Rahim Impian

Rahim Impian
Keputusan yang tidak berubah


__ADS_3

POV Haris


Sebenarnya aku masih ingin tinggal lebih lama di rumah Ibu, menikmati suasana pedesaan yang asri, sekaligus healing tipis-tipis mengistirahatkan pikiran dari beban masalah yang selama ini menghimpit dada. Namun, karena Diana rewel ingin segera pulang, mau tidak mau aku harus menurutinya.


"Kita sudah cukup lama ada di sini, Mas, lebih baik kita pulang. Aku sudah merindukan kamarku. Nggak tahu, ini mungkin bawaan baby kali ,ya, kepengennya nyaman di kamar kita," rajuk Diana.


Sudah kuduga, Diana pasti tidak akan betah tinggal lama di rumahku. Diana yang selalu dekat dengan fasilitas dan kemewahan tidak akan mampu berbaur dengan aura kemiskinan keluargaku.


"Haris, mulai sekarang kamu harus lebih bersabar lagi. Nak Diana sedang hamil dan biasanya wanita hamil itu akan mengalami masa-masa ngidam. Kesabaran seorang suami akan diuji saat istrinya hamil. Kalau nanti, misalnya, istrimu sering marah-marah atau berteriak dengan nada tinggi, jangan diambil hati. Memang bawaan wanita hamil itu sensitif," nasehat Ibu.


Aku hanya mengiakan semua kata-kata Ibu, meskipun sebenarnya tidak bersungguh-sungguh akan melaksanakannya.


"Bagi seorang wanita, kehamilan itu membawa kebahagiaan tersendiri. Tugas kamu sebagai suami harus mendukung dan terus menemani. Jangan sampai, kalau nak Diana sedang tidak enak hati, malah kamu pancing dengan kata-kata yang bisa bikin dia emosi. Kamu paham, 'kan, maksud Ibu?"


"Iya, Bu. Tentu saja aku paham."

__ADS_1


Aku tidak menjawab panjang lebar perkataan Ibu. Selama ini stok kesabaranku sudah sangat berlimpah menghadapi karakter Diana. Jadi, ibarat kata training, aku sudah lulus cumlaude menghadapi Diana.


Terserah nanti kalau sudah di rumah, Diana akan berbuat semaunya. Aku tidak peduli lagi. Bagiku, meskipun sekarang gugatan cerai sudah aku cabut dari pengadilan agama, tapi rasa sayang dan cinta kepada Diana pun sama, sudah tercabut dari hati ini, bahkan jauh sebelum kehadiran Keisya.


"Santi, Kakak pulang dulu ya, titip ibu. Jangan sampai Ibu mengerjakan pekerjaan yang berat. Ibu nanti, kalau cucunya lahir, harus datang ke rumah kakak. Kamu nanti temani ya?"


"Iya, Kak. Kakak nggak usah khawatir. Nanti Santi yang bakal nganterin Ibu, kalau anaknya Kak Haris sudah lahir," ucap Santi.


"Berhati-hatilah, Haris. Jaga baik-baik istri kamu!" teriak ibu saat aku menutup pintu mobil.


Sambil melajukan mobil, aku melirik ke arah perut Diana yang masih rata. Kini aku bingung. Sebenarnya, dia ini beneran hamil atau hanya berpura-pura hamil?


Tapi aku tidak yakin kalau Diana sampai berani berpura-pura hamil. Meskipun aku sangat mengharapkan ini memang pura-pura dan bagian dari sandiwara Diana.


"Kamu beneran yakin anak yang dikandunganmu itu anakku?" tanyaku ketus ketika melihat perut rata Diana.

__ADS_1


"Haris, please deh, nggak usah mulai lagi. Kamu nggak denger tadi pesan ibumu? Bumil itu harus dibuat tenang. Jangan dibikin stres."


"Malam itu aku benar-benar dalam keadaan tidak sadar. Kamu kan yang masukin alkohol ke dalam minumanku, jadi wajar kalau aku tanya. Karena aku pikir kita tidak melakukan apa-apa."


"Terserah kamu saja, Haris. Suka-suka kamu mau mengakui anak ini atau tidak, ya jelas kamu ayahnya, siapa lagi?"


Diana memandang lurus ke depan tanpa menoleh ke arahku. Sejenak, aku berpikir sudah bersikap keterlaluan karena sempat mencurigainya. Tapi mau bagaimana lagi, setidaknya aku masih butuh waktu untuk meyakinkan diri ini bahwa itu memang benar anakku.


"Sebelumnya, aku mau menegaskan bahwa aku memang menarik gugatan cerai di pengadilan. Tapi itu berlaku hanya sampai anak ini lahir. Kalau dia sudah lahir, aku akan tetap melanjutkan gugatan cerai ini dan kamu tidak bisa menghalanginya."


"Haris, kamu ini benar-benar raja tega, ya. Kamu sama sekali nggak mendengarkan kata-kata ibumu tadi? Bisa-bisanya membahas perceraian saat aku sedang hamil! Kamu benar-benar enggak punya hati!" Diana menaikkan nada bicaranya.


"Oh iya, aku memang sudah nggak punya hati buat kamu. Sebagai seorang suami, aku sudah menyerah. Aku hanya akan menjadi ayah untuk anak yang kamu kandung itu," tegasku, membuat Diana melongo tak percaya.


Tbc.

__ADS_1


Jangan lupa rate, vote, like dan komennya ya, agar aku lebih semangat lagi, Enjoy!


__ADS_2