
POV Diana
Kalah, menyerah, kata-kata itu tidak pernah ada di dalam kamusku. Sejak kecil, aku sudah dikondisikan untuk menang dengan cara apa pun. Namun, kata-kata ibunya Haris cukup membuatku melongo tak percaya mendengarnya.
"Sudah cukup, Diana. Sebaiknya kamu pulang saja. Kamu tidak ada urusan lagi dengan Haris. Ibu sudah tahu semuanya. Kamu tidak bisa menginjak-injak harga diri kami lagi," geram ibu Haris.
Bagaimana mungkin mertua yang selama ini mendukung semua langkahku tiba-tiba berteriak mengusirku dari rumahnya yang kumuh ini? Aku sungguh tak percaya. Sudah miskin, sombong pula!
'Sabar, Diana, bersabarlah demi Haris', batin ku menguatkan.
"Ibu, jangan percaya dulu apa yang dikatakan Haris, sebelum saya menjelaskan semuanya. Diana nggak salah apa-apa, Bu."
Aku menundukkan wajah, membuat mimik wanita tersakiti, berusaha meyakinkan wanita tua yang terlihat pucat itu. Tatapan matanya berkilat penuh kemarahan, tapi tetap saja kelemahan itu terlihat di sana.
"Ibu, Diana sendiri bahkan nggak tahu kenapa tiba-tiba mas Haris pergi meninggalkan apartemen kami begitu saja. Bu, tolong bantu Diana, apa mungkin dia kembali lagi sama wanita yang pernah aku perlihatkan fotonya sama ibu?"
Aku berusaha membuat alibi baru, memutar cerita lama yang mungkin saja berulang kembali. Berharap perempuan tua di hadapanku ini bisa kembali berpihak pada menantunya. Tak lupa, kedua tangan ku tangkupkan di depan dada, untuk meyakinkan aku butuh pertolongan.
__ADS_1
"Sudah cukup! Hentikan omong kosongmu itu, Diana!" Tiba-tiba Haris menyeretku dengan tergesa-gesa untuk memasuki mobil.
"Aduh, lepasin, Haris! Sakit!"
Aku mengibaskan tangan, mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan Haris yang begitu kuat.
"Jangan mempermalukan dirimu sendiri! Aku sudah tahu sandiwara yang kamu mainkan! Anak yang di dalam perutmu itu bukan anakku, tapi anak Andre."
Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut mendengarnya, karena sudah berpikir kalau suamiku mendengar apa yang aku bicarakan dengan Andre. Si bedebah itu memang tidak tahu diri dan tidak tahu tempat. Karena kelancangannya sekarang Haris meradang dan tahu rahasia yang aku kubur dalam-dalam, bahkan sudah berniat aku bawa sampai mati.
The show must go on. Sandiwara harus tetap dimainkan. Dengan raut wajah terkejut, aku memandang Haris.
"Kamu pikir aku sebodoh itu sampai tidak bisa mengetahui semuanya? Mungkin kamu bisa berbohong dan terus menutupinya, tapi tidak dengan laki-laki itu. Jelas-jelas aku mendengar kalian berbicara di samping rumah sakit. Andre mengatakan anak yang di dalam perutmu adalah anaknya. Kamu sudah selingkuh sama Andre!" teriak Haris membuat bulu-buluku merinding.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan, lalu menangis mendengar tuduhan Haris. Ini harus berhasil.
"Sakit sekali rasanya kamu menuduhku begitu. Kamu harus dengerin aku. Jangan percaya orang lain, anak ini benar-benar anak kamu, sayang, bukan anak Andre. Lagian, kamu tega-teganya menuduh aku berhubungan sama Andre. Ini tuduhan yang serius. Aku nggak nyangka kamu setega ini!"
__ADS_1
Kembali aku memainkan mimik muka seperti istri terzalimi. Haris tidak boleh memperlakukan aku seperti ini, menangkapku seperti seorang pencuri. Dengan sedikit cucuran air mata ini, pasti Haris akan luluh.
"Sayang, aku tahu selama ini aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, tapi aku janji setelah ini aku tidak akan menjadi istri pembangkang. Apa pun perintahmu akan aku lakukan demi anak kita." Aku mengusap perut yang membuncit, memohon belas kasihan Haris yang berhati lembut. Iya, hati lembut itu, kemana dia sekarang?
"Aku tidak akan tertipu lagi oleh sandiwaramu ini, Diana." Haris menggelengkan kepala, lalu membanting pintu mobil setelah mendorongku untuk masuk.
"Pergi dan jangan pernah kembali atau berani menemui aku lagi. Kita hanya akan bertemu di pengadilan agama," tandasnya.
Kata-kata Haris menusuk hati, meskipun berkali-kali aku sudah mendengarkan dan hafal dengan ancamannya. Kali ini ancaman itu terdengar serius. Kalau Haris tahu anak ini memang bukan anaknya, alasan apalagi yang membuatnya terus hidup bertahan denganku?
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara, Haris! Anak ini anakmu, bukan anak Andre. Kamu harus percaya itu!" Aku berteriak untuk meyakinkannya.
Aku berusaha untuk membuka pintu mobil, tapi Haris mengangkat tangannya memberi kode agar aku segera pergi. Pria itu berjalan pelan-pelan mendekati ibunya yang masih digandeng oleh Santi, lalu dengan penuh kasih, dia juga menuntun ibunya. Mereka bertiga memasuki rumah tanpa memedulikan aku lagi.
"Ah, sial! Aku tidak boleh menyerah!" Aku memukul setir dengan kekuatan penuh, hingga tangan ini terasa nyeri.
"Tidak bisa, ini tidak boleh terjadi. Bagaimanapun juga, aku tidak pernah kalah. Tidak juga kali ini. Aku harus mencari cara lain." Di sepanjang jalan aku bergumam.
__ADS_1
"Diana, wanita kuat anti kalah tidak akan menyerah begitu saja."
Aku terus menenangkan diri.