
POV Haris
Suara mail box terdengar membuatku mendesah panjang, Keysha tidak kunjung mengangkat teleponnya. Apa terjadi sesuatu padanya?
Aku mencoba mengirimkan pesan, juga tidak mendapatkan respon. Perasaanku menjadi resah tidak menentu. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Keysha. Ditambah aku sangat merindukannya.
‘Apa Andre telah mengetahui hubungan kami?’ batinku menerka. Namun, walaupun itu terjadi aku sudah tidak peduli. Biarkan saja ketahuan sekalian, toh aku juga akan berpisah dengan Diana. Andre juga tidak layal untuk Keysha. Pria arogan semacam dia hanya akan membuat Keysha menderita.
Aku mengecek m banking, simpanan yang selama ini aku kumpulkan dari uang di luar gaji. Aku memiliki banyak rekanan hingga banyak sampingan yang aku dapat. Aku memiliki cukup bekal sampai mendapatkan pekerjaan baru.
Aku pulang menggunakan taxi online karena semua mobil atas nama Diana, padahal ada salah satu yang dibeli menggunakan hasil kerjaku. Uang yang dimatanya tidak seberapa. Namun, aku tidak ingin mempermasalahkannya. Biar dia puas dan merasa tidak rugi seandainya aku pergi dari hidupnya.
Sampai saat ini aku tidak menyangka terus mendapatkan bantuan dari mertua, mulai kiriman uang ke kampung sampai pekerjaanku sekarang. Diana memang luar biasa, sangat pandai membentuk imageku seperti seekor keledai. Hanya bermodal c*elana dalam saja. Sialan, aku tidak pernah merasa serendah ini.
__ADS_1
Aku tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan sesuatu, bahkan dalam pekerjaan sekalipun. Pantas saja aku sering mendapatkan tatapan sinis dari beberapa pekerja senior yang jabatannya di bawahku. Mungkin mereka sudah tahu asal muasal jabatan itu, semua karena KKN. Hah! Gila! Aku selalu mencaci maki mereka yang menggunakan koneksi, tapi nyatanya? Aku sendiri yang menempuh jalur itu.
Memasuki apartemen, aku langsung mengemasi pakaianku seraya mengirimkan email lamaran ke beberapa perusahaan yang aku kenal dan sempat bekerja sama dengan tempatku bekerja saat ini. Setelah menyebarkan 10 lamaran aku mengirimkan surat mengunduran diri. Aku akan menginap di hotel untuk seminggu ke depan.
Di saat aku hampir selesai berkemas, suara pesan WA mengambil alih atensiku. Sebuah pesan dari Keysha. Aku berbinar dan segera membukanya. Jantungku berdebar tidak karuan membaca pesan singkat itu, tapi aku terpaku dengan isinya. Sebuah kata yang aku baca berulang-ulang.
“A-Apa ini?”
[Haris, maafkan aku. Sepertinya hubungan kita tidak bisa diteruskan lagi. Aku tahu, aku salah dan aku sangat tidak bertanggung jawab, setelah merusak semuanya malah pergi begitu saja. Namun, semua belum terlambat, kamu masih bisa memperbaikinya. Aku yakin ini yang terbaik, yang salah aku. Seharusnya aku tidak pernah hadir dalam hidupmu. Sebaliknya, kehadiranmu terlalu berharga untukku, terima kasih atas semua semangat dan harapan yang kamu berikan, karena itu membuatku kuat dan berani mengambil keputusan. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakanmu, berbahagialah Haris.]
Aku segera melakukan panggilan, tapi nomor Keysha tidak aktif. Aku mengulanginya terus menerus hingga daya diponselku habis. Aku lemas dan menggeleng keras.
“Tidak! Aku tidak mau semua berakhir!” aku menarik koperku dan segera keluar apartemen. Aku harus mencari Keysha. Tidak akan aku biarkan dia pergi dariku.
__ADS_1
***
Dengan terburu aku memasuki poli kandungan lalu menghampiri bagian informasi.
“Maaf, saya boleh minta tolong?”
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Saya butuh alamat pasien yang bernama Keysha Geraldine,” terangku to the point.
Suster itu mengeryit, aku baru sadar jika aku telah salah langkah. Aku pun mengurungkannya.
“Maaf Sus, tidak jadi,” ucapku dan menjauh. Aku mengamati sekitar mencari seseorang yang bisa aku minta pertolongan. Tidak beberapa lama seorang claning service melintas melewatiku. Aku sontak menghadangnya.
__ADS_1
“Mas, tolong saya!”
Pria itu menatapku dan tersenyum setelah aku menyelipkan beberapa lembaran merah padanya.