Rahim Impian

Rahim Impian
Amarah Haris


__ADS_3

POV Haris


Sudah hampir satu bulan aku kembali ke apartemen ini, tepatnya ke penjara ini. Iya, penjara hati, di mana aku harus hidup kembali dengan wanita yang tidak aku cintai, wanita yang sudah terlanjur menjadi istriku.


Mski begitu bukan berarti aku kembali pada Diana. Aku hanya menjalani hari-hariku menjadi suami yang siaga saat istrinya sedang hamil. Aku tetap menjaga jarak dengan Diana. Sampai saat ini, itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan. Aku rutin tidur di sofa, sedangkan Diana di dalam kamar. Memang harus begitu.


Aku berada di sini karena Diana sering membutuhkan bantuan membawa belanjaan atau memeriksa kandungannya. Seharusnya aku senang karena program hamil yang kami ikuti bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Namun, nyatanya tidak begitu. Memang benar perasaan manusia begitu cepat berubah, begitupun dengan hatiku yang kini terpaut pada satu nama, Keysha. Ah, aku jadi merasa bersalah kalau mengingat dia.


"Sayang, nanti malam anterin aku belanja, ya. Aku mau beli kebutuhan bulanan. Borong banyak buah supaya anak kita bisa dapat banyak nutrisi," kata Diana dengan nada rajuk.


Sekarang sedikit-sedikit Diana menjadikan kehamilannya sebagai alasan untuk pergi bersamaku. Aku tidak masalah. Mau tidak mau, memang aku harus menyempatkan diri untuk mengantarkannya. Setidaknya ini yang aku lakukan karena rasa kemanusiaan dan karena dia mengandung anakku.


Diana membawa troli memasuki lorong demi lorong supermarket, membeli apa pun yang dia inginkan, hingga tak butuh waktu lama ranjang belanjaannya pun penuh. Aku mendorong keranjang itu ke kasir setelah membayar, Diana menggamit lenganku, dan kami pun pulang.


Saat berhenti di lampu merah, seorang ibu melintas menyeberang jalan, tiba-tiba aku teringat ibuku. Kenapa sudah beberapa waktu ini Santi tidak menelepon? Biasanya seminggu sekali Santi selalu menghubungiku. Kemarin-kemarin aku tidak begitu memperhatikan karena memang pekerjaanku di kantor sedang banyak-banyaknya. Baru sekarang aku menyadari bahwa belum ada satupun panggilan dari Santi.


Keesokan harinya aku kembali bekerja, dan saat tiba di kantor, aku pasti akan sangat sibuk hingga lagi-lagi aku lupa menelepon Santi.


Aku pulang dengan badan yang terasa sangat lelah. Sesampainya di apartemen, ternyata Diana pergi. Dia menyelipkan pesan di magnet kulkas.


‘Haris, jangan tungguin aku karena aku mau ketemu sama teman-teman.’


Kebiasaan buruk Diana tidak berubah, berkumpul dengan teman-temannya, nongkrong di mall. Sepertinya Diana sudah lupa bahwa dia sedang hamil dan harus menjaga kondisi tubuhnya supaya kehamilannya lancar.

__ADS_1


Aku membuka kulkas lalu mengambil satu minuman dingin dan menenggaknya hingga habis.


Inilah saat yang tepat aku untuk menelepon Santi.


Bunyi telepon terhubung, tapi Santi tidak mengangkatnya. Aku coba lagi hingga panggilan keempat baru Santi mengangkatnya.


"Ada apa, Kak? Masih peduli sama kita?" Aku mendengar nada sinis Santi.


"Kamu kenapa, San? Kok marah-marah begini?"


"Siapa yang marah? Aku nggak marah sama Kakak, cuma aku sedang mencoba mengerti kalau Kakak tuh sekarang udah nggak mau diganggu kita lagi."


"Maksud kamu apa sih? Kenapa bilang Kakak tidak mau diganggu? Kakak selalu peduli sama kalian, justru kamu yang sudah lama tidak pernah telepon Kakak," kataku dengan nada sedikit meninggi.


"Kakak tau nggak, Ibu kemarin sempat terjatuh di kamar mandi dan hampir saja tidak tertolong. Tapi saat santi telepon, Aa mematikan ponselnya. Itu yang Kakak bilang peduli sama keluarga?"


"Tunggu-tunggu, memangnya kapan kamu telepon Kakak?" tanyaku penasaran.


"Udah lama sekitar tiga minggu  lalu. Pokoknya waktu itu paginya tanggal merah, makanya Santi nggak sekolah. Santi ingat betul," ujar  Santi masih terdengar ketus.


 "Sebentar-sebentar."


Aku berpikir sejenak lalu teringat kalau acara Baby shower yang diadakan Diana bertepatan dengan malam tanggal merah hari libur nasional. Aku juga ingat karena paginya, aku juga tidak berangkat kerja. Aku menggeram dan mengetatkan ponselku.

__ADS_1


"Santi kamu harus percaya, bukan Kakak yang mematikan telepon itu, mungkin kerjaan Diana. Ya sudah Ibu sekarang gimana keadaannya?"


"Ibu udah sehat, beliau sekarang baik-baik saja. Ibu udah pulang ke rumah setelah dirawat tiga hari di rumah sakit."


Kali ini nada suara Santi melembut. Ya Tuhan Ibu sampai dirawat di rumah sakit dan aku tidak tahu?


"Santi, dengar, Kakak benar-benar menyesal, tapi Kakak juga tidak tahu kamu telepon," ucapku menenangkannya.


Hening sesaat, sepertinya Santi sedang mencerna kata-kataku.


"Santi, Kakak tutup teleponnya dulu ya. Nanti Kakak hubungi kamu lagi. Yang penting, Ibu udah sehat, salam buat ibu. Kakak benar-benar minta maaf."


"Iya, Kak. Santi bisa ngerti kalau bukan Kakak yang matiin telponnya kok, cuma rasanya masih nyesek aja. Saat Santi butuh bantuan, malah diabaikan."


Santi sedikit mengomel, aku bisa memahami perasaannya. Aku mematikan telepon, kemudian memencet nomor telepon Diana.


Beberapa kali nada dering, Diana mengangkatnya.


"Ada apa, Mas? Aku kan sudah tinggalin pesan, nggak usah tungguin. Aku sedang bersenang-senang sama kawan-kawanku."


Tentu saja telingaku panas mendengar perkataan Diana.


"Pulang kamu sekarang! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu berani-beraninya lancang mematikan panggilan penting dari Santi? Ibuku hampir mati dan aku tidak bisa dihubungi. Kamu pikir ini lucu? Diana, pulang kamu sekarang, atau aku yang akan menyeretmu!"

__ADS_1


Tbc.


hayo lah adu jotos sekalian, bikin gemes emang Diana ini. Eh, tapi kasian juga, dia kan bumil.


__ADS_2