
Pada akhirnya aku menceritakan semua pada Bu Ratna, wanita yang lebih tua 5 tahun dariku itu menyimak dengan baik hingga aku selesai bercerita. Ekspresi mukanya tidak menunjukkan emosi apa-apa dan hal itu membuatku tidak tenang. Aku sudah pasrah dengan kemungkinan terburuk. Aku memejamkan mata saat Bu Ratna hendak angkat bicara.
“Keputusan Bu Key, sudah bagus. Saya sangat mendukungnya. Jangan pernah temui pria itu lagi karena menurut penilaian saya, wanita bernama Diana itu berbahaya. Sebaiknya jauhi, apalagi Bu Keysha sudah dimintai secara langsung, tidak perlu lagi bertahan pada hal yang tidak pasti. Pertahankan harga diri Bu Key sebagai wanita. Jangan mau direndahkan, apa pun alasannya!”
Aku menghela napas lega, ternyata Bu Ratna mendukung langkah terakhirku.
“Terima kasih untuk supportnya,” timpalku dengan senyuman. Perasaanku menjadi jauh lebih baik daripada sebelumnya. Seolah beban di dada sirna begitu saja.
“Lalu Bu Keysha akan pergi ke mana?”
“Belum tau Bu, mau ke kampung pun tidak ada tujuan karena orang tua saya sudah meninggal dua-duanya,” sahutku sendu sambil menatap ponsel yang mati. “Semua sanak saudara saya juga kebanyakan merantau ke luar pulau.”
Saat ini aku hanya tahu untuk pergi saja dahulu, tanpa arah tujuan yang jelas. Sempat terbersit untuk ke rumah Ayu, tapi aku urungkan. Sudah cukup Ayu mengalami hal tidak menyenangkan dengan Mas Andre, ada kemungkinan Haris akan mencariku ke sana. Aku belum menghubungi Ayu. Kupikir nanti saja, ketika aku sudah menemukan kontrakan baru.
“Wah, jangan pergi kalau tidak ada tujuannya! Kalau tidak begini saja, kita tunggu Bu Rosi. Setau saya lembaga ini ada cabang di setiap daerah, bagaimana jika Bu Key minta mutasi ke sana?”
“Memangnya boleh? Saya saja baru mulai bekerja, tidak usah Bu. Saya tidak mau merepotkan lagi.”
“Kita coba dulu, tapi syaratnya kita harus memberitahukan masalah Bu Keysha. Apa Bu Key bersedia?”
Aku bergeming, Bu Rosi sebagai admin di lembaga tempatku bekerja. Dia dikenal sebagai pribadi yang tegas dan juga jarang berbicara jika bukan urusan pekerjaan. Apa mungkin Bu Rosi mau menerima alasanku ini? Alasan yang merupakan aib dalam hidupku. Namun, tidak ada salahnya mencoba. Aku sudah tidak bisa lagi bergantung pada siapa-siapa. Aku pun mengangguk menerima ajakan Bu Ratna.
__ADS_1
“Baik, Bu!”
***
Aku dan Bu Ratna berada di ruangan admin, yaitu di ruangan Bu Rosi. Aku segera dipanggil setelah Bu Ratna menghadap beliau. Lagi, aku harus mengulang cerita yang sebenarnya sangat memberikan luka serta malu secara bersamaan. Aku menunduk setelah bercerita, tidak berani sekedar menatap muka Bu Rosi.
“Saya sungguh tidak mengira drama sinetron akan dialami oleh anggota pengajar di sini, Bu Key … padahal saya sangat senang dengan Anda. Anda diterima oleh para murid dalam waktu singkat bahkan berhasil menyampaikan pelajaran dengan baik, tapi sangat disayangkan kehidupan Anda tidak selaras dengan kemampuan Anda. Jika mereka tahu pengajarnya ternyata memiliki affair, bisa tercoreng nama lembaga ini!” Nada Bicara Bu Rosi memang tidak keras, tapi tepat sasaran untuk menusuk hingga ke sumsum tulang.
