Rahim Impian

Rahim Impian
Ketahuan!


__ADS_3

POV Diana


Aku siap berangkat menyusul Haris ke Bandung. Tadi malam aku menelepon dan sikapnya agak mencurigakan, jadi aku putuskan untuk  menyusulnya.


Tadi malam pula, aku sudah mendapat nama hotel yang ia tempati. Sebetulnya tidak ada niat untuk curiga pada Haris, tetapi bukankah semua kemungkinan bisa terjadi? Aku hanya ingin memastikan Haris tidak punya janji temu dengan wanita lain, atau justru dengan rekan kerjanya.


Kalau dibilang percaya, aku percaya sama Haris. Namun, aku tidak percaya dengan wanita-wanita yang ada di sekitarnya. Aku berani menjamin Haris tidak akan macam-macam.  Mana berani dia berbuat nyeleneh, sedangkan uang bensinnya saja aku yang mengatur?


Dia pasti akan berpikir ribuan kali untuk selingkuh. Segala fasilitas yang selama ini ia nikmati berasal dari keluargaku. Siapa yang tidak ingin menjadi suami notaris ternama di kota ini?


Haris pasti bangga punya istri sepertiku.  Sudah cantik, seksi, langsing, punya karier menjulang, dan pekerjaan yang mentereng, kombinasi sempurna yang susah dicari. Dia beruntung punya istri aku.


Aku tidak yakin Haris berani menukar semuanya ini dengan berselingkuh, tetapi aku teringat percakapanku dengan Mama semalam.


“Kita boleh memberikan kepercayaan kepada suami. Yang tidak boleh itu kalau terlalu buta percaya pada suami. Boleh percaya, tapi jangan 100%.”


“Pasti, lah, Ma. Aku juga tidak sebodoh itu,” jawabku.


“Mama percaya sama Haris, Diana. Tapi tetap, sebagai istri kamu harus mengecek keberadaan suamimu. Begitulah caranya mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Coba kamu susul dia dan beri kejutan. Haris pasti senang melihatmu tiba-tiba sudah ada di hotel.”


Ucapan Mama tadi malam membuat tekadku semakin membaja, lalu pagi ini aku melajukan mobil menuju ke lokasi hotel tempat Haris menginap.


Perjalanan cukup santai dan aku menikmatinya. Saat tiba di hotel sudah waktunya check out. Biasanya cek out terakhir jam 2 siang, jadi aku tidak perlu terburu-buru.


Tadi malam aku sempat scroll media sosial dan tanpa sengaja aku menemukan Andre, suami Keysha. Aku cek media sosialnya, ternyata dia seorang akuntan yang cukup ternama. Ada kontak pribadi yang bisa dihubungi bagi orang yang mau memakai jasanya. Aku sudah menyimpan kontak tersebut. Sepertinya ada pekerjaan yang bisa aku tawarkan. Jasa konsultan juga dibutuhkan untuk merapikan laporan keuangan di kantorku.


Di luar dugaanku, jalanan ternyata macet hingga aku tak bisa mengemudi dengan cepat. Jam satu lebih sedikit aku baru tiba di hotel. Aku segera memasuki lobi yang luas dan dingin.  Situasinya sama persis dengan foto-foto yang ada di media sosial hotel ini. Ada kolam renang yang luas di belakang. Aku segera menanyakan nomor kamar tempat Haris menginap.


“Maaf, Anda siapa?” tanya resepsionis.


“Saya istrinya dan saya sudah ada janji akan menjemputnya.”


“Baik. Pak Haris menginap di ruang 203 di lantai dua.”


“Terima kasih.”

__ADS_1


Aku hendak ke lantai dua, tetapi berpikir bahwa Haris pasti belum ada di kamarnya. Aku memutuskan berbelok menuju ke resto. Mungkin  memesan minuman dingin bisa membuat tenggorokanku yang kering kembali segar.


Saat memasuki resto hotel, tiba-tiba aku terlihat pemandangan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Tunggu, bukankah itu Haris? Dia sedang makan siang bersama seorang perempuan.  Apakah perempuan itu rekan kerja Haris? Pandanganku terhalang oleh beberapa orang yang lalu lalang. Situasi resto memang ramai karena bertepatan dengan jam makan siang.


Rupanya teman-teman Haris banyak yang datang, padat sekali area ini. Aku menduganya begitu.


Dengan cepat, aku melangkah maju dan akhirnya melihat dengan jelas wajah perempuan itu. Aku terperanjat saat  mengenali perempuan itu.  Bukankah itu Keysha? Bagaimana bisa mereka bersama?


Aku mengambil kamera ponsel lalu merekam kejadian itu, tidak lupa juga mengambil beberapa foto kebersamaan mereka.


