
“Pulang kerja, aku jemput ya!” ucap Haris seraya membantuku melepaskan seat belt. Aku diantar menggunakan mobil temannya. Haris menggantikan temannya menjadi driver online sambil menunggu balasan dari tempatnya melamar kerja. Lumayan jadi bisa kemana-mana menggunakan mobil. Susah bergerak jika tidak memiliki kendaraan.
“Tidak perlu, aku naik ojek online aja,” jawabku sungkan.
“Hei, aku juga driver online,” selorohnya membuatku salah tingkah.
“Klo taxi online harganya lebih mahal.”
“Aku kasih diskon, plus makan malam!”
“Rugi dong kamunya!”
“Nggak lha, ‘kan dapet senyuman kamu. Harganya tidak seberapa sama upah taxinya. Sukur-sukur dikasih kecupan manis, wah aku untung banyak!”
Aku tidak bisa menahan tawa, Haris terus menggodaku dengan gombalannya. Ah, baru kali ini aku dirayu sedemikian rupa, sampai-sampai bibirku tidak henti tersenyum. Pipiku pun merona, aku menutup wajahku dengan buku karena malu.
“Jangan ditutup, aku senang melihatmu tersenyum. Kamu makin cantik,” ucap Haris yang berusaha menarik buku.
“Sudah sana, aku mau masuk kelas!” usirku padanya, aku sudah mati gaya jika digombali lagi.
Ting!
Sebuah notif terdengar dari ponselnya, kami pun sama-sama terdiam.
“Tunggu dulu, Key!” Haris merogoh ponselnya tanpa melepaskan bukuku.
“Ya sudah aku mau masuk, kamu terima saja pesannya.”
“Sebentar, jangan pergi dulu. Belum jam masuk ‘kan?” Haris melongok ke arah gedung.
__ADS_1
“Iya, belum sih.”
Haris tampak melihat ponselnya, wajahnya berubah serius kemudian ….
“Key, aku rasa kamu memang dewi penolongku. Belum lama kamu bersamaku, aku sudah mendapatkan panggilan. Lihat!”
Haris memperlihatkan ponselnya padaku, aku masih bingung maksudnya apa hingga aku tahu jika itu adalah surat panggilan tempatnya melamar pekerjaan. Aku menutup mulut, Haris tersenyum dan menggenggam tanganku.
“Baru sebulan, aku sudah mendapatkan pekerjaan dan aku rasa karena ada kamu di sisiku.”
“Ya Tuhan, Haris selamat!” aku sangat bahagia, Haris kini bukan pengangguran lagi.
“Tapi, sepertinya aku tidak bisa menjemputmu pulang,” sesal Haris. Pria itu mungkin merasa tidak enak karena tidak bisa menepati janji yang baru saja ia buat.
“Tidak apa-apa Haris, aku justru senang. Sebaiknya kamu segera pulang dan persiapkan semuanya sebelum datang ke tempat kamu melamar,” saranku. Haris mengangguk.
Aku menerimanya dan membiarkan Haris pergi.
***
Waktu pulang tiba, keadaan langit kali ini lebih mendung dari kemarin. Barusan aku mendapatkan pesan mengembirakan mengenai pekerjaan Haris. Ia sudah bisa mulai bekerja pada hari senin.
[Aku sudah bisa masuk kantor hari senin, aku senang sekali Key. Aku dapat posisi yang sama seperti pekerjaanku sebelumnya.]
Aku tersenyum membaca pesan itu, mungkin Tuhan tahu jika Haris memang pantas mendapatkan pekerjaan itu. Pekerjaan yang selama ini disukai dan ditekuninya.
“Sudah lama menunggu?” tanya Haris yang tiba-tiba datang. Ia duduk di kursi berseberangan denganku.
“Tidak begitu, aku juga baru datang,” jawabku.
__ADS_1
Kami sedang berada di restaurant di lantai bawah hotel, ia memintaku ke sini saat sudah sampai hotel.
“Bagaimana dengan pertemuannya tadi?”
“Berjalan sangat baik, karena itu aku sudah bisa langsung bekerja.”
“Aku turut senang,” ungkapku jujur.
“Terima kasih, Key.” Haris meraih tanganku dengan mengulum senyum lembut. “Oh, iya, sebentar!”
Haris mengambil sesuatu dari sakunya. Entah itu apa, ia menaruhnya di meja. Sebuah kotak beludru berwarna biru tua. Aku tidak ingin menebak, tapi aku tahu itu pasti sebuah kotak perhiasan.
Aku terhenyak ketika kotak itu dibuka, aku menatap penuh tanya pada Haris. Pria itu malah terkekeh dan kembali meraih tanganku. Disematkannya sebuah cincin emas putih di jari manisku. Aku masih membeku, belum bisa mencerna semuanya.
“Woah, ternyata pas! Berarti kamu memang benar-benar jodohku, Key!”
“Ha-Haris, apa ini?”
“Ini hadiah dariku, kalau cincin kawin tentu saja belum bisa. Kita masih terikat dengan yang lain. Ngomong-ngomong masalah perceraian. Aku sudah mendaftarkannya ke pengadilan.”
“Haris, aku pikir aku tidak bisa menerima ini,” aku hendak mencopot cincin itu, tapi Haris menahannya.
“Key … jangan ditolak, kumohon!”
“Tapi, Haris. Kamu tidak perlu memberikan aku apa pun. Dan ini terlihat mahal, bagaimana jika uangmu habis? Lebih baik digunakan untuk kamu membayar hotel. Atau, lebih baik kamu cari rumah untu di sewa. Di hotel terlalu mahal!”
“Boleh, tapi kamu harus tinggal bersamaku,” ucap Haris sambil menyerigai.
Aku langsung mengatupkan bibir rapat mendengar permintaan ekstrem Haris.
__ADS_1