Rahim Impian

Rahim Impian
Batin Keysha


__ADS_3

Keheningan melanda ketika aku menunggu kedatangan Ayu, perasaan tidak tenang menghantui dengan tatapan waspada pada sosok yang terkapar di lantai.


Melirik jam dinding yang terus berdetak tanpa ampun seolah menegaskan jika aku


tidak memiliki cukup waktu untuk berleha-leha. Aku mengumpulkan kembali


barang-barangku dan mengenakan pakaian sekenanya, yang terpenting aku tidak dalam keadaan polos.


Meski seluruh tubuh terasa nyeri seperti habis dipukuli, aku berusaha mengatur napas dan mengumpulkan tenaga kembali agar bisa berjalan menuju pintu keluar. Sebaiknya aku menunggu di luar rumah saja.


Berada di dalam satu ruangan dengan Mas Andre hanya membuat dadaku sesak, antara marah, sedih dan sakit hati. Melihat wajahnya saja mampu membuatku mengingat kejadian mengerikan tadi malam. Aku tidak ingin mengingatnya.


Dengan susah payah aku melangkah menggeret koper menuju pintu, saat itu juga aku dengar suara dari arah belakang. Pria itu terjaga!


“Ugh, aargg … kepalaku!”


Sontak aku membeku, tidak bergerak saking terkejutnya. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung menguar dari sela pori-pori keningku, aku memejamkan mata.


‘Apa yang harus aku lakukan?’


Sambil bertanya dalam hati, aku menatap tuas pintu di depan mata. Aku pikir, aku bisa bergerak cepat, sebelum Mas Andre menyadari keberadaanku yang sedang ada di depan pintu, tapi bagaimana jika nanti Mas Andre bisa mengejarku?

__ADS_1


‘Ayu, di mana kamu?’


Lamanya berpikir tidak serta merta memberikan solusi. Pada akhirnya panggilan Mas Andre yang berhasil membuatku tersentak dan secara refleck mengambil kunci pintu.


“Keysha?”


Cklek!


Krieet!


BLAM!


Aku mengunci pintu dan terduduk di lantai dengan gedoran dari dalam.


“KEYSHA! MAU KE MANA KAMU? JANGAN PERGI! KEYSHA!”


BRAK!


BRAK!


Aku menahan pintu sambil menejamkan mata, berharap pintu itu tidak akan pernah terbuka. Aku menggenggam erat kunci tersebut. Hatiku bergemuruh karena takut sambil berdo’a mengharapkan kehadiran Ayu yang segera datang.

__ADS_1


“Keysha? Kau kah itu?”


Suara itu, suara yang sangat familiar. Aku pun langsung berpaling padanya, berseru dengan penuh rasa syukur. “Ayu!”


“Ada apa ini?” Ayu menghampiri, memandang diriku yang pasti terlihat sangat kacau. Belum sempat aku menjawab, teriakan Mas Andre menjelaskan semuanya.


BRAK, BRAK!


“KEYSHA! AKU TAHU KAMU MASIH DI LUAR! KEMBALI KE DALAM! KEYSHA!”


Ayu terperangah, menatap bingung pada pintu lalu beralih padaku.


“Bawa aku pergi dari sini,” ucapku gemetaran. Ayu langsung mengerti dan memapahku di tangan kanan kemudian menyeret koperku di tangan kirinya.


Ayu tidak bertanya apa-apa sampai kami memasuki mobilnya. Di sana aku baru bisa bernapas lega. Mesin pun dinyalakan, untuk pertama kalinya aku pergi dengan niat untuk tidak akan kembali lagi.


Ketika mobil itu berjalan, aku menatap bangunan yang sudah 10 tahun aku tempati. Menerawang sejenak, membuka


memori akan kenangan apa saja yang tersimpan. Ternyata hanya hal monoton yang membuatku meringis, menangis serta merintih oleh sikap Mas Andre. Pria yang aku nikahi, aku cintai kini menjadi sebuah sosok yang mengerikan.


Mengapa dahulu aku bisa melabuhkan hati padanya? Kenapa pula aku baru tersadar jika dia bukan pria yang baik, bukan juga calon Ayah yang layak? Seolah kabut di mataku memudar, aku melihat kenyataan setelah sekian lama buta oleh ketakutan dan kebodohan. Yang aku bisa sekarang hanya menitikkan air mata untuk kesekian kalinya. Bulir bening ini menjadi saksi akan kandasnya kisah kami.

__ADS_1


__ADS_2