Rahim Impian

Rahim Impian
Tetangga


__ADS_3

Haris menuntunku memasuki kontrakan, aku menatap takjub isi kontrakan tersebut. Ternyata rumah itu disewakan bersama  furniture di dalamnya. Aku melongok ke dalam kamar, terdapat ranjang serta lemari yang masih sangat layak pakai karena hampir semuanya terbuat dari kayu jati.


“Pak Rudi menyewakan beserta isinya, ini rumah pertama sebelum beliau sesukses sekarang. Jadi sayang jika harus dijual,” jelas Haris menjawab pertanyaan dalam hatiku.


“Lalu kenapa kamu menawarkan untuk menjualnya?” tanyaku penasaran.


“Aku hanya iseng saja, tapi kalau kamu suka aku akan mengumpulkan uang untuk membelinya.”


Aku menggeleng sambil tersenyum lalu mulai memasukan pakaian ke dalam lemari. Haris memegang tanganku.


“Tunggu dulu! Kamu mau langsung tinggal di sini?”


“Tentu saja, apalagi semua sudah tersedia di sini.”


Raut muka Haris berubah muram. “Padahal aku ingin kamu menginap bersamaku semalam lagi.”


Aku kembali mengulum senyum, jika bisa aku juga masih ingin terus bersamanya. Bahkan sampai menjelang tidur aku ingin menatap wajahnya, tapi aku takut kami kembali terlena dan tidak tahu batas. Semalam saja kami terselamatkan oleh telepon dari Ayu.

__ADS_1


“Kita masih bisa bertemu saat kamu pulang kerja, aku akan menemanimu makan malam, gimana?” tawarku.


“Baiklah, kalau begitu aku juga mau pulang sekarang.”


Aku terkejut dengan Haris yang ingin pamit, padahal waktu masih sore. Mungkin dia memiliki hal lain yang harus dikerjakan.


“O-oh, ya sudah.”


Haris mengangguk kemudian berjalan menuju pintu keluar. Aku mengikutinya dari belakang. Ada perasaan tidak rela ketika dia hendak pergi, apa karena akhir-akhir ini kami selalu bersama? Ia terlihat terburu-buru, bukankah barusan ia bilang ingin aku bersamanya semalam lagi? Tapi justru sekarang Haris ingin segera pergi. Aku pun teringat sesuatu, aku segera mengejarnya.


“Haris, tunggu!” panggilku


“Aku sudah bilang apa tadi?”


“Hm … aku bisa membayarnya jika aku menjadi istrimu nanti,” sahutku malu-malu.


Haris mengusap puncak kepalaku dan tersenyum. “Aku akan menunggu saat itu tiba.”

__ADS_1


Aku melambaikan tangan melepas kepergian Haris, setelah ia tidak terlihat aku segera memasuki rumah. Keadaan menjadi lengang karena tinggal aku seorang diri. Aku pun kembali merapikan barang-barang.


“Sudah beres, sekarang tinggal menyiapkan bahan untuk aku mengajar besok.”


2 jam berlalu hingga perutku terasa lapar, aku berniat membeli makanan di luar serta bahan masak untuk esok hari. Sebelumnya aku memeriksa dapur yang tidak kalah komplit, semua alat masak tersedia. Aku berdecak kagum, pasti harganya mahal. Sayangnya Haris tidak memberitahukan berapa harga sewa rumah ini.


“Hutangku akan semakin banyak, belum lagi hutang pada Mas Andre,” keluhku sambil menghela napas.


Aku mengunci rumah dengan riang lalu memperhatikan sekeliling, ternyata aku memiliki satu tetangga di samping kontrakanku, sedangkan yang lainnya jaraknya cukup jauh. Rumahnya tidak kalah bagus, hanya ukurannya lebih kecil.


“Sebagai tetangga yang baik, aku harus memperkenalkan diri. Sepulang nanti aku akan membeli kue untuk salam perkenalan,” gumamku.


***


Pukul 20.00 aku baru sampai rumah dikarenakan antrian yang panjang saat membeli kue. Hari ini ada diskon 20% untuk setiap kue, jadi bisa dibayangkan seramai apa toko tersebut. Beruntung aku sudah lebih dulu mengantri, jika tidak, bisa dipastikan aku akan pulang larut malam. Aku membersihkan diri terlebih dahulu sebelum membawa kue ke rumah sebelah, dengan perasaan senang aku mengetuk pintunya.


Tok, tok, tok!

__ADS_1


Tidak lama pintu terbuka, aku bersiap untuk memberikan paper bag berisi kue. Namun, tanganku tergantung saat tahu siapa orang yang menjadi tetanggaku.


“Kamu?”


__ADS_2