Jelas terlihat Haris sangat akrab dengan Keysha. Mereka mengobrol dengan hangat. Sesekali Keysha tertawa dan Haris sangat lekat memandang Keysha. Pandangan yang tidak seperti biasa. Haris bahkan tidak pernah memandangku dengan tatapan mesra seperti itu. Ini pasti ada apa-apanya.  Naluri kewanitaanku sebagai istri sudah menangkap ada sinyal yang tidak beres antara Haris dan Keysha.


Aku tidak boleh gegabah. Tunggu, aku harus berpikir dulu apa yang harus aku lakukan.


Ah, tidak bisa. Aku tidak boleh berlama-lama. Dengan cepat akhirnya aku keluar menemui Haris dan Keysha.


“Hai, Sayang. Rupanya kamu ada di sini. Untung aku belum ke kamar.”


Haris terkejut melihat kedatanganku, begitu juga dengan Keysha.  Mereka pasti tidak menyangka aku tiba-tiba datang. Wajah Keysha yang putih semakin memucat.  Aku duduk di antara mereka berdua.


“Diana, kenapa kamu datang enggak kasih kabar dulu?”


“Memangnya harus kasih kabar? Aku ke sini untuk ngasih surprise buat suamiku sendiri.”


Terlihat jelas kegugupan di wajah Keysha.


“Hai, Mbak Keysha. Kamu juga ada di sini?”


“Iya, Diana. Kebetulan aku ada acara di sini.”


“Wow, betul-betul sebuah kebetulan,” ucapku.


Haris dan Keysha berpandangan sesaat, sebelum perempuan itu menundukkan kepalanya. Kenapa aku merasa ekspresinya itu seperti maling sedang tertangkap basah?

__ADS_1


“Kenapa, sih? Kok kalian jadi gugup gini?” tanyaku sambil menekan kemarahan di dada.


Baru kali ini aku melihat sikap Haris yang sangat gugup, begitu pun Keysha.


“Maaf kalau saya mengganggu. Saya sudah selesai dan mau kembali ke kamar.”


“Tunggu dulu,” ucapku. “Mbak Keisya, aku peringatkan kamu, ya. Haris Ini udah punya istri dan kamu sudah punya suami. Kayaknya enggak pantas, deh, kalian berduaan meskipun di tempat umum seperti ini.”


“Maaf, saya---“


“Aku enggak ngerti  apa yang sudah terjadi di sini. Apa ada yang aku lewatkan?”  tanyaku sambil menatap Haris dengan tatapan membunuh.


“Diana, sudahlah. Aku bisa jelaskan. Keysha sedang acara di sini dan kebetulan aku mengenalinya. Kamu lihat sendiri suasana sangat ramai, bahkan beberapa orang sampai tidak kebagian meja dan kursi. Jadi aku mengajaknya untuk duduk satu meja.”


“Lalu di mana teman-temanmu?” tanyaku ketus.


“Mereka sudah kembali ke kamar karena akan langsung pulang.”


Lagi-lagi ada kegugupan dalam jawaban Haris. Hal ini semakin menguatkan dugaanku kalau mereka pasti punya hubungan. Setidaknya hubungan yang dirahasiakan.


“Betul kata Mas Haris, kami tidak sengaja bertemu di sini karena saya sedang ada acara dan kebetulan Mas Haris mengenali saya. Dia tidak ada maksud apa-apa, tapi saya minta maaf. Saya benar-benar minta maaf kalau ini membuat Diana enggak nyaman.”


Lihatlah perempuan ini. Keysha terlihat sangat tidak percaya diri.  Apa yang membuat Haris tertarik kepadanya? Aku yakin dari sisi apa pun aku lebih unggul dibandingkan Keysha.


“Oh, ya? Oke, enggak apa-apa, kok, santai saja kalau memang kenyataannya seperti itu. Mau gimana lagi, tempatnya memang ramai seperti ini. Kecuali kalau aku memergoki kalian di kamar, beda lagi ceritanya,” ucapku sengaja mematahkan mental Keysha yang tertunduk ketakutan.


Dia menautkan jari-jarinya. Aku menatap Keysha, tetapi perempuan itu tidak berani menatapku.


“Saya permisi dulu,” pamitnya.  Perempuan itu tergesa-gesa pergi dari hadapanku.


“Kamu apa-apaan, Diana?” tanya Haris murka.


“Kenapa, sih, Haris? Kenapa kamu jadi panik gini? Aku sudah bilang, aku datang buat jemput kamu. Apanya yang salah?”


Haris tidak bisa menjawab dan memang selalu seperti itu. Tidak seharusnya dia menjawab karena terang-terangan aku melihatnya sedang bersama wanita lain.

__ADS_1


Tidak tinggal diam, aku mengirimkan foto-foto yang kuambil kepada Andre. Tentu saja aku memprovokasi Andre supaya laki-laki itu bisa mendidik istrinya.


__ADS_2