“Ma-maafkan saya,” ucapku getir. Aku sama sekali tidak ingin membela diri, karena memang aku bersalah.
“Bu Rosi, semua manusia pasti ada khilafnya. Meski Bu Key salah, semua karena keadaan tidak mendukungnya. Banyak aspek yang menguatkan affair itu terjadi. Bu Key bukan dari keluarga bahagia dengan banyak cinta dari keluarga. Dia seorang diri tanpa sanak saudara, tolong pengertiannya.”
“Saya belum selesai bicara, Bu Ratna!” desis Bu Rosi.
“Masalahnya adalah, saya hanya mendengar dari sisi Bu Keysha saja, belum tau dari sudut pandang yang lainnya.”
“Saya percaya dengan Bu Key, meski kami belum lama mengenal. Namun, saya yakin Bu Keysha orang yang jujur dan baik hati. Buktinya, semua murid di sini menyukainya. Hati anak-anak tidak bisa dibohongi dengan niatan busuk orang dewasa. Mereka dapat merasakan aura orang yang hanya manis di luarnya saja.” Bu Ratna terus membelaku. Padahal aku tidak perlu di perlakukan seperti itu, membuatku menjadi semakin tidak enak.
Aku tersenyum menyentuh tangan Bu Ratna lalu berdiri dari duduk. Aku meraih koper hendak pamit.
“Bu Ratna, terima kasih banyak atas kepercayaannya. Bu Rosi, saya hanya bisa menyampaikan beribu maaf telah mengecewakan Anda. Mungkin lebih baik saya berhenti saja, toh memang saya tidak akan bisa mengajar lagi karena harus segera pergi dari sini. Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih untuk kebaikan semua staff dan rekan-rekan. Saya minta tolong Bu Rosi menyampaikannya pada yang lain karena mungkin kita tidak bisa bersua lagi.”
__ADS_1
“Eh, Bu Key … mau ke mana?” Bu Ratna ikut bangun.
“Tidak apa-apa Bu, saya sangat berterima kasih Bu Ratna sudah membela saya, itu saja sudah cukup.” Aku kini mampu menatap wajah Bu Rosi yang datar seperti biasanya. “Bu Rosi, terima kasih banyak, saya undur diri.”
“Anda ingin pergi begitu saja? Mana attitute Anda sebagai pengajar?”
Langkahku tertahan kemudian berbalik badan menoleh pada Bu Rosi yang melipat tangannya. “Saya tidak pernah bilang mengizinkan Anda pergi. Tolong diingat, Anda memiliki surat kontrak yang sudah ditandatangani. Sebelum masa kontrak itu habis, Anda tidak boleh berhenti bekerja!”
Aku masih belum bisa mencerna ucapan Bu Rosi. “Tapi … saya memiliki masalah tentang nama baik. Apa saya perlu membayar ganti rugi?” tanyaku polos. Bu Ratna pun melakukan hal sama, melihat Bu Rosi dengan penuh tanda tanya.
Bu Rosi menghela napas seraya mengeluarkan sebuah selembaran.
“Sebagai gantinya, Anda harus lebih keras membayarnya dengan jasa Anda sebaik mungkin, saya menerima mutasi Anda. Tolong tanda tangannya!”
Aku tidak percaya, benarkah permintaan mutasiku di terima? Kakiku sampai lemas, aku pun terduduk di lantai. Bu Ratna sampai memekik karena terkejut.
“Bu Key, Anda baik-baik saja?” tanyanya khawatir. Ia ikut berjongkok memegang tanganku.
Aku tersenyum penuh haru, memeluknya sambil menangis. “Terima kasih … terima kasih ….”
Tbc.
__ADS_1
Ayo semangat, jangan lesu. Nanti aku ikut lesu juga. Jangan lupa rate, vote, like dan komennya yah suapaya aku semangat tamatin nih novel, Enjoy!