
POV Diana.
"Diana tunggu!"
Laki-laki itu terus memanggil namaku, tapi aku tak mau memedulikannya. Aku segera berlari sambil menahan perut dan membawa paper bag belanjaan yang sungguh sangat merepotkan.
Tak lama kemudian, aku sampai di mobil setelah melempar semua paper bag ke jok belakang. Dengan sigap penuh kecepatan, aku memacu mobil pergi meninggalkan Andre yang masih berteriak-teriak. Ah ... akhirnya aku lepas dari kejaran pria itu.
Sungguh, ini pertemuan yang tidak aku sangka. Sekian lama aku sudah memutuskan kontak dengannya. Andre sudah tidak berguna lagi untukku, jadi aku tidak akan mengotori diri dengan terus berkomunikasi dengannya. Nomornya aku blokir, mungkin karena itu Andre penasaran. Apalagi saat melihat aku dalam kondisi hamil.
"Semoga aku tidak akan pernah bisa melihat kamu lagi, Andre, supaya hidupku aman."
Aku menggumam sambil mengamati kaca spion, masih khawatir jangan-jangan Andre mengikutiku.
Setelah melewati beberapa menit perjalanan, akhirnya aku tiba di rumah. Berkali-kali aku menarik napas panjang. Malam ini bisa keluar dari teror Andre, tapi ada satu lagi yang harus aku hadapi, yaitu kemarahan Haris.
"Jelaskan kenapa kamu mematikan telepon saat Santi menghubungi aku?"
Lengkingan suara Haris segera menyerbu ke pendengaran, seperti yang aku duga, Haris marah besar.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana ini? Akhirnya, aku tak punya cara selain berpura-pura kesakitan. Sebetulnya tidak berpura-pura juga karena tadi saat aku lari cukup kencang, saat menghindari Andre, perutku memang terasa sedikit kram.
"Aduh," kataku aku mengaduh, dan Haris segera menurunkan suaranya.
"Kamu kenapa?" tanya Haris.
"Aduh, sakit sekali, sayang! Perutku di sebelah sini sakit sekali."
__ADS_1
Aku segera berpura-pura jatuh terduduk.
"Ayo, aku bantu bangun, apa yang kamu rasakan? Kamu ini sudah tahu hamil, tapi masih aja kelayapan beginilah akibatnya!" Haris memang masih mengomel, tapi dengan nada yang lebih rendah, bukan marah yang meledak-ledak seperti tadi.
Dalam hati, aku tertawa melihat perubahan sikapnya. Sudah benar kalau pria ini menjadi suamiku, karena dia penuh rasa kasih dan sayang, meskipun berkali-kali bilang sudah tidak mencintai aku.
"Maaf, sayang, tadi Siska dan teman-teman ngajakin ketemu di mall, sekalian belanja kebutuhan bayi kita," ujarku sedikit meringis, berpura-pura kesakitan. Aku yakin dengan cara ini, Haris bakal luluh.
"Ayo, duduk di sofa, aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama bayi kita."
‘Benar ‘kan?’ Haris memang selembut itu. Aku terus membatin.
"Sayang, aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku reflek saja, karena banyak tamu, sebenarnya mau kuangkat malah salah pencet tombol reject. Maaf, aku nggak ada maksud menghindari Santi."
Aku menundukkan wajah, menghindari tatapan Haris.
Napas berat terdengar dari hidung Haris, dia pasti sedang memikirkan kata-kataku.
‘Yes!’
Hati siapa tak luluh mendengar perhatian sebesar ini. Inilah alasan aku mempertahankan Haris, karena sifatnya yang lembut hati dan penyayang. Meskipun aku masih melihat sorot mata kecewa itu, tapi Haris mengakhiri kemarahannya.
Keesokan harinya, kami mengunjungi rumah sakit tempat biasanya kami melakukan pemeriksaan dan ikut program hamil.
"Kandungan Bu Diana baik-baik saja, janinnya juga berkembang seperti seharusnya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Memang, Bu Diana, sebaiknya mengurangi aktivitas yang bisa memicu kelelahan," tutur dokter Anita, dokter langgananku.
"Terima kasih, Dokter, saya pasti ingat ini, terkadang kalau sedang banyak kerjaan memang suka lupa."
__ADS_1
Aku mengakhiri obrolan dan pamit kepada dokter Anita.
"Tuh ‘kan nggak ada yang perlu dikhawatirkan, Sayang. Bayi kita baik-baik saja," ulangku kepada Haris yang masih terlihat muram wajahnya. Dia masih terdiam, tak banyak bicara.
"Kenapa tiba-tiba aku kepingin soto Betawi? Gimana kalau kita makan siang dulu, makan soto Betawi yuk, sayang? Ituloh yang di rumah makan jalan Senopati itu enak. Ayo kita ke sana." Aku masih punya cara lain meredakan amarah Haris.
"Ya udah, kamu tunggu di sini, aku ke parkiran dulu ambil mobil."
Aku segera duduk di bangku lobby rumah sakit, sebentar lagi mobil Haris pasti akan berhenti di depan, dan aku tinggal naik.
Baru saja duduk, tiba-tiba, muncul seseorang yang sedari semalam sudah aku hindari.
Andre, untuk apa dia ada di sini?
Pria itu datang dengan mata berkilat. Sontak, aku berdiri siap berlari.
"Diana, jangan harap bisa lari lagi. Ikut aku sekarang!"
Belum sempat aku menghindar, tiba-tiba Andre sudah mencekal tanganku lalu menarikku ke tempat yang lebih sepi.
"Jangan bohong lagi, aku tahu anak yang dalam kandunganmu itu adalah anakku."
"Lepaskan tanganmu, Andre, ini sakit!" Aku menepis tangan Andre, tapi pria itu justru lebih kuat mencengkeram tanganku.
"Aku sudah mencari informasi tentang bayi dalam kandunganmu itu termasuk berapa bulan usia kehamilanmu. Diana, kamu tega memanfaatkan aku. Kamu bersenang-senang dan kembali sama Haris, sementara rumah tanggaku hancur, dan aku sendirian. Kita lihat saja apakah Haris akan diam saja kalau tahu kamu sudah pernah tidur dengan aku."
Tatapan mata Andre membuat bulu kudukku berdiri.
__ADS_1
Tbc.
Kamu baru bulu kuduk ya Diana, klo aku sih emosi yang naik. wkwkwkwk