Rahim Impian

Rahim Impian
Sebuah rahasia


__ADS_3

POV Haris


Aku lega mendengar penjelasan dokter Anita kalau kandungan Diana baik-baik saja. Semalam, aku sempat mengkhawatirkan keadaannya. Diana tiba-tiba mengatakan perutnya sakit dan kram. Aku memang bersikap sedikit kasar karena dia tega melakukan sesuatu di belakangku yang bisa saja berakibat fatal pada ibu.


Dengan cepat, aku melangkahkan kaki menuju tempat parkir ketika Diana meminta makan siang soto Betawi di tempat langganan kami dulu. Mungkin dia ngidam atau apalah. Aku turuti saja karena letak rumah makan itu satu arah ke apartemen kami.


Aku segera mengambil mobil dan berhenti di depan lobby. Biasanya, Diana sudah siap keluar lalu masuk ke mobil. Namun, saat aku tiba di depan lobby untuk menjemput Diana, dia tidak ada.


Ada di mana dia? Rasanya saat aku tinggalkan tadi dia sedang duduk di bangku di lobby rumah sakit.


Bunyi klakson mobil di belakang bersahutan, aku sudah terlalu lama berhenti di depan lobby.


Segera aku memarkir mobil di depan rumah sakit. Tempat parkir di sini cukup sempit, tak muat menampung banyak mobil, tapi aku beruntung ada tempat kosong di dekat pusat ATM.


Usai memarkir mobil di dekat area ATM, aku kembali masuk ke dalam lobby.


"Ke mana, sih, Diana? Disuruh nunggu di sini malah pergi," batin ku kesal.


Ekor mataku masih menelusuri setiap ruangan, tempat, dan bangku di lobby rumah sakit untuk menemukan Diana. Istriku itu selalu berdandan mencolok jadi sangat mudah dikenali, tapi dari semua pengunjung aku tidak menemukannya.

__ADS_1


Selalu saja begini, Diana selalu melakukan hal-hal yang membuat aku marah. Bisa saja kan, dia minta izin atau pamit terlebih dahulu supaya aku tidak perlu masuk lagi. Atau jangan-jangan Diana kebelet dan sedang ke toilet. Kata dia ibu hamil selalu ingin buang air.


Ya sudah, aku coba untuk mencarinya di toilet. Namun, setelah cukup lama aku menunggu di depan toilet wanita, Diana tak kunjung keluar. Itu berarti dia tidak ada di dalam sana.


"Mbak, maaf, tunggu sebentar. Apa tadi di dalam lihat perempuan ini?" tanyaku pada seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet. Aku memperlihatkan foto Diana, mencoba memastikan keberadaannya sebelum aku pergi.


"Nggak ada, Mas. Di dalam sudah pada kosong semua, kok," ucap wanita itu, menggelengkan kepalanya.


"Oh ya, terima kasih." Aku menghela napas kasar, kesal dengan tingkah Diana yang terkadang seperti anak kecil.


Apa mungkin Diana sudah pulang duluan ke apartemen?


Kalau begitu, aku akan mencarinya sekali lagi di seluruh area rumah sakit, siapa tahu dia sedang pergi ke ATM.


Aku kembali mengunjungi orang-orang di rumah sakit dan mengamati bangku-bangku yang berisi pengunjung, tapi Diana tak kunjung aku temukan.


Ke mana dia? Aku coba telepon ponselnya, tetapi tidak diangkat. Diana memang lebih sering mengaktifkan mode silent di ponselnya. Pasti dia tidak mendengar kalau aku meneleponnya. Huh, dia sungguh bikin aku pusing!


Kalau begitu, sepertinya aku harus segera kembali ke apartemen.

__ADS_1


Tanpa terasa, langkahku ternyata sudah berbelok ke arah samping rumah sakit. Ah, bodohnya aku! Tidak mungkin Diana ada di sini.


Area samping rumah sakit ini sepertinya sedang dilakukan proyek renovasi. Terlihat beberapa bahan bangunan berserakan. Aku melangkah menuju ke mobil, sebelum akhirnya langkahku terhenti.


Aku melihat sosok yang sepertinya tidak asing. Dia berdiri membelakangiku. Sosok laki-laki yang sepertinya sedang marah-marah. Ia berbicara membentak-bentak kepada lawan bicaranya. Ada pilar-pilar besar yang menghalangi pandanganku untuk melihat siapa lawan bicaranya. Dengan sedikit mengendap-endap, aku mendekati mereka.


"Kita lihat saja, Diana. Apakah Haris akan diam saja kalau tahu istrinya sudah tidur dengan aku, dan anak yang ada di kandungannya itu adalah anakku, bukan anaknya!"


Andre? Aku mengenalinya. Suaranya juga jelas, itu Andre. Sontak saja ucapan Andre ini seperti petir di siang bolong menyambar tubuhku.


"Aku, apa aku tidak salah dengar?" batinku bertanya-tanya. Sedikit memicingkan mata, aku mengamati perempuan di depannya, dan dia adalah Diana.


"What the ..."


Diana sedang berbicara dengan Andre? Pandanganku tidak salah. Andre sedang berbicara kepada Diana dengan nada tinggi, dan istriku itu terlihat sangat ketakutan.


Tbc.


Eng... Ing... Eng... Tunggu besok ya... Hahaha

__ADS_1


__ADS_2