
POV Diana
"Selamat, ya, Diana, atas kehamilan anak pertamamu. Semoga lancar sampai waktunya melahirkan."
"Wahhh, selamat Di, akhirnya bakal ada si mungil menggemaskan. Kamu pasti happy!"
Suara-suara yang memberikan ucapan selamat atas kehamilanku terdengar indah dan nyaring di telinga ini.
Malam ini Papa mengadakan Baby shower untuk menyambut kehadiran janin di perutku. Kecil-kecilan buatku, tentu saja besar-besaran untuk Papa, karena Papa memakai jasa sebuah event organizer yang biasa dipakai oleh para artis ternama.
Aku sangat senang, masih di dalam perut saja bayiku sudah disambut sedemikian meriah. Aneka dekorasi dengan bunga segar berwarna pastel dan biru magenta memenuhi halaman, juga ruang tamu kami.
Rekan-rekan kerjaku, para notaris ternama, juga klien-klien yang pernah memakai jasaku berdatangan memberikan kado dan ucapan selamat. Jangan lupa relasi Papa yang jumlahnya ratusan. Aih, senangnya!
Sudah bisa ditebak kalau banjir hadiah dan ucapan selamat yang terdengar sangat merdu dan indah itu seolah-olah tidak ada hentinya, bersahut-sahutan turut menyambut kebahagiaan kami.
Kami? Apakah Haris juga berbahagia? Sepertinya sulit menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang. Sejak tadi aku jarang melihatnya. Sepertinya Haris terus saja menghilang dari pandanganku.
Dari kejauhan nampak keluarga Om Yoga dan istrinya, Tante Melani, melambaikan tangan ke arahku. Gawat kalau sampai aku tidak bersama Haris, bisa muncul gosip karena Tante Melani sangat bermulut tajam.
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh halaman rumah, mencari-cari sosok Haris. Di mana lagi suamiku berada?
"Di mana, sih, dia?" gerutuku.
__ADS_1
Oh, rupanya dia sedang menyendiri di sudut halaman. Haris, kenapa kamu harus bersikap sangat menyedihkan seperti ini? Bukankah seharusnya kamu ikut bersenang-senang dengan kami?
Oh ya, aku lupa dengan ancamannya untuk melanjutkan perceraian setelah anak kami lahir. Sepertinya Haris sudah menyiapkan diri untuk tidak lagi menjadi bagian dari keluarga ini.
"Congratulation dear, karena sudah dianugerahi seorang calon bayi yang lucu pastinya. Kalau cewek, pasti cantik seperti mamanya," ucap Tante Melani berbasa-basi, mencium pipi kanan dan kiriku.
"Terima kasih, Tante."
"Semoga semuanya lancar ya sampai nanti persalinanmu tiba. Rencananya mau melahirkan di sini atau di Singapura?" tanya Tante Melani sambil memegang perutku yang masih belum membuncit.
"Kepinginnya sih di sini saja, Tante. Tapi kata Papa lebih aman di Singapura, jadi Diana belum memutuskan," jawabku dengan senyum semringah.
"Sebentar ya, Tante."
"Ikut aku sekarang karena ada Tante Melani yang datang dengan suaminya," bisikku pada Haris.
Dengan malas, Haris menuruti perkataanku. Memangnya dia punya pilihan?
"Nah, Tante dan Om, silakan kalau mau menikmati hidangan."
Aku sengaja menempatkan Haris di sisiku supaya dia tidak kemana-mana lagi.
Yang jelas, aku ingin segera meniup semua gosip-gosip tentang perceraian kami yang sudah sempat berhembus di beberapa kalangan rekan kerja. Maklum saja, meskipun bukan artis, aku selalu saja menjadi bahan gosip dan perbincangan yang empuk di antara rekan-rekan notaris, baik yang tua maupun yang muda. Mungkin ada beberapa orang yang sudah menyiapkan pesta kalau aku jadi bercerai dengan Haris.
__ADS_1
Sekarang aku sudah mematahkan harapan mereka yang tidak suka kepadaku.
"Haris, jangan pergi-pergi lagi. Kamu cukup berdiri di sini, di sampingku," tegasku kepada Haris yang sudah mencoba mengendurkan pegangan tanganku.
Dengan raut wajah kesal, Haris menunduk. Dia tidak bisa menjawab apa-apa lagi.
Setelah bersalaman dengan beberapa tamu, Haris kembali ke meja dan mengikuti langkahnya. Tak berapa lama kemudian, saat ia berdiri menyalami seorang tamu, aku melihat ponselnya berdering. Ada panggilan dari Santi.
"Ah, mengganggu saja."
Aku segera mematikan ponsel Haris. Jangan sampai acara yang menghabiskan biaya miliaran ini harus terganggu dengan telepon dari keluarga Haris.
"Diana, selamat, atas kehamilanmu. Memang ya, hasil tidak menghianati usaha. Tinggal dijaga saja. Sudah tahu gendernya?" tanya Novia.
Dia juga sama-sama seorang notaris. Yang aku tahu, diam-diam Novia selalu berusaha bersaing dengan aku.
"Sepertinya sih cewek, tapi kami ingin ini jadi kejutan saja. Makasih Novia udah mau datang."
Novia melirik ke arah Haris. Aku tahu dia adalah salah satu orang yang menyukai suamiku. Cukup banyak wanita-wanita yang menyukai Haris dan aku hafal betul siapa mereka.
Tidak akan, mereka tidak akan mendapatkan Haris, karena Haris cuma milikku satu-satunya. Bayi ini adalah penguat hubungan kami. Meskipun bayi ini sebenarnya bukan anak Haris. Ops, aku akan membawa rahasia ini sampai mati!
Tbc.
__ADS_1
Andre gak keliatan-keliatan neh, ada yang kangen gak? hahaha