Rahim Impian

Rahim Impian
Rindu menggebu


__ADS_3

“Aku merindukanmu, Keysha,” bisikku di telinganya. Aku menghirup harum tubuh yang selalu menghantui mimpiku. Sungguh aku tidak bisa lagi menahannya, seminggu sudah aku memantau dari jauh, mencari waktu yang tepat


agar bisa menemui wanita yang berhasil membuat jantung berdebar, bahkan hanya


menyebutkan namanya saja.


Beruntung aku mengingat lembaga yang memperkerjakan Keysha, hingga aku segera mencari jejaknya ketika secara tiba-tiba Keysha menghilang.


“Haris ….”


“Ya, ini aku. Kenapa kamu pergi tanpa kabar? Bahkan nomor ponselmu tidak bisa aku hubungi. Apa kamu berencana untuk meninggalkan aku?” tanyaku sambil menatapnya lamat-lamat. Ah, aku bahkan lupa jika masih ada urusan yang harus aku kerjakan, menggugat cerai Diana agar aku bisa bersama Keysha. Namun, apa Keysha mau meninggalkan Andre?


Keysha memutus kontak mata kami dan berusaha melepaskan diri, tapi aku tidak memberinya kesempatan. Aku membawanya ke belakang gedung yang sepi, menguncinya dalam kungkunganku hingga mau tidak mau ia kembali memandangku.


“Jawab aku Keysha!”


Keysha masih diam, mengunci bibirnya rapat. Hal itu membuatku gemas. Aku meraba bibir merah pucatnya yang sedikit terbuka karena sentuhanku, aku pun tidak menyiakannya dengan langsung mengecupnya, mencecap dan menghisapnya lembut.


“Hmmp!”


Keysha terkejut, aku menekan tengkuknya dan membawa lidahnya agar menari di dalam mulutku. Perlahan cengkeraman tangan yang berusaha melepaskan diri mengendur, pasrah dengan permainan adu salivaku.


Keysha memejamkan mata, aku tahu dia menikmatinya. Dia memiliki perasaan yang sama denganku. Kami memang saling mencintai. Cukup lama aku melegakan dahaga yang tertahan, mengulanginya beberapa kali saat bibir kami terlepas. Wajah Keysha tampak memerah, merona cantik menambah pesonanya.

__ADS_1


“Jangan pergi lagi, jangan buang aku,” desisku sambil terus menatapnya.


“Haris, aku tidak membuangmu.”


“Lalu apa?”


Keysha seperti ingin mengungkapkan sesuatu, tapi urung. Aku mengusap lembut pipinya.


“Jangan ragu, seperti aku yang tidak ragu untuk meninggalkan Diana.”


Matanya membulat mendengar pernyataanku. “Tidak! Jangan kau lakukan itu!”


“Kenapa? Aku sudah tidak bisa lagi menjalani hubunganku dengannya.”


“Tentu saja itu salah satunya,” jawabku jujur.


Keysha menggelengkan kepala lalu menunduk.


“Aku … bersalah. Seharusnya kita tidak seperti ini. Kamu masih bisa memperbaikinya, Haris. Maafkan aku yang sudah membuatmu seperti ini.”


“Keysha, kamu tidak salah. Hubunganku dengan Diana memang sudah tidak sehat sejak awal.”


“Seandainya aku tidak datang di kehidupanmu-“

__ADS_1


“Kalau kamu tidak datang ke dalam hidupku, maka hidupku akan lebih kelam daripada sekarang!” selaku penuh penekanan.


Aku tidak suka bila Keysha merendahkan dirinya dan merasa bersalah, padahal semua bukan karenanya. Kalau harus mencari siapa yang harus bertanggung jawab, mungkin keadaan saja yang


tidak tepat. Seharusnya aku yang lebih dulu bertemu dengan Keysha daripada Andre. Hingga aku yang akan menjadi suaminya, mencintainya sepenuh hati dan menjadi keluarga idaman yang selama ini aku impikan.


“Keysha, tatap aku!” Aku meraih dagunya agar melihat ke arahku. “Aku tanya, apa kamu akan tetap bersama Andre?”


Keysha membalas tatapanku, tapi tidak kunjung menjawab. Aku butuh kepastian agar aku tidak berjuang sendiri. Setidaknya, hal itu membuatku


bersemangat.


“Keysha?”


“Aku tidak tahu, aku hanya ingin bahagia …,” ucapnya parau.


“Kalau begitu, biarkan aku membahagiakanmu, sayang.”


“Haris, aku tidak ingin merusak hidupmu. Aku rela jika hanya bisa memilikimu dalam memory, asalkan itu yang terbaik untuk kita.”


Aku tersenyum mendengar jawaban hatinya, mengharapkan kebaikan kami tanpa memikirkan diri sendiri. Jauh berbeda dengan Diana yang


selalu ingin dimengerti. Hingga kini aku tidak habis pikir Andre tidak merasa bersyukur memiliki istri sebaik Keysha. Namun, dibalik semua itu aku

__ADS_1


mendapatkan keuntungan. Sikap arogan Andre mengantarkan Keysha ke dalam pelukanku.


__ADS_2