
POV Haris
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini, Diana berdiri di balik pintu mobil sebagai penumpangku. Aku mengecek kembali nama penumpang yang tertera di dalam aplikasi, mungkin saja terjadi kesalahan.
“Itu nama kecilku, Haris. Kamu tentunya tidak lupa.”
‘Nana’ itu nama yang tertera di aplikasi, sayangnya aku sama sekali tidak memikirkan ke arah sana. Banyak Nana di dunia ini selain istriku, Diana. Aku mendengus kesal, hari ini benar-benar luar biasa. Luar biasa sial! Baru saja aku bersemangat karena ini akan menjadi penumpang terakhirku sebelum pulang ke rumah dan menghabiskan waktu bersama Keysha. Namun, ternyata malah dihadapkan dengan orang yang aku hindari sejak hampir sebulan ini. ****!
“Aku terkejut setelah tau kamu akan menjadi seorang driver online,” kekeh Diana sambil menaiki mobil. Aku menghela napas kasar, bahkan aku belum mempersilahkannya.
“Turun!” ucapku dingin.
“Apa?”
__ADS_1
“Aku bilang turun, sebaiknya kamu batalkan pesananmu!” aku mengulang tanpa merubah ekspresi.
Diana diam, aku pun melirik padanya yang tampak kesal. Lihat saja, dia akan meledak sebentar lagi.
“Hiks!”
Aku tersentak, kini aku menoleh dan melihat jelas Diana. Wanita itu menunduk dengan bahu gemetar. Diana menangis?
“Aku tidak menyangka, kamu akan berubah sedingin ini. Apa semua yang telah kita lalui tidak berarti? Apa memang aku sudah tidak ada di hatimu lagi? Haris?” suaranya serak tidak berdaya.
“Maafkan aku Diana, mungkin ini terdengar gila. Sebaiknya kamu membenciku mulai dari sekarang, karena yang ada di hatiku kini orang lain. Aku bukan suami yang baik, aku seorang brengsek yang menyianyiakan istri sebaik dirimu, karena itu … perceraian adalah jalan yang terbaik untuk kita.”
Tangis Diana semakin pecah, aku tidak ingin memberikan harapan palsu, aku pun tidak ingin melakukan semua hal karena rasa tidak enak atau sebagainya. Aku ingin melakukan semua sesuai dengan isi hatiku. Sudah 4 tahun menjalani rumah tangga penuh kepura-puraan, karena belas kasih orang lain. Karena belas kasih keluarga Diana. Aku berjuang sendirian, mencari harga diri yang selama ini tidak berharga di mata Diana.
__ADS_1
“Tapi aku masih mencintaimu, Haris. Sejak dulu, tidak berubah, tapi kenapa kamu tega sama aku?”
Diana memukul dadaku dengan tanganya yang terkepal, aku membiarkannya.
‘Cinta apa yang kamu maksud, Diana? Cinta yang merendahkan? Apa pernah kamu membelaku di hadapan orangtuamu? Yang sejak awal bertemu selalu menatap cemooh padaku karena aku bukan dari keluarga kaya. Kini inilah jadinya, darah kampunganku malah berani mengkhinatimu, apa kamu merasa kesal karena hal itu? Merasa diremehkan, karena tidak berhasil menginjak kepalaku semakin dalam?’
***
Aku mengantar Diana sampai apartemen karena dia tidak berhenti menangis, tentu aku tidak cukup kejam untuk mengeluarkannya dari mobil di tengah jalan.
“Apa kita tidak bisa mengulangnya dari awal?”
Aku tidak menjawab, bagiku sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas.
__ADS_1
“Setidaknya, tolong temani aku malam ini sebagai salam perpisahan. Meski di hatimu sudah tidak ada aku, pasti ada hal menyenangkan yang tersisa. Izinkan aku mengenangnya, Haris!”