Rahim Impian

Rahim Impian
Diana Mabuk


__ADS_3

POV Andre


“Sialan! Keysha menjadi binal karena bergaul dengan orang semacam Ayu. Aku tidak melakukan apa-apa malah diteriaki maling, untung saja aku sudah memberikannya pelajaran, dengan tamparan itu aku berharap ia sadar diri agar tidak sembarangan bertindak. Bisa mati konyol aku diamuk masa karena tuduhannya.” Aku menendang kerikil di jalan, membanting pintu mobil dengan kasar.


BRAK!!!


“Semuanya kacau! Arrgg!!!” Aku mengumpat di dalam mobil dan memukul kemudi. Melampiaskan kekecewaanku sejak ditinggal pergi Keysha, amarahku tidak terkendali karena tidak ada yang bisa mengerti aku, selain Keysha. Dia yang selama ini mendengarkan keluhanku, hanya dengan diam, sudah bisa meredakan amarahku. Kenapa, aku baru menyadarinya Secara perlahan hatiku mulai tenang.


“Aku akan ke sini lagi besok, mungkin aku akan meminta maaf, tapi Keysha juga bersalah padaku. Saat kami bertemu, pasti semuanya kembali seperti semula. Keysha hanya sedang marah, aku akan membiarkannya sebentar sampai ia kembali


padaku, tapi jika Haris menggodanya lagi apa Keysha akan kembali?”


Aku segera mengambil ponsel dan menghubungi nomor kontak Diana yang sempat menghubungiku. Aku menelponnya. Namun, tidak kunjung diangkat. Hingga panggilan ke-5 baru panggilan itu terhubung.


[Halo?] suara Diana sedikit berbeda, seperti orang yang baru saja bangun tidur.


“Halo, Diana? Ini aku, Andre!”


[Apa? Siapa? Andre?]

__ADS_1


“Iya, aku suaminya Keysha!”


[Oh, si pelakor, ada apa Mas Andre?]


Aku terkejut dengan panggilan Diana pada Keysha, apa karena rasa kesalnya? Seingatku dia begitu elegan saat pertama kali kami bertemu. Tutur katanya pun sopan meski aku tahu dia sangat kecewa dengan suaminya yang ternyata berselingkuh dengan Keysha. Dia sama sekali tidak memperlihatkan kekesalannya. Namun, aku mencoba memakluminya.


“Aku sedang membujuk istriku agar keluarga kami kembali harmonis lagi, dan aku meminta bantuan Diana untuk ikut menjaga Haris agar mereka tidak saling menghubungi lagi, apa bisa?”


Dari seberang sana bukan jawaban yang aku dapat melaikan sebuah tawa lepas dari Diana.


[Ha ha ha ha, ya ampun Mas Andre, Haris saja sudah pergi entah kemana. Bagaimana caranya aku menjaganya? Ha ha ha, Mas Andre ini lucu!]


[Maaf Nyonya, sebaiknya Anda berhenti minum. Anda sudah sangat mabuk,]


Suara asing terdengar di seberang sana membuatku sadar apa yang sedang terjadi pada Diana. Wanita itu sedang mabuk, pantas saja omongannya melantur.


[Halo? Maaf, ini dengan siapanya pemilik ponsel?] tanya suara asing itu yang mengambil alih telepon.


“Saya, temannya.”

__ADS_1


[Bisa tolong jemput Nyonya ini? Takut terjadi hal yang tidak diinginkan,] terangnya.


Aku menjauhkan ponselku dan melihat jam berapa saat ini. Waktu menunjukkan hari masih sore, baru pukul 18.00 dan Diana sedang mabuk.


“Baik, saya akan ke sana, tolong kirim alamatnya.”


Tidak lama sebuah alamat tertera di pesan. Aku pun langsung ke alamat itu untuk menjemput Diana.


***


Aku menatap sejenak gedung yang dari luar terlihat seperti sebuah café biasa. Aku pun sedikit sangsi, apa benar Diana mabuk di sini?


Aku belum memasuki café itu, tapi dari dalam sana muncul seorang pria yang berpakaian seperti bartender.


“Anda teman Nyonya Diana?”


“I-iya,” sahutku kikuk.


“Mari saya antar ke dalam!” ucapnya memberikan arah. Kini tebakanku terjawab, aku tidak salah alamat.

__ADS_1


__ADS_2