
POV Haris
Dunia lajang kembali kumasuki, setelah statusku resmi menjadi seorang duda. Ibu meminta agar aku lebih sering pulang dan menghabiskan akhir pekan dengan keluarga.
“Supaya kamu tidak merasa kesepian, ada baiknya kamu menginap di rumah saja kalau libur, Haris.”
Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju, setidaknya sekaranglah waktu yang tepat untuk menebus kesalahan selama menikah dengan Diana, aku jarang pulang.
“Kak Haris butuh hiburan, jadi harus sering-sering pulang, nanti Santi undang topeng monyet tiap minggu pagi untuk menghibur Kakak,” goda adikku. Gadis belia itu kini semakin menyebalkan karena telah kembali menjadi adik kesayanganku seperti dulu saat aku belum menikah.
“Modus kamu, bilang saja mau ditemani jalan-jalan saat malam mingguan biar bisa bikin story otewe nonton, otewe jalan 'kan?” balasku membuat Santi terkekeh
Akhir-akhir ini aku lebih senang mengambil pekerjaan secara online. Dalam seminggu aku hanya tiga kali berangkat ke kantor. Kantor tidak masalah asal pekerjaanku beres. Perlahan-lahan aku juga mulai melakukan renovasi pada rumah ibu, meskipun ibu terus melarang.
“Rumah ini masih bagus, jangan buang-buang uangmu, Haris. Ibu dan Santi nyaman, kok, tinggal di sini dengan keadaan rumah apa adanya begini.”
Begitulah ibu tidak pernah menuntut apa pun dariku. Dari sejak aku bujangan dulu, sampai menikah. Ibu hanya menitipkan Santi dan memintaku untuk membiayai sekolahnya.
“Haris, uangmu sebaiknya kamu simpan saja, ditabung untuk biaya pernikahanmu nanti,” imbuh Ibu. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Menikah dengan siapa, Bu? Calon saja tidak punya,” keluhku sambil menatap beberapa anak kecil yang bermain berlarian di depan rumah kami.
“Sampai sekarang Haris masih belum kepikiran untuk menikah, Bu.” Ibu menatapku dengan pandangan yang sulit kujelaskan. Antara sedih, prihatin dan juga kasihan.
“Kamu nggak bisa melajang terus, Nak. Ibu jadi kepikiran kalau kamu tidak ada yang mengurus.” Ibu memang tak pernah berhenti memerhatikan hal-hal kecil yang aku butuhkan.
“Entahlah, Haris sama sekali tidak terpikirkan untuk menikah dalam waktu dekat. Hati Haris hanya terpaut pada Keysha, jika tidak bisa bersama dengannya, sepertinya Haris tidak akan menikah lagi, Bu.”
Kali ini sudah jelas yang tergambar di wajah ibu, adalah raut wajah kesedihan. Aku bangkit meninggalkan ibu, tidak ingin semakin membuat wanita yang kujunjung tinggi ini semakin bersedih. Sejujurnya aku ingin membawa kenangan Keysha lalu menikmatinya sesaat.
“Keysha, ada di mana kamu sekarang?” batinku meratap mencari-cari perempuan yang telah mengalihkan duniaku.
***
Hari-hariku berlalu tanpa ada yang berubah. Rutinitas yang kulakukan tetap sama. Kerja dari rumah, sesekali menunggui tukang yang sedang merenovasi rumah, kali ini hanya tinggal bagian pagar yang harus dirapikan.
Suatu sore tiba-tiba Santi mendekatiku, ketika aku sedang mengerjakan tugas kantor, pandanganku masih terpaku pada laptop di teras rumah.
__ADS_1
“Duh, yang serius banget. Ini, Santi bikinin kopi biar gak mumet.” Santi mengangsurkan satu cangkir kopi di meja teras.
“Makasih, San. Kamu gimana sekolahnya? Sekarang Kakak lihat kamu belum masuk sekolah lagi.”
“Udah kelar ujiannya minggu lalu, tinggal nunggu ijazah keluar aja.” Hatiku lega mendapati Santi telah menyelesaikan sekolahnya. Sebentar lagi dia pasti akan disibukkan dengan urusan kuliah.
“San, kamu jadi kuliah di kampus yang kamu mau itu 'kan?” tanyaku sambil meraih kopi buatannya.
Meskipun pemula, racikan kopi Santi terasa enak. Dia mencampur beberapa merk kopi seperti seorang bartender. Salah satu hobinya adalah meramu kopi. Karena itu ia berkeinginan bekerja paruh waktu di restoran kopi waralaba ternama. Aku masih belum mengizinkan karena ingin dia fokus sekolah saja.
“Iya Kak, Santi lagi persiapkan persyaratannya," ucap Santi mengiyakan.
"Santi boleh tanya sesuatu?” tanyanya sopan sambil duduk di kursi yang terletak di hadapanku. Tumben sekali gadis ini, biasanya langsung nyerocos saja tanpa rem.
“Mau tanya apa? Kakak nggak akan izinkan dulu kamu untuk kerja, nanti aja kalau udah pasti kuliah di kampus yang kamu mau, baru Kakak pertimbangkan lagi. Pasti mau merayu 'kan?! Nggak, Kakak nggak akan kasih izin!” Aku menjawab tegas sebelum ia merengek seperti sebelumnya.
