
Aku menggeret koper dengan linangan air mata. Berjalan tertatih menahan nyeri di dada. Sesak sekali. Bohong jika aku rela, tapi mendapati pesan dari Haris yang berisikan foto dan video panasnya dengan Diana, sudah cukup menghancurkan harapan yang ternyata salah. Tidak seharusnya aku larut dengan kebahagiaan semu. Haris bisa kapan saja kembali pada Diana. Meski banyak ungkapan cinta yang ia berikan, siapa yang tahu isi hati pria itu?
Apa selama ini aku hanya dipermainkan? Ternyata semua pria sama saja, mereka hanya ingin membuatku terluka. Atau inikah balasan dari Tuhan atas dosaku yang berani berselingkuh?
Tidak ada yang aku pikirkan selain pergi sejauh mungkin, Diana menegaskan hubungan mereka yang sudah membaik hingga keberadaanku tidak dibutuhkan lagi. Aku menatap nanar cicin pemberian Haris. Semuanya sudah berakhir.
***
“Bu Keysha sudah datang, bukankah jamnya masih lama?”
Aku segera menyeka pipiku yang basah saat suara seseorang menegurku. Aku mendongak sambil tersenyum pahit. Entah mengapa kakiku malah mengarah ke tempatku bekerja.
“Iya Bu Ratna?”
__ADS_1
“Anda baik-baik saja? Mata Anda sembab,” ucapnya menebak hingga aku tersentak.
“Ah … ini … ini ….” Aku ingin menjelaskan, tapi tidak tahu harus berkata apa? Yang ada mataku malah berembun karena teringat apa yang baru saja aku alami.
“Bu Key?” Bu Ratna mendekat dengan raut khawatir, sedangkan aku yang ditanya semakin tidak bisa mengendalikan diri. Nyeri yang aku rasa 10 kali lebih sakit daripada saat diperlakukan buruk oleh Mas Andre. Mungkinkah karena aku sangat kecewa tidak bisa hidup bersama Haris.
“Saya … hu … hu ….”
“Ya Tuhan, apa yang terjadi sampai Anda sedih seperti ini?” pekik Bu Ratna panik.
“Mari ikut saya, Bu Key! Tidak enak dilihat orang lain!”
Aku menurut, membiarkan Bu Ratna membawaku pergi. Ia menuntunku menuju sebuah ruangan yang biasa dijadikan tempat beristirahat oleh para pengajar.
__ADS_1
Cukup lama aku menumpahkan isi hati dalam bentuk rintihan air mata, hingga lelah menghentikan isakan itu.
“Sudah tenang Bu Key? Ini diminum dulu airnya!” Bu Ratna memberikan aku segelas air putih hangat. Aku menerimanya dan menyesapnya perlahan. Aku sudah bisa bernapas teratur.
“Maaf, bukan ingin ikut campur urusan pribadi Bu Key, tapi saya hanya ingin sedikit membantu. Barangkali Bu Key mau berbagi keluh kesah, dan kita bisa mencari solusinya,” terang Bu Ratna dengan nada lembut. Sejenak aku menatap Bu Ratna, haruskah aku menceritakan semua? Aku hanya belum siap untuk dibenci. Bu Ratna pasti akan menjauhiku setelah tahu jika selama ini aku seorang pelakor. Aku melipat bibirku sambil mengepalkan tanga. Aku sangat gelisah.
Sepertinya Bu Ratna menyadari kegelisahan yang aku alami, hingga dia berkata. “Tenang saja, saya bisa jaga rahasia,” tambahnya meyakinkan aku.
“Saya, tidak sebaik yang Bu Ratna bayangkan,” ucapku dengan kepala tertunduk.
“Tidak ada manusia yang sempurna, Bu Key. Saya juga tidak sebaik yang Ibu tau,” timpal Bu Ratna. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku lalu berbisik, “saya punya satu rahasia, bahwa saya masih suka merokok di belakang gedung ini dan hanya Bu Key yang tau rahasia ini, gimana?”
Aku tersenyum, ternyata di balik kesedihan yang menimpa, aku masih dikelilingi orang-orang baik. Bukankah Itu menandakan jika Tuhan tidak sepenuhnya membeciku?
__ADS_1
Tbc.
Hai reader, lagi-lagi aku banyak absen. Kepentingan real benar-benar belum bisa aku tinggal. mohon pengertiannya dan terima kasih masih tetap setia menunggu. Jangan lupa rate, like, vote dan komennya yah, meski aku mengecewakan, setidaknya aku tahu kalian suka karyaku, makasih, Enjoy!