Rahim Impian

Rahim Impian
Bonchap 2


__ADS_3

Masih terbayang pertemuan tak sengaja dengan Diana di mall beberapa hari lalu. Jelas sekali perbedaan yang terjadi dengannya maupun Mas Andre. Meskipun telah menikah, tetapi masih terlihat jarak yang membentang di antara keduanya. Wajah Mas Andre yang terlihat kumal dan tak terawat telah menjelaskan segalanya. Sementara Diana meskipun masih tetap modis dan cantik, tapi matanya tak lagi berbinar dengan tatapan menantang seperti dulu.


“Hei … lagi ngelamunin apa, Sayang?” Suara Haris terdengar merdu menghampiriku yang sedang bersantai di teras. Tadi kutinggalkan dua pangeranku saat sedang bermain lego di ruang bermain Erick.


“Nggak ngelamun, Mas. Aku hanya sedang menikmati pemandangan sore, lihat di sana, indah sekali. Matahari sebentar tenggelam, warna langitnya jadi cantik,” tunjukku ke arah matahari terbenam.


“Buatku lebih cantik pemandangan yang ada di hadapan,” jawab Haris sambil mengecup kening lalu mengelus rambutku. Perhatian seperti ini membuatku benar-benar merasakan kesempurnaan sebagai istri.


“Erick kemana kok nggak kedengaran suaranya?” tanyaku saat Haris mulai melingkarkan tangannya di pinggangku.


“Ketiduran barusan aku pindahin ke kamarnya.” Haris segera duduk di dekatku.


“Aduh jam segini tidur, pasti nanti malam begadang dia,” ucapku sedikit khawatir.


“Iya nggak papa, nanti biar sama aku saja kalau dia mau begadang. Kamu beneran nggak sedang mikirin sesuatu? Kayaknya lagi ada yang mengganggu pikiranmu,” desak Haris yang selalu bisa menebak pikiranku.


“Aku teringat putri Diana saat kita berpapasan di mall, tapi semoga pandanganku salah waktu itu.”


“Memangnya kenapa? Aku buru-buru karena Erick udah rewel, jadi nggak sempat merhatiin,” jawab Haris acuh tak acuh.


“Nggak papa, udah lupain aja.” Aku memilih tidak membahasnya karena bisa saja ini memang hanya kebetulan.


Kami akhirnya disibukkan dengan urusan sekolah Erick yang akan segera dimulai. Anak aktif itu sudah tidak sabar sejak bangun pagi minta untuk segera berangkat karena takut terlambat.


“Ayo Pa, cepetan bawa mobilnya udah siang nih,” rengek Erick membuat kami tersenyum.


“Ini sebentar lagi juga nyampe, Jagoan.” Haris menyetir dengan tenang.


Suasana pagi memang sangat ramai. Sekolah Erick terletak di kawasan gedung-gedung sekolah lain yang selalu ramai di jam berangkat maupun pulang.


Tiba-tiba Haris menginjak rem mendadak, membuat Erick dan aku nyaris terpental.


“Sialan! Belok seenaknya nggak kasih tanda dulu,” omel Haris merasa diperlakukan tidak benar. Memang ada mobil yang memotong jalan saat kami sedang berada dalam posisi kemacetan. Seharusnya kami bisa segera maju, tapi sebuah mobil sedan putih memotong jalan dari arah kanan.

__ADS_1


“Papa mau kemana?” teriak Erick saat papanya turun dari mobil.


“Sayang tunggu di sini ya, biar Mama panggil papa.” Haris terlihat emosi saat ada pengendara lain membahayakan keluarganya, Gawat ini, aku segera menghampirinya.


“Yang benar saja, kalau belok kasih tanda!” teriak Haris dengan wajah murka sambil mengetuk kaca jendela depan. Sementara itu dari pintu kiri keluar seorang wanita sambil membawa anak perempuan di gendongannya.


Ya Tuhan itu mereka. Diana menggendong putrinya. Aku lalu menengok ke arah gerbang sekolah. Ternyata benar ini Sekolah Luar Biasa yang sering kami lewati. Jadi Diana menyekolahkan anaknya di sini. Mendadak hatiku disaput sembilu membayangkan mereka benar-benar dikaruniai anak istimewa.


Haris yang tidak menghiraukan teriakanku juga terkejut melihat Diana turun dari mobil, menggendong anaknya menuju ke gerbang sekolah. Kaca mobil terbuka. “Maaf, tadi saya buru-buru.” Suara lirih terdengar diiringi wajah sayu dan lesu.


Haris yang melihat wajah Mas Andre ingin marah-marah tapi aku memberi kode dengan menggelengkan kepala.


“Sayang, Erick udah nunggu di mobil, di belakang juga banyak mobil menunggu, ayo kita segera ke sekolah.”


