
POV Santi.
Punya seorang kakak perempuan? Hal itu tidak pernah aku rasakan seumur hidup. Kak Haris memang menikahi seorang perempuan, Kak Diana, tetapi dia tidak pernah bisa menjadi kakakku.
Sekarang aku mendapatkan seorang kawan baru yang sudah aku anggap sebagai kakak sendiri. Namanya Kak Keysha. Pertemuan kami berawal di warung Mang Usup. Saat itu aku tak sengaja menabraknya, hingga makanan yang kupegang terjatuh.
Kak Keysha kemudian menawarkan untuk mengganti makanan tersebut.
Padahal aku yang salah, tapi dia yang minta maaf juga mau mengganti makananku. Tentu saja sikap terpuji seperti ini menarik perhatianku. Selain cantik Kak keysha juga sangat ramah, tidak heran banyak yang menyukainya, termasuk aku.
Aku sedang memegang ponsel dan bertukar pesan dengan Kak Keysha. Setelah pertemuan itu kami menjadi semakin dekat. Tidak jarang kamu membuat janji untuk bertemu lagi di warung Mang Usup. Kak Keysha bekerja sebagai guru di lembaga pendidikan yang mengajar anak-anak SD, tapi ternyata dia juga mahir dalam pelajaran anak SMA. Kak Keysha sering memberikan materi bahkan mengajariku trik-trik yang mudah untuk belajar, kebetulan saat ini aku sedang persiapan ujian kelulusan.
Karena itu aku selalu berusaha untuk membuat janji dengan Kak Keysha. Aku juga senang karena Kak Keysha benar-benar berlaku seperti seorang kakak yang menyayangi aku.
"Halo Santi!" Kak Keisha menyambutku dengan senyumnya yang indah di warung Mang Usup. Aku membalasnya dengan pelukan hangat.
"Ini Kakak bawain makanan. Tadi Kakak sempat masak cumi item, tapi kebanyakan. Tolong dibantu untuk habiskan ya," seloroh Kak Keysha sambil tertawa kecil.
"Wah Kakak ini sudah cantik, pintar masak juga. Kapan-kapan ajarin Santi masak ya Kak, biar Ibu senang karena selama ini Santi masaknya dari telur ke mie, repeat," jawabku yang ditimpali geli olehnya.
"Haha tentu saja, kapan-kapan Kakak ajak kamu datang ke rumah kontrakan Kakak yang sederhana. Jadi gimana sudah dikerjakan soal latihannya?" tanya Kak Keysha.
"Iya Kak udah. Makasih ya selama ini udah bantuin Santi untuk menyelesaikan soal-soal rumit itu. Santi benar-benar udah nggak ngerti lagi, bingung sama pelajaran akhir-akhir ini. Berkat bantuan Kakak, Santi jadi semakin paham menyelesaikan soal-soal, terutama matematika dan IPA," ucapku jujur.
"Syukurlah kalau memang kehadiran Kakak bisa bermanfaat buat kamu. Ya udah, sini Kakak coba periksa hasil latihan soal yang kemarin."
Ternyata soal-soal yang aku kerjakan hampir semuanya benar. Ini tentu membuat aku senang. Di sekolah, nilaiku juga berangsur membaik. Kehadiran Kak Keysha benar-benar satu anugerah dalam hidupku.
Aku pun tak tahan untuk bercerita kepada Ibu tentang sosok Kak Keysha.
"Wah baik sekali dia. Kenapa tidak kamu aja ke rumah ini? Kalau memang Kak Keysha mau, Ibu juga ingin berkenalan dengannya, sekalian mau mengucapkan terima kasih karena udah bantuin kamu Santi," ucap Ibu.
__ADS_1
"Iya juga ya. Kalau gitu nanti aku bikin janji sama Kak Keysha untuk datang ke rumah ya Bu."
Tentu saja aku senang memperkenalkan Kak Keysha kepada ibu. Ibu pasti juga akan senang karena selain cantik, Kak Keysha juga sangat ramah dan lembut.
Selama ini aku tidak pernah menemukan sikap itu dalam diri Kak Diana. Dia memang Kakak iparku, tapi selama di rumah ini Kak Diana tidak pernah mengajakku mengobrol, bahkan terkesan menjaga jarak.
Kak Diana selalu menatapku dengan tatapan merendahkan hingga aku enggan untuk mendekatinya. Aku tahu kasta kami berbeda.