“Ihhh, Kakak mah sukanya sok tau. Bukan masalah kerjaan, Santi mau tanya gimana kabar wanita yang deket sama Kakak itu? Ceritain dong sama Santi, orangnya gimana?”
Aku menarik napas panjang. Nggak ada angin, hujan, atau tsunami, tiba-tiba dia menanyakan tentang Keysha. Pasti ibu yang menceritakan tentang Keysha dari informasi yang diberikan Diana.
“Keysha itu baik, cantik, sederhana, senyumnya indah. Menurut Kakak, dia satu-satunya wanita pemilik senyuman terindah di bumi.”
“Sampai segitunya. Kakak cinta banget ya, sama Kak Keysha?” sambungnya dengan rasa penasaran.
Lagi-lagi aku menghela napas panjang, ada-ada saja pertanyaan Santi ini. Andai dia tahu kalau aku rela melepaskan semuanya demi bisa hidup bersama Keysha.
“Iya, Kakak sayang sama dia. Rasanya Kakak belum pernah merasakan sesayang ini sama perempuan. Kalau jauh gini merana, tapi kalau berada di dekatnya rasanya tenang.” Mataku terpejam kembali membayangkan senyuman ayu yang pernah dihadiahkan Keysha kepadaku.
“Jadi sampai sekarang Kakak masih mengharapkan Kak Keysha?” kejar Santi lagi.
Aku menganggukkan kepala, tak ada gunanya menutupi kebenaran hatiku pada Santi.
“Tentu saja, Kakak memang pernah melakukan kesalahan mendekatinya saat masih punya istri. Tapi Kakak nggak menyesali itu, sekarang saat keadaannya berbeda, justru dia hilang entah kemana.”
Santi terdiam mendengar ucapanku, entah apa yang ada dalam pikirannya. Dia pasti menyangka aku sekarang menjadi bucin sejati kepada wanita bernama Keysha. Tidak apa-apa sudah terlanjur, jadi aku teruskan kalimatku.
“Sejujurnya Kakak memang belum bisa melupakan Keysha. Kakak yakin akan bahagia jika bersamanya. Keysha itu perempuan lembut dan penyayang. Keysha juga tak pernah mengeluh dan selalu ceria. Kakak jamin kalau kamu mengenalnya, pasti kamu akan suka sama dia.”
__ADS_1
Membayangkannya sudah membuat hatiku rindu dan nyeri. Nyeri karena kenyataannya dia sudah pergi meninggalkan aku.
“Kakak benar, kok, begitu bertemu dengannya Santi memang langsung suka.”
Aku menajamkan pendengaran, sepertinya aku salah dengar.
“Coba ulangi lagi, kamu kenapa tadi? Bertemu dengannya? Dengan Keysha?”
“Iya, Kak, aku sudah bertemu dengan Kak Keysha dan memang benar. Meskipun baru beberapa kali bertemu, aku saja langsung suka sama dia.” Bola mata Santi membesar, seolah-olah ingin meyakinkan aku atas apa yang dia lalui.
“Serius kamu udah pernah ketemu Keysha?”
Santi menganggukkan kepalanya.
“Kak Keysha juga yang menolong ibu saat terjatuh di kamar mandi. Aku nggak punya pilihan selain menelponnya, kami berdua langsung membawa ibu ke rumah sakit,” jawab Santi sambil menatapku menandakan ucapannya tak main-main.
Lelucon macam apalagi ini? Aku hampir tak percaya. Benarkah kenyataan bahwa semesta selalu menghubungkan kami? Ini pasti jalan Tuhan, aku yakin Keysha adalah jodohku.
“Jadi kamu tahu di mana Keysha tinggal?” tanyaku tak sanggup menunggu.
“Aku punya nomornya, kalau Kakak mau bicara sama dia, nanti Santi kasih. Untuk tempat tinggalnya memang Santi belum pernah kesana,” jawab Santi penuh semangat.
Bukan hanya dia saja yang bersemangat, hatiku juga tiba-tiba menghangat membayangkan wanita yang kucintai itu ternyata masih berada di dalam jangkauan.
Selama ini hampir setiap malam aku merindunya dan wajahnya selalu datang dalam mimpiku.
“Kak, ihh wajahnya biasa aja, dong!” goda Santi sambil mencubit lenganku.
“Kakak harus segera menemuinya, Santi. Kali ini Kakak tidak mau terlambat lagi. Keysha sudah banyak menderita karena Kakak, sekarang Kakak akan menebusnya.
“Ciehh segitunya, belum tentu juga Kak Keysha mau ketemu Kakak, Terakhir kami bertemu Kak Keysha tahu kalau Kak Diana hamil anak kakak. Sedih tau, Kak, waktu dia pulang dari rumah sakit usai menengok ibu.”
Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Keysha saat itu dia pasti hancur.
“Ada satu lagi, awalnya ibu menyalahkan Kak Keysha sebelum tahu kalau Diana itu pengkhianat.” Aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Santi.
Tbc.
__ADS_1
Kasih ketemu gak?? Hehehehe,