Haris ragu mendekatiku, tapi ia segera menarik napas panjang dan segera kembali ke mobil. Kami tak membuka obrolan sampai Erick masuk ke dalam kelasnya.


“Mas kerja aja sekarang, hari ini aku mau nungguin Erick sekolah.”


“Sayang, kamu nggak denger apa kata gurunya tadi, dimulai dari kita orang tuanya yang harus sanggup melepas Erick, ayo aku anterin kamu pulang.”


Akhirnya kami kembali ke rumah, Haris bekerja dari rumah. Tak terasa aku telah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Saat hendak memasak, tiba-tiba Haris meraihku dalam pelukannya.


“Hari ini nggak usah masak, Sayang.” Pria itu memelukku dari belakang, lalu mencium belakang leherku hingga membuatku mendongak karena merasakan sensasi merinding.


“Mas, malu kalau dilihat ibu.”


“Sekarang kamu mandi trus siap-siap ya, aku mau mengajakmu makan siang di tempat istimewa.”


Aku menggeleng tak percaya tapi Haris malah menutup bibirku dengan telunjuknya. Lagi-lagi aku tak bisa menolak. Tanpa banyak tanya aku menuruti keinginanya. Pria ini memang sering memberikan kejutan menyenangkan hingga pernikahan ini semakin terasa tidak membosankan.


“Happy anniversary sayang.” Haris membuka penutup kepalaku saat kami tiba di tempat yang ia mau.


Sebuah restoran mewah dengan nuansa indah benar-benar jadi kejutan. Anniversary? Ya Tuhan aku sampai lupa kalau hari ini adalah hari pernikahan kami yang keenam tahun.

__ADS_1


“Makasih kamu mengingatnya, Sayang. Aku kenapa bisa lupa, ya?” Aku menepuk dahi menyadari keteledoran ini. Beberapa hari lalu aku sudah merencanakan akan membuat kue yang bisa dinikmati seluruh keluarga, ternyata saking sibuknya menyiapkan sekolah Erick membuatku lupa.


“Semoga pernikahan kita langgeng, sampai maut memisahkan,” ucap Haris sebelum mendoakan hal-hal baik untuk pernikahan kami. Aku hanya bisa mengangguk sambil menahan haru. Memiliki Haris dalam hidupku benar-benar membuat semua terasa sempurna. “Ini kadonya, Sayang.” Haris juga tak lupa memberikan sebuah kotak kecil berpita merah.


“Sayang, kado kalung yang tahun kemarin kamu belikan juga masih utuh. Haris, ini pasti mahal.” Mataku membulat tak percaya melihat satu cincin berlian berada di kotak kecil itu.


Nikmat mana lagi yang harus kutepis. Kami menikmati hidangan makan siang tak biasa. Senyuman tak pernah lepas dari bibirku, betapa bersyukurnya aku memiliki segalanya sekarang.


Usai menghabiskan makan siang, kami segera keluar dari private room. Haris memang sengaja membooking private room. Saat kami keluar bersamaan dengan seorang wanita yang tertawa-tawa menggandeng seorang pria. Dari nadanya jelas terdengar wanita itu sedang berbahagia, tapi suaranya seperti kukenal. Tanpa dikomando kami segera menoleh ke sumber suara.


Diana sedang bersama seorang pria yang terlihat lebih tua. Dia sangat terkejut ketika menyadari kami baru saja keluar dari ruangan di sebelah ruangan yang ia masuki. Pandangan tak suka langsung ia perlihatkan. Pegangan erat tangannya kepada pria itu segera dilepaskan seolah takut ketahuan. Tentu saja kami tidak peduli. Haris menggandengku menuju mobil. Dan seperti biasa kami tak ingin membahasnya. Jemari kami saling menggenggam. Lisan memang diam, tapi hati selalu bertautan.


 


*Epilog


 


“Paket! Pesenan datang!”


Sebuah suara terdengar di luar pagar. Aku segera buru-buru membuka pintu. Hari ini Erick banyak kegiatan hingga aku tak sempat memasak dan tidak ingin merepotkan ibu. Aku memesan makanan melalui aplikasi ojek online.


“Pesanan atas nama Ibu Santi?” tanya tukang ojek itu.


“Benar.” Aku memang meminjam ponsel Santi untuk memesan makanan ini.


“Silakan Bu.”


Kami bersitatap. Mata itu segera menghindari kontak, menunduk lalu pergi meninggalkan rumah.


Aku menghela napas panjang. Tak ada yang kebetulan. Dia Mas Andre. Rupanya kabar itu benar, dia telah dipecat dari kantornya dan sekarang menjadi tukang ojek online. Putaran roda nasib memang tak ada yang tahu.


 END.

__ADS_1


Udah selesai di sini ya reader. Aku ucapkan banyak2 terima kasih untuk semua dukungannya. Semoga kita bisa berjumpa lagi di karyaku selanjutnya. Enjoy!


__ADS_2