Rahim Impian

Rahim Impian
Patah untuk kesekian kali


__ADS_3

Benar kata pepatah, dunia adalah panggung sandiwara. Aku sempat melayang merasa bahagia memiliki seorang adik perempuan. Hidupku tergenapi dengan kehadiran Santi. Kami menjadi dekat secara alami, tidak ada yang dibuat-buat, hubungan yang mengalir begitu saja. Dia orang lain tapi punya tempat istimewa di hatiku.


Malam ini semuanya berubah saat Santi mengatakan satu hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.


"Sebenarnya, Santi adalah adiknya Kak Haris dan ibu tahu hubungan Kak Keysha dengan Kak Haris," ucap Santi dengan suara lirih seolah takut mematahkan hatiku.


Tentu saja berita itu terdengar seperti petir di siang bolong yang menyambar wajahku. Aku terbakar habis, bukan hanya terbakar, tapi sekarang rasanya diri ini sudah tidak punya muka lagi di hadapan Santi. Aku benar-benar sangat malu dengan wanita muda yang selama ini sudah aku anggap seperti adik sendiri.


Pantas saja saat Santi tersenyum, aku seperti melihat guratan senyum yang sama dengan yang aku lihat di wajah Haris. Ternyata mereka kakak beradik. Ah, betapa naifnya aku hingga tidak pernah berpikir ke arah sana.


Kini kusadari kalau aku layak mendapat perlakuan tidak baik dari ibunya Haris. Bagi mereka, aku cuma seorang pelakor. Perusak rumah tangga orang.


Apalagi sebutan yang pantas untuk seorang wanita yang menjalin hubungan dengan pria beristri, sampai-sampai Haris nyaris saja bercerai dengan Diana. Ini adalah kebodohan terbesar yang pernah aku lakukan dalam hidup.


"Santi, Kakak benar-benar minta maaf atas kejadian ini. Memang benar Kakak pernah menjalin hubungan dengan Haris. Tapi itu semua sudah berlalu, Kakak sadar semua ini tidak benar."


Suaraku sedikit tertahan saat mengatakan penyesalanku kepada Santi. Entah dia mau menerima atau tidak permohonan maafku ini, yang jelas aku tulus menyampaikannya dari hati.

__ADS_1


"Iya, Kak, nggak apa-apa. Semua sudah terjadi, sekarang Kak Diana sedang hamil, jadi Kak Haris kemarin sempat datang ke rumah. Sebelumnya Kak Diana yang datang menemui ibu. Sekarang mereka sudah pulang kembali ke rumah mereka lagi," jawab Santi.


Kali ini bukan hanya petir yang menyambar tubuhku, tapi seolah-olah aku terseret dalam gulungan ombak yang sangat deras. Ombak kenyataan yang mau tidak mau harus aku hadapi, meskipun rasanya sangat menyakitkan.


"Secepat itu ternyata Tuhan mengubah dunia. Tidak ada alasan lagi Haris untuk pergi dari Diana. Wanita itu kini menjadi wanita sempurna karena bisa hamil dan melahirkan keturunan," pikirku.


Aku benar-benar harus mengubur semuanya. Saatnya sekarang aku harus kembali berdiri di atas kedua kakiku sendiri, tidak mengharap apa pun dari siapapun.


"Syukurlah, Kakak ikut senang kalau akhirnya mereka bisa punya anak, setelah bertahun-tahun mencoba program kehamilan," ucapku pada Santi.


Aku tak punya jawaban yang lebih baik dari ini. Karena sebenarnya suara itu hampir tertahan dikerongkongan.


"Kebetulan kami bertemu di klinik yang sama, saat itulah kemudian kami menjadi dekat."


Aku menghela nafas panjang, seolah membuang sisa-sisa racun dendam yang mengendap di dada ini.


Dendam? Pada siapa sepantasnya aku mendendam? Haris sudah melakukan langkah yang benar dengan kembali kepada istrinya, apalagi mereka akan punya anak.

__ADS_1


Alasan apalagi yang lebih baik untuk kembali menyatukan cinta yang sempat terkoyak karena kehadiranku. Kini aku semakin menyadari betapa rendah diriku pernah menjadi benalu di antara hubungan mereka.


"Karena ibu sudah baik-baik saja, sekarang Kakak pamit pulang ya, Santi. Tolong sampaikan maaf Kakak yang tulus kepada ibu. Semoga saja Haris dan Diana berbahagia selamanya. Selamat tinggal," ucapku dengan semangat yang patah.


Aku tersenyum, mencoba menyembunyikan sayatan luka dalam relung hati ini. Perih.


Santi mengantarkan aku sampai di depan rumah sakit saat tukang ojek online sudah datang menjemputku.


Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin dia jijik melihatku. Sekali lagi, aku pantas menerima semua kebencian dari keluarga Haris dan Diana.


Udara dingin dini hari menyapu wajahku. Seketika air mata yang berderai di pipi langsung mengering. Kali ini aku harus berterima kasih kepada angin, di mana aku bisa menyembunyikan tangis ini.


Keesokan harinya, aku bangun dengan kepala yang sangat pusing karena kurang tidur akibat urusan rumah sakit. Pasti akan sulit berkonsentrasi mengajar hari ini, jadi kuputuskan untuk izin sehari ke lembaga kursus tempat aku bekerja.


Aku butuh sedikit ruang untuk bernafas, supaya luka, pedih, dan beban kesedihan ini terangkat dari dada. Ah, aku memang perempuan yang menyedihkan.


Tbc.

__ADS_1


Ayo reader, mana suaranya? 10 part menuju ending. Supaya cukup. 


__ADS_2