haris terkejut, begitu juga Diana dan Mas Andre.
Haris langsung menggandeng tanganku lalu bertanya," Sayang, udah dibayar belum?"
Aku mengangguk. "Udah ini baru aja selesai."
"Ya udah, yuk kita makan! Erick lapar katanya."
"Iya, Mama, Eik mau makan chicken." Erick mengelus perutnya pertanda lapar.
"Boleh, ayo kita beli chicken tapi makannya yang banyak, ya." Aku menggandeng tangan Haris menuju area food court.
Haris segera memboyongku pergi dari sana. Saat aku melewati mereka, aku sempat melihat wajah puteri Diana dan Mas Andre, aku tercekat.
Ya Tuhan!
Aku benar-benar kaget dan tak percaya saat memandang wajah anak polos itu yang tampak seperti anak-anak yang berkebutuhan khusus. Seingatku, bentuk muka mereka hampir serupa, Apakah mungkin Calista salah satu dari mereka?
Ah, tidak! Aku menggeleng dan berusaha menepis pikiran liar tersebut. Bisa saja itu hanya kebetulan. Tidak mungkin 'kan Mas Andre yang lumayan tampan dan Diana yang cantik diberi anugerah anak 'istimewa'?
Tbc.
__ADS_1
Sudah kerasa belum karma yang Diana dan Andre dapatkan? Mungkin 1 bab lagi ya biar makin yakin. 🤗