Rahim Impian

Rahim Impian
Wajah yang fimiliar


__ADS_3

Suasana kontrakan yang nyaman terkadang memang melenakan. Padahal, aku harus datang mengajar ke kota yang jaraknya lumayan jauh. Untuk datang ke sana, aku harus naik angkutan umum dulu.


Aku selalu datang satu jam lebih awal untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Terkadang, angkutan umum yang aku naiki harus berhenti dan ngetem dulu untuk menunggu penumpang. Tak jarang juga penumpangnya sudah penuh, ternyata ban mobil malah bocor. Ada-ada saja.


Satu jam jeda waktu, aku rasa cukup untuk menyiapkan diri sebelum mengajar. Jika di rumah kontrakan, biasanya aku sekedar mengobrol atau menikmati kudapan sore hari di warung Bu Juju. Kalau di tempat kerjaku ini dekat dengan warung Mang Usup.


Biasanya aku mampir dulu ke warung kopi Mang Usup. Warung semi permanen yang menyediakan berbagai camilan hingga sarapan pagi. Perutku selalu minta diisi sebelum mengajar, kalau tidak biasanya aku kurang bisa berkonsentrasi mengajar. Tinggal di daerah dingin memang selalu membuat aku merasa kelaparan.


"Kiri depan pak, di jalan depan warung itu," ucapku kepada sopir angkot.


Mobil pun berhenti. Aku menyodorkan satu lembar uang lima ribu lalu segera turun dari angkot. Nominal yang murah jika dibandingkan aku harus naik ojek online, makanya aku lebih senang naik angkot. Selain lebih nyaman, angkot di sini juga bersih. Satu-satunya kendala, angkot tidak tepat waktu alias sering lebih dari waktu yang kuperkirakan. Kalau sedang cepat bisa sangat awal dan aku harus menunggu lebih lama di warung Mang Usup.


Menyenangkan rasanya duduk sambil menikmati secangkir kopi di warung itu. Ada lontong, gorengan, dan aneka macam kue basah yang baru dibeli Mang Usup dari pasar. Satu dua kue basah biasanya sudah cukup untuk membohongi cacing-cacing yang berada di dalam perutku.

__ADS_1


Aku juga bisa berinteraksi dengan sesama pembeli meskipun kami tidak saling mengenal. Rasa kekeluargaan di sini masih kental. Saling melempar senyum atau sekedar berbasa-basi menyapa membuat kebutuhanku untuk bersosialisasi tergenapi.


Jika di dalam ruangan aku mengajar anak-anak kecil, menyalurkan satu sisi keibuan, maka di warung ini aku bebas menjadi diriku sendiri, mengobrol apa saja dengan istri Mang Usup, Teh Narti. Kami bahkan sudah akrab seperti saudara.


Akhirnya, aku sampai di Warung Mang Usup, tempat tujuanku pagi ini sebelum mengajar. Tempat ini tampak ramai oleh orang-orang yang membeli sarapan pagi. Saking ramainya, meja tempat menaruh sarapan sampai tidak terlihat karena terhalang oleh para pelanggan.


"Teh Narti, saya mau kopi ya, satu kayak biasa, kopi susu," ucapku setengah berteriak. Aku melihat Teh Narti dan Mang Usup sama-sama sibuk melayani pelanggan.


Baru saja aku hendak mencari tempat duduk, tiba-tiba tubuhku ditabrak seorang gadis yang baru saja keluar dari kerumunan. Tampaknya gadis itu sedang terburu-buru sampai makanan yang ia pegang terjatuh ke tanah.


Aku merasa tidak enak karena gadis itu cukup banyak membeli kue-kue basah dan akhirnya kue itu harus jatuh ke tanah.


"Enggak papa, Kak, harusnya saya yang minta maaf. Saya yang terburu-buru sampai nggak lihat ada Kakak mau duduk," timpal gadis itu.

__ADS_1


Gadis remaja dengan kulitnya yang putih dan lembut. Tanpa memakai make-up pun, gadis ini sudah terlihat cantik alami. Alisnya tebal menaungi matanya yang bulat, pipinya yang putih terlihat kemerahan saat ia tersenyum.


"Udah, Dik, nggak papa, Kakak juga tadi ngambil kursi nggak liat-liat. Ayo ambil lagi kue-kuenya, nggak usah khawatir Kakak yang bayar."


"Aduh, Kakak baik pisan, jadi nggak enak nih saya."


Gadis itu tersenyum manis. Rasanya aku tidak asing dengan senyumannya. Entah kenapa, tiba-tiba pikiranku tertuju pada Haris. Gadis ini mirip sekali dengan Haris. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja. Berkali-kali aku menepis nama Haris, yang selalu saja hadir dalam ingatan tanpa kuundang.


"Oh ya, Dik, kenalin, saya Keysha, Adik namanya siapa?" tanyaku melihat keramahan gadis ini.


Dia seperti punya magnet yang membuat semua mata mengarah padanya.


"Saya Santi, Kak. Terima kasih banyak karena Teh Keysha sudah mengganti jajanan Santi yang jatuh. Padahal seharusnya tidak perlu. Santi jadi ngerasa nggak enak sama Kak Keysha."

__ADS_1


Gadis itu tersenyum, lengkungan bibirnya benar-benar mengingatkanku pada Haris.


__ADS_2