Rahim Impian

Rahim Impian
Salah paham


__ADS_3

POV Santi


Duniaku kembali berputar, setelah semalam aku merasa duniaku terhenti seketika, saat mendapati tubuh Ibu terjatuh di kamar mandi. Pagi ini, Ibu sudah sadarkan diri.


Meskipun wajahnya masih pucat tetapi Ibu sudah bisa diajak berkomunikasi. Tidak ada gejala stroke ataupun kelumpuhan. Sebelumnya, aku sempat ketar-ketir. Biasanya jika ada orang tua yang terjatuh di kamar mandi, tak jarang mereka berakhir meninggal dunia atau stroke.


Ada juga tetangga kami yang usai jatuh dari kamar mandi, tubuhnya lumpuh dan tidak bisa berdiri. Ibu benar-benar masih sangat beruntung, aku mengucapkan syukur berkali-kali, Tuhan masih menyayangi kami.


Ibu memang tidak bisa beristirahat lama-lama di rumah. Selalu ada saja yang ia kerjakan, mungkin karena Ayah sudah meninggal sejak aku masih kecil, jadi ibu terbiasa bekerja. Karena itulah fisiknya sekarang masih tetap kuat meskipun usianya tidak lagi muda.


Ibu berusaha menghiburku yang masih memeluknya dengan tangisan.


"Sudah jangan menangis lagi, lihat Ibu tidak apa-apa. Masih segar bugar gini kok ditangisi?"

__ADS_1


Bagaimana aku tidak menangis kalau mengingat kejadian tadi malam. Saat aku dan Kak Keysha membopong tubuh Ibu ke dalam mobil, kupikir itu saat terakhir aku melihat Ibu.


"Bagaimana cara kamu membawa Ibu ke rumah sakit sendirian, Santi? Pasti Ibu merepotkan kamu ya?" tanya Ibu.


"Ibu, kok bicara begitu? Tidak ada merepotkan, Santi. Maaf, Santi terpaksa meminta bantuan Kak Keysha, karena tadi malam Kak Haris tidak bisa dihubungi. Begitu juga dengan Kak Diana. Dua-duanya ponselnya mati, jadi Santi dengan terpaksa meminta bantuan Kak Keysha. Ibu tidak marah ‘kan?" tanyaku.


Terlihat Ibu menarik nafas panjang. Bagaimanapun juga, sisa-sisa kebencian dan rasa tidak suka itu masih terlihat jelas di matanya. Aku tidak bisa menyalahkan Ibu atas apa yang sudah terjadi antara Kak Haris dan Kak Keysha. Mereka berdua sudah cukup dewasa untuk memilih jalan mereka sendiri dan aku tidak mau menghakimi. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Bu, Santi sudah bicara dengan Kak Keysha. Memang kemarin-kemarin Kak Keysha sempat punya hubungan dengan Kak Haris, tapi sekarang mereka sudah lama tidak berkomunikasi. Bu, Santi tahu yang dilakukan Kak Keysha itu salah, dan kemarin Kak Keysha meminta maaf dengan tulus. Ia juga minta Santi menyampaikan permintaan maafnya itu kepada Ibu."


"Iya, Bu. Kak Keysha bilang kalau sudah menyadari yang ia lakukan itu salah, makanya Kak Keysha sekarang tidak mau berhubungan lagi sama Kak Haris."


"Kalau benar ceritamu itu, Ibu jadi merasa nggak enak sama Keysha. Dia menolong Ibu saat kamu butuh bantuan. Sikap ibu kemarin kepadanya sungguh tidak pantas. Ibu bahkan mengabaikannya, tapi Keysha masih mau datang ke rumah kita dan menolong Ibu. Aduh, Santi, bagaimana ini? Ibu benar-benar merasa bersalah sama Keysha."

__ADS_1


Raut wajah Ibu kembali muram, jelas terlihat penyesalan di wajah Ibu. Selama ini aku sudah mengenal Ibu dengan baik, dan ibu juga jarang sekali bersikap tidak ramah kepada orang lain. Gara-gara Kak Diana yang sudah memperlihatkan foto itu membuat Ibu jadi memusuhi Kak Keysha.


"Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga Kak Haris dan Kak Diana ‘kan Bu? Jadi sebaiknya kita bersikap netral saja. Apalagi sekarang Kak Keysha sudah mengakui kesalahannya. Kalau menurut Santi, perselingkuhan itu tidak mungkin hanya dilakukan satu pihak. Ini juga ada andil kesalahan Kak Haris, jadi tidak seharusnya kesalahan ini kita timpakan sepenuhnya kepada Kak Keysha."


Aku berusaha menyampaikan pendapatku, terserah kalau Ibu tidak mau menerimanya. Yang jelas, aku lega mengatakan ini. Masih terbayang wajah penyesalan dan ketulusan Kak Keysha saat meminta maaf, bahkan ketika pergi dari rumah sakit ini. Dia terlihat hancur dan sangat sedih.


"Mungkin kalau tidak ada Kak Keysha yang tadi malam menolong Ibu, tadi malam ..."


Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Sepertinya Ibu paham yang aku maksud.


"Kalau tidak ada Keysha, mungkin saja Ibu sudah meninggal, iya kan?" sela Ibu.  Aku menundukkan kepala.


"Ibu istirahat, ya, supaya lekas sembuh dan kita bisa pulang," bujukku.

__ADS_1


Aku menggenggam tangan Ibu erat-erat. Sungguh, aku tidak ingin ibuku menjadi kepikiran tentang peristiwa ini. Rasa sayang Ibu kepada Kak Haris sejak dulu memang begitu besar. Ibu pasti tidak mau terjadi apa-apa dengan rumah tangga Kak Haris. Aku bisa memaklumi sikap ibu ini.


Tbc.


__ADS_2