Rahim Impian

Rahim Impian
Diana Nekat


__ADS_3

(POV Haris)


Diana benar-benar kelewatan, menyusul aku ke hotel padahal aku sudah berusaha serapi mungkin menyembunyikan semua ini.


Wajah pucat Keysha jelas terlihat saat Diana datang dan menyapa kami dengan garang. Istriku itu tipe pencemburu. Menyaksikan Keysha sedang makan berdua denganku, pasti telah memicu kecurigaan di benaknya. Wajar saja Keysha langsung tertunduk pasrah tidak bisa membela diri. Aku yang salah telah menyeretnya dalam situasi ini. Maafkan aku Keysha.


Saat perjalanan pulang aku mengirimkan banyak pesan, tetapi Keysha tidak membalasnya satu pun. Aku berusaha menenangkan dia dan berjanji bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, bagaimana mungkin? Diana menyukai keributan dan saat tiba di rumah perang besar pun segera dimulai.


“Ternyata begitu, ya, kelakuanmu? Tega sekali menodai kepercayaanku, Haris!”


“Diana, aku sudah bilang kami tidak sengaja bertemu. Karena situasi ramai aku mengajaknya duduk satu meja, itu saja. Apalagi yang kamu ributkan? Wajar, bukan? Kecuali aku tidak mengenalnya.”


“Haris, sekarang kamu bisa bersilat lidah, tetapi kalau aku menemukan bukti lain aku tidak akan tinggal diam. Kamu tahu papaku juga tidak akan terima kehormatan anaknya diinjak-injak oleh pria sepertimu.”


“Pria seperti apa maksudmu? Pria miskin yang sudah kamu angkat dari kemiskinan? Jangan lupa, Diana, aku juga bekerja keras dan kamu ikut menikmati hasilnya.”


“Hasil yang tidak seberapa. Bahkan untuk membayar perawatan tubuhku tiap bulan saja kurang. Ayolah, Haris, kita sama-sama tahu, aku yang paling besar memberi kontribusi di keluarga ini.”


Diana terus menyudutkanku dengan kata-katanya yang menyerang telak harga diriku. Aku tidak pernah berharga di matanya, seperti inikah rumah tangga yang harus aku jalani seumur hidup? Aku menyebutnya neraka.


Bukan hanya karena kehadiran Keysha. Sejak dulu aku sudah tidak cocok dengan Diana. Dalam hal apa pun; prinsip, pemikiran, gaya hidup, semuanya berbeda.


Sejak menikah dengan Diana keluargaku terlantar, meskipun setiap bulan Diana memberikan jatah dari gajiku yang  menurutnya tidak seberapa. Uang yang dikirimkan kepada Emak mungkin setara untuk jajannya tiga hari.  Sungguh tidak pantas.


Aku tidak mempermasalahkan nominal, tetapi Diana juga selalu melarangku menengok Emak di kampung. Ada saja alasannya untuk tidak ikut pulang ke kampung halamanku.


Aku tidak lagi punya kata-kata untuk membela Diana di hadapan Emak. Bahkan wanita yang melahirkanku itu juga tahu kalau aku tidak baik-baik saja berumah tangga bersama Diana. Namun, apa daya, Diana mengikatku terlalu kuat. Meski berkali-kali mulutnya bilang tanpa dia keluarga ini mungkin tidak akan ideal seperti sekarang, nyatanya melepaskanku pun dia enggan.


“Terserah apa yang kamu mau, Diana. Kalau kamu menginginkan perceraian aku bisa mengabulkan secepatnya.”

__ADS_1


“Haris, rendah sekali harga dirimu sebagai laki-laki. Berselingkuh semaumu lalu memintaku cerai?  Jangan mentang-mentang kamu laki-laki bisa seenaknya memperlakukan istrimu seperti ini!”


Apakah aku tidak salah dengar? Seharusnya dia ngaca!


“Bukannya kamu yang semena-mena memperlakukan suami? Yang kamu lakukan tadi itu tidak pantas. Kenapa kamu tidak memercayaiku? Menyusul diam-diam lalu saat melihat aku makan bersama Keysha kamu memarahinya? Diana, kamu wanita terhormat, tidak perlu melakukan hal-hal tidak pantas seperti tadi.”


“Lalu yang kamu lakukan itu pantas? Kamu ini sudah punya istri, Keysha juga punya suami. Kalian berdua  tidak menghargai pasangan masing-masing, di sini kamu penjahatnya Haris, bukan aku!” hardik Diana sambil membanting pintu.


Malam ini aku tidur di sofa. Lebih baik begini daripada di kamar dan terpaksa melayaninya. Mungkin dalam kemarahannya, Diana sudah melupakan program punya anak dan aku bersyukur atas hal itu.


Tiga hari kemudian Diana tiba-tiba datang ke kantorku. Entah apa yang ia lakukan, tetapi saat keluar dari ruang pimpinan dia melirikku sinis. Kami pulang bersama-sama karena Diana menungguku di tempat parkir.


“Aku sudah mengecek ke pimpinanmu, ternyata tidak ada tugas hari  Sabtu-Minggu itu. Jadi mau beralasan apalagi kamu sekarang, Haris?” tanya Diana dengan tatapan dingin.


Aku sudah tidak punya amunisi lagi untuk melawan atau menghindar. Sekarang saatnya untuk berterus terang.


“Baiklah, Diana. Daripada saling berbohong dan menyakiti, lebih baik kita akhiri. Aku juga sudah tidak tahan dengan rumah tangga ini. Ini bukan pertama kali kita bicara tentang ketidakcocokan, bukan?”


“Sampai kapan kamu bergantung dengan papamu? Sampai kapan orang tuamu akan ikut campur urusan rumah tangga kita?” tanyaku geram. Rasanya sudah cukup aku berada di bawah kekuasaan Diana.


“Sampai kamu menyadari hidupmu sangat beruntung punya istri aku, hingga kamu tidak perlu melirik wanita lain. Kamu ini bodoh atau apa, Haris? Apa yang kamu harapkan dari Keysha? Perempuan lemah dan tidak punya kemampuan apa-apa. Jangan tertipu wajah polosnya. Dia tidak selugu itu.”


“Perempuan lemah itu yang bisa membangkitkan lagi rasa cintaku. Ya. Aku mengakui kalau sekarang aku mencintai Keysha dan akan menceraikanmu, Diana. Kamu harus menerimanya, aku akan keluar dari rumah tanpa membawa apa pun, semuanya milikmu kecuali aku,” jawabku sambil keluar dari mobil.


Tekadku sudah bulat. Jika memang saat perpisahan itu tiba, sekaranglah waktunya. Bom waktu sudah teracik lama, Keysha hanyalah pemicunya.  Pernikahanku memang tidak pantas dipertahankan. Kami berdua sudah lama saling menyakiti satu sama lain. Apalagi yang diharapkan dari pernikahan tidak sehat ini?


Tanpa aku duga Diana berlari mengejarku.


“Haris, kembali ke mobil sekarang!”

__ADS_1


“Aku tidak akan pulang,” jawabku.


“Haris, jangan kekanakan. Masuk ke mobil sekarang.  Orang-orang melihat kita,” gumam Diana.


Dia lebih mementingkan penilaian orang-orang daripada perasaanku yang terus tertekan jika bersamanya.


“Haris, aku bilang sekali lagi, masuk ke  mobil! Jangan membuatku malu atau kamu akan menerima hukuman dari Papa.”


Lagi-lagi dia menyebut papanya dan itu membuatku muak.


“Laporkan saja! Bilang sama papamu, merengeklah sekarang. Apa pun yang  kamu lakukan, aku sudah tidak peduli. Apa kamu mau  aku dipecat dari pekerjaan? Sebelum itu terjadi aku akan mengundurkan diri,” kataku lantang.


Aku harus melepaskan semua belenggu ini jika ingin berbahagia. Dulu aku tidak berani melakukannya karena masih mengingat banyak hal terutama perasaan Emak. Aku tidak ingin  orang tuaku melihat rumah tangga anaknya gagal.  Namun, sekarang aku harus melakukannya. Daripada memelihara luka lebih baik diamputasi saja.


“Haris, kamu pasti akan menyesali ini,” gertak Diana.


Aku tidak peduli dengan ucapannya. Aku melangkahkan kaki semakin cepat dan secepat itu pula Diana mengejarku.


“Haris, kalau kamu tidak mau kembali ke mobil aku akan membuatmu menyesal!”


Aku tidak peduli perkataan Diana, aku terus melangkah di keramaian jalan. Tiba-tiba terdengar bunyi rem mobil mendadak, suara decit ban bergesekan dengan aspal.  Tabrakan tidak terhindarkan. Makian sopir terdengar kencang. Aku menoleh ke belakang dan melihat Diana terlempar ke pinggir jalan.


“Diana!”


Aku bergegas menolongnya.


Diana, kamu benar-benar nekat. Wajahnya itu dipenuhi darah sementara sumpah serapah dari sopir masih kudengar.


“Kalau mau mati jangan nyusahin orang!”

__ADS_1


Teriakan dari para pengendara yang lain pun terdengar bersahutan menyalahkan Diana


__ADS_2