
POV Haris
Aku berhasil mendapatkan alamat Keysha yang tidak begitu jauh dari yang kukira. Aku sempat merutuki diri, mengapa sebelumnya tidak bertanya lebih dulu hingga tidak perlu memakan waktu lama hanya untuk mencari alamat. Dengan perasaan tidak menentu aku pergi menuju alamat tersebut, berharap bisa menemui Keysha dan meyakinkannya akan hubungan kami. Jika perlu, aku akan meminta langsung pada Andre agar melepaskan Keysha. Karena aku tahu jika Keysha menderita hidup bersamanya.
“Ah, aku bisa gila!” gumamku karena terjebak macet. Seharusnya aku menggunakan jasa ojek saja.
“Pak, berhenti di sini!” aku pun segera keluar dari taxi setelah memberikan dua lembaran uang berwarna merah.
“Eh, Mas. Ini kebanyakan,” selanya menahanku.
“Tidak apa-apa, ambil saja,” jawabku.
Wajah bapak sopir itu langsung berbinar. “Wah, makasih, ya!”
Aku mengangguk kemudian berjalan menuju pangkalan ojek. Di sana ada beberapa tukang ojek yang sedang mangkal menunggu penumpang.
“Bisa antarkan saya ke alamat ini?” pintaku pada salah satu tukang ojek seraya memberikan secarik kertas. Pria itu membaca lamat-lamat kemudian mengangguk mantap.
“Bisa, Mas. Mari saya antar!”
Aku bernapas lega, ternyata keputusanku tepat menggunakan ojek karena tidak perlu memakan waktu lama, aku sudah berada di halaman depan rumah Keysha. Jantungku berdebar tidak beraturan hanya sekedar memandang bangunan itu, tempat di mana Keysha tinggal.
Setelah mengumpulkan keberanian serta berbagai rangkaian kata, aku melangkahkan kaki memasuki perkarangan sampai ke teras. Aku mengetuk pintu sambil menerka, siapa kira-kira yang akan membuka pintu?
__ADS_1
Semenit, dua menit, pintu itu tidak kunjung terbuka. Tidak terdengar pula suara dari dalam sana. Aku pun mengetuk kembali, tapi tetap tidak ada yang terjadi. Rumah itu memang tampak lengang.
‘Apa Keysha sedang pergi? Begitu juga dengan Andre? Seingatku hari ini adalah weekend. Seharusnya mereka berdua ada di rumah. Atau jangan-jangan, Keysha dan Andre sedang jalan-jalan karena hubungan mereka membaik kemudian Keysha akhirnya memutuskan untuk meninggalkan aku?’
Hatiku terasa seperti dicubit, nyeri sekali membayangkan Keysha bermesraan dengan Andre. Aku tahu, Andre berhak atas Keysha. Mereka masih lah berstatus suami istri, tapi aku tetap tidak rela jika tidak mendapatkan jawaban langsung dari bibir Keysha. Bisa saja yang mengirim pesan itu Andre. Aku berusaha berpikir ke arah sana. Dan bila kenyataannya memang Keysha ingin mengakhiri kisah kami karena merasa bahagia dengan Andre mungkin aku akan merelakannya. Entahlah, apa aku bisa selapang itu.
Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya pada wanita lain. Namun, pada Keysha aku ingin memperjuangkannya meski aku harus menempuh jalan yang salah.
“Cari siapa ya?” tegur seorang wanita muda padaku yang sejak tadi mengetuk pintu. Aku menoleh dan mengangguk sungkan.
“Saya mencari Keysha.”
“Mbak Keysha, memang Mas siapanya?” tanyanya sambil memandangku dari atas sampai ke bawah.
Mendapatkan pertanyaan itu aku baru sadar, jika Keysha tidak bisa sembarangan mendapatkan tamu lawan jenis. Demi nama baiknya aku pun berbohong.
“Owh, Mbak Keysha kerja toh?”
“Iya, Keysha bekerja sebagai guru les,” jawabku karena aku tahu dia sudah mendapat pekerjaan itu.
“Ya ampun, saya kira Mbak Keysha cuma Ibu rumah tangga biasa, soalnya memang dia di rumah terus.”
“Keysha memang baru diterima kerja.”
__ADS_1
“Apa Mas kesini karena Mbak Keysha tidak datang kerja ya?” tebaknya. Aku pun mengangguk agar orang itu tidak banyak tanya.
“Hm, kemarin sih saya sempet denger ada ribut-ribut di rumahnya terus Mbak Keysha pergi dengan teman wanitanya, tidak tahu ke mana.”
Aku sangat terkejut dengan keterangan orang itu, sepertinya dia tetangganya Keysha hingga tahu akan kejadian yang ada di rumah Keysha.
“Keysha pergi? Lalu suaminya?”
“Oh iya, sini deh Mas saya ceritain!” tawarnya agar aku mendekat.
Karena penasaran, aku pun menurut hingga mendekatkan telinga pada wanita muda itu.
“Kemarin Mas Andre, suaminya Kak Keysha terkunci di dalam rumah. Dia berteriak-teriak memanggil Mbak Keysha. Kayaknya sih dikunciin sama Mbak Keysha. Untung kuncinya ada di bagian depan pintu, jadi kemarin di tolongin sama Pak RT biar Mas Andre bisa keluar rumah, tapi anehnya kenapa Mas Andre tidak lewat pintu belakang ya? Mereka ‘kan ada taman di belakang rumah,” terang wanita muda itu sambil terkekeh.
“Emang aneh suaminya Mbak Keysha itu. Suka teriak-teriak marahin Mbak Keysha tanpa sebab. Masalah ini cuma saya yang tahu, soalnya pasangan itu selalu terlihat harmonis saat didepan umum, apa lagi waktu ada acara RT/RW. Mungkin Mbak Keysha lelah kali, jadi dia kabur," tambahnya mengungkapkan hal yang baru aku tahu.
“Beneran, Mbak suka lihat Keysha dimarahin?”
“Setiap hari malah, nggak lihat langsung sih. Tapi suaranya kedengeran sampe luar.”
Kenyataan memang selalu di luar dugaan. Saat aku ingin merelakan, ternyata Tuhan memberikan jawaban apa yang harus aku lakukan. Kali ini aku semakin mantap dengan pilihanku. Andre tidak layak untuk Keysha. Dia sama sekali tidak pernah menghargai Keysha. Dasar bermuka dua!
“Makasih Mbak untuk infonya, kebetulan saya ada keperluan lain.”
__ADS_1
“Eh, kok sudah mau pergi saja, Mas? Boleh minta nomor HPnya?”
Aku tersenyum masam. “Maaf, saya sudah punya calon istri,” jawabku cepat kemudian pergi dari sana.