
Pov Haris
Aku duduk termenung di ranjang kontrakan Keysha. Menatap nanar pada cincin yang tergeletak di atas meja rias. Keysha telah pergi entah kemana meninggalkan aku begitu saja tanpa kata. Aku masih tidak percaya dia tega mencampakkan aku seperti ini. Aku pun bertanya-tanya, apa salahku? Tidak! Aku memang salah karena tidak menepati janji menjemputnya pulang kerja, tapi … semua di luar kendaliku. Apa aku tidak pantas diberikan kesempatan untuk membela diri. Setidaknya, jika memang ia ingin pergi. Aku ingin tahu alamatnya yang baru agar sesekali aku bisa diam-diam mengamatinya dari jauh, karena sekarang saja aku sudah merindu.
“Aaaarggg! Dimana kamu, sayang?” lirihku lemah.
Aku sudah tidak memiliki semangat karena Keysha menghilang bak ditelan bumi, tidak ada jejak yang tertinggal seolah memang ia tidak ingin ditemukan. Apa dia meragukan perasaanku? Apa selama ini ungkapan cintaku hanyalah angin lalu. Aku tidak pernah main-main ketika bibirku berucap ingin hidup bersamanya, membangun mahligai pernikahan yang selama ini aku idamkan.
Awalnya aku masih memiliki harapan, aku pun pergi ke tempat Keysha bekerja berharap ia ada di sana. Namun, nihil. Aku hanya mendapatkan kabar jika mereka tidak mengetahui apa pun, bahkan katanya Keysha tidak datang hari itu. Aku semakin prustasi, kemana lagi aku harus mencari?
Saat itu juga aku teringat Ayu, aku langsung mendatangi wanita yang merupakan teman baik Keysha.
Tok, tok, tok!
Aku mengetuk pintu hingga pintunya terbuka, tapi sebuah gertakan yang aku terima.
__ADS_1
“Mau apa lagi sih? Sudah aku bilang Keysha tidak ada di sini. Keysha sudah pergi jauh darimu!”
“Maaf?” aku mengerutkan kening.
Barusan Ayu berkata tanpa melihat wajahku dan ketika dia mengecek siapa yang datang ke rumahnya, ia pun langsung tersenyum kikuk.
“Maaf saya salah orang. Anda, Haris?” tebaknya.
“Iya, saya Haris!” ucapku mengiyakan. Ini adalah pertama kali aku bertemu dengan Ayu. Aku mengetahui alamat Ayu dari Keysha yang pernah menceritakan tentang temannya itu. Sepertinya barusan ia sedang mengusir Andre selaku mantan suami.
“Apa Keysha ada di sini?”
“Maksudnya? Bukannya Keysha bersama Anda?” tanya Ayu cemas. Wanita itu melunturkan senyumnya yang sempat terpatri.
Aku mengulum bibir getir, sebaiknya aku menceritakan semuanya agar Ayu tidak salah paham. Namun, yang aku dapat adalah sebuah lemparan bantal. Lemparan yang membabi buta hingga aku kewalahan.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak menjaganya dengan baik? Sampai saat ini Keysha tidak kunjung menghubungiku! Pokoknya aku minta kamu cepat menemukannya!” desak Ayu. Wajah wanita itu memerah disertai air mata. Aku menerima pukulan itu tanpa melawan.
“iya, semua memang salahku. Jika aku memiliki petunjuk, satu saja. Aku pasti akan bisa membawanya kembali. Sayangnya aku tidak memilikinya.”
Ayu terduduk di kursi teras. Wanita itu sangat syok, mungkin ia berpikir, mengapa Keysha mengalami kehidupan yang sangat sulit? Tidak hanya kesulitan oleh mantan suami, mau menjalani hidup bahagia pun ada saja kendalanya. Apa memang kami tidak berjodoh?
Aku menggelengkan kepala menyangkal.
***
Aku pun pulang tanpa hasil, berjalan gontai menuju kontrakan. Sebelumnya aku menyempatkan diri untuk mengecek kontrakan Keysha. Barangkali wanita itu kembali, meski terdengar sangat tidak mungkin. Tempat itu masih sama, tanpa adanya kehidupan. Aku merebahkan diri di ranjang wanita yang aku cintai, di sana masih tersisa jejak harum tubuhnya. Aku menhirupinya dengan dada sesak. Oh, Tuhan … tolong pertemukan aku dengannya,” mohonku pada semesta yang sepertinya masih enggan menyatukan kami.
Tbc.
Wah, niat siang, tetep upnya malem. sambil ngerjain prohect baru. klo sempet mampir ya, sambil nunggu Keysha!
__ADS_1