Rahim Impian

Rahim Impian
Melunasi Hutang


__ADS_3

Siang itu aku ijin pulang cepat dengan alasan ada urusan keluarga, padahal aku beniat untuk mencari kontrakan. Aku sudah mendapatkan pinjaman dari Ayu untuk biaya sewa dan proses perceraianku. Aku berhutang banyak padanya, aku berharap semua berjalan lancar hingga aku bisa segera melunasi uang Ayu.


“Kita sudah sampai,” ucap Haris mengambil atensiku yang sejak tadi terfokus pada ponsel. Aku sedang mengecek mbanking serta menghitung biaya yang akan aku keluarkan nanti.


“Sedang apa sih? Serius sekali? Chat sama Andre, ya?”


Aku melotot, dan Haris langsung tertawa. “Aku bercanda, sayang. Makanya jangan cuekin aku. Sini masuk, ini rumah yang temanku rekomendasikan.”


“Aku sedang mengecek mbanking aja kok!” ucapku membela diri. Aku memasukkan ponsel dan mengikuti Haris.


Aku baru sadar rumah yang Haris tawarkan terlihat begitu bagus. Ukurannya pun tidak terlalu besar. Sangat cocok untuk pasangan pengantin baru. Tunggu dulu, ini terlalu besar untukku yang tinggal sendirian, dan bisa aku perkirakan harga sewanya pasti lumayan melihat bangunannya bagus dan terawat.


“Oh, kirain lagi chatan sama mantan,” goda Haris yang tidak aku hiraukan. Aku malah terfokus pada rumah yang akan kusewa.


“Ini beneran disewakan?”


“Iya, bagus tidak?”


“Bagus sih, tapi pasti mahal.” Aku berjalan semakin dekat lalu mengamati lebih dekat. “Maksudku … bukan tidak suka, hanya saja aku harus lebih irit dalam menggunakan uangku,” jelasku agar Haris tidak kecewa. Masalahnya dia yang mencarikan kontrakan. Pasti tidak mudah dan menguras waktunya yang berharga. Haris sampai repot-repot ijin kerja juga hanya untuk menemaniku mencari kontrakan.


“Tapi kamu suka ‘kan? Kamu mau tinggal di sini? Menurut aku ini sangat cocok, apalagi ini dekat tempat kerjamu.”


Aku meringis, mungkin aku akan menyewanya untuk 1 bulan saja. Setelahnya, aku akan mencari sendiri kontrakan dengan budget yang sesuai. Sekarang yang lebih penting tidak membuat Haris merasa sis-sia.

__ADS_1


“Ok, aku mau di sini. Berapa harga sewanya?”


“Sebentar, aku telepon yang punya rumah dulu biar sekalian kasih kita kunci,” Haris menelpon seseorang. Sementara aku memperkirakan harga sewa rumah itu sambil menjumlahkan dengan biaya pengadilan. Semoga cukup.


Tidak lama seorang pria paruh baya datang, ia menyalami Haris dengan begitu akrab.


“Nak Haris, apa kabar?”


“Kabar saya baik. Anda sendiri bagaimana, Pak Rudi?”


“Wah, saya sangat segar bugar setelah melakukan pengobatan di tempat yang Nak Haris rekomendasikan.”


“Saya turut senang mendengarnya.”


“Iya kebetulan saya butuh untuk 1 tahun kedepan. Sukur-sukur, Bapak mau menjualnya kalau nanti saya ada rezeki.” Haris tertawa kecil


Aku mengerutkan kening mendengar gurauan Haris, meski tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi. Hanya saja, terdengar seperti mau membeli kacang, seolah harganya murah.


“Gampang diatur itu, oh … ini istri Nak Haris? Cantik sekali, perkenalkan saya rekanan Nak Haris, dia lebih seperti anak saya sendiri. Selama ini dia selalu membantu saya karena anak saya semuanya di luar negeri. Dia yang mengatur keuangan saya di Bank dan memberikan pengetahuan yang banyak dalam pengelolaan, dia pria yang cekatan dan ulet.”


Aku sampai bingung mau menjawab apa, aku dikira sebagai istri Haris. Aku mendadak kikuk. Ditambah dengan segala pujian pada Haris, aku merasa Haris pria yang sangat luar biasa.


“Kami masih sepasang kekasih, Pak. Do’akan tahun depan, ya!”

__ADS_1


“Woah, begitu. Saya do’akan supaya hubungan kalian awet hingga ke jenjang pernikahan bahkan hingga seperti saya, ha ha ha.”


Aku membeku dan tersenyum kaku. Sebaiknya aku diam saja.


***


“Ini kuncinya, semoga betah. Kalau ada apa-apa Nak Haris bisa langsung hubungi saya.”


“Siap Pak, terima kasih banyak.”


Aku tersentak, aku belum tau berapa uang sewa kontrakan ini. Apalagi tadi Haris bilang menyewa rumah ini selama setahun. Aku langsung menarik baju Haris setelah Pak Rudi pergi.


“Haris, kenapa kamu bilang aku menyewanya 1 tahun? Uangku tidak akan cukup, terus juga memangnya berapa harga sewanya?” tanyaku cemas.


“Key, kamu tidak perlu memikirkan hal itu, semua biaya sudah aku tanggung. Termasuk biaya pengadilan, jadi sekarang kamu fokus mengajar saja, Ok?”


Aku melongo, Haris sudah membayar semua?


“Ta-tapi, biayanya pasti banyak. Haris, aku sudah banyak merepotkan. Aku bisa membayarnya, tapi mungkin dengan mencicilnya, aku-”


Haris membungkam mulutku dengan ciuman. Aku sontak diam lagi hanya meremas kemeja pria itu yang terus memangut bibirku lembut.


“Aku akan membiarkanmu membayarnya nanti, saat kamu menjadi istriku, Key!” ucapnya setelah membuat bibirku bengkak.

__ADS_1


__ADS_2