Rahim Impian

Rahim Impian
Ingin terus tapi takut


__ADS_3