"Datang ke rumah kamu? Serius ini?" tanya Kak Keysha dengan mata berbinar saat aku menawarinya untuk datang ke rumah.
"Iya, Kak."
Kak Keysha mengumbar senyum lebarnya, seolah-olah masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Aku sudah cerita tentang Kakak sama ibu dan ibu penasaran mau lihat Kakak. Ibu ingin mengenal Kakak lebih dekat. Gimana kalau minggu depan Kakak datang ke rumah?"
"Hmm, minggu depan? Boleh deh, kayaknya minggu depan juga Kakak nggak ada acara."
"Nggak apa-apa, Santi jemput Kakak di sini? Kasih alamatnya saja, nanti Kakak datang sendiri."
"Jangan, atuh, nanti kesasar biar Santi aja yang jemput Kakak dari sini pake motor."
Aku dan teteh Keysha janjian di warung Mang Usup, tempat strategis. Lalu kami pun saling berboncengan menggunakan motor maticku yang Kak Haris belikan tahun lalu.
"Aduh, kenapa Kakak jadi deg-degan ya mau datang ke rumah kamu?" celetuk Kak Keysha saat kami berada di dalam perjalanan.
"Kakak itu sudah tidak punya orang tua, Santi. Bapak dan Ibu sudah meninggal dunia. Kalau bapak meninggal waktu Kakak masih kecil. Kalau Ibu baru lima tahun lalu, jadi rasanya mau bertemu sama Ibu kamu Kakak jadi gugup," curhat Kak Keysha.
Aku hanya tersenyum dan berusaha menenangkannya.
"Biasa aja kali, Kak, anggap saja Ibu adalah ibunya Kakak."
__ADS_1
20 menit kemudian kami sampai tujuan. Setelah memarkirkan motor, aku mengajak Kak Keysha berjalan menuju teras rumah.
"Bu, ini dia Kak Keysha yang Santi ceritakan sama ibu," seruku semangat. Aku mencari keberadaan Ibu setelah mempersilahkan Kak Kesyha duduk di kursi tamu. Ibu ternyata sudah bersiap sejak tadi. Ia menghampiriku dan Kak Keysha.
"Selamat siang, Bu. Saya Keysha, temannya Santi," ucap Kak Keysha sambil mengulurkan tangannya.
Entah mengapa raut wajah Ibu berubah, sebelum tadi melihat Kak Keysha, Ibu tampak berbinar. Namun, setelah Ibu berhadapan langsung dengan Kak Keysha, binar itu memudar. Aku bisa melihat keraguan ketika Ibu menerima uliuran tangan Kak Keysha.
‘Ada apa dengan ibu? Kok sepertinya dia melihat Kak Keysha dengan tatapan mata yang aneh?’
"Ayo, Kak, silakan duduk!" tawarku kepada Kak Keysha setelah berjabat tangan dengan Ibu.
"Iya, terima kasih." Kak Keysha masih tersenyum manis.
"Maaf ya, Ibu masuk dulu," kata Ibu sambil masuk ke dalam kamarnya.
Aku sendiri heran kenapa Ibu bersikap seolah menolak Kak Keysha? Bukankah Ibu yang antusias ingin bertemu dengan Kak Keysha? Kenapa tiba-tiba sekarang ibu bersikap dingin?
Akhirnya aku dan Kak Keisha hanya mengobrol berbasa-basi sebentar. Kak Keysha sepertinya tahu sambutan Ibu tidak sehangat yang ia bayangkan. Tak lama kemudian, Kak Keysha pamit. Aku sungguh tidak enak hati, Ibu pun tak keluar dari kamarnya.
“Kak, maaf ya jadi dicuekin. Kayaknya Ibu lagi gak enak badan,” sergahku agar Kak Keysha tidak kecewa.
“Iya, tidak apa-apa, Santi. Salam untuk Ibumu ya, moga lekas sembuh.”
Aku mengangguk pelan. Aku semakin penasaran dengan sikap ibu.
Setelah mengantar Kak Keysha hingga menaiki angkutan umum, aku segera menemui ibu.
"Kenapa, Bu? Kok Ibu sepertinya tidak suka dengan Kak Keysha? Orangnya ramah dan baik begitu lho, aku jadi ngga enak sama dia." tanyaku keheranan.
"Santi, mulai sekarang kamu tidak boleh lagi dekat-dekat dengan perempuan yang bernama Keysha itu," sahut ibu dengan ketus.
__ADS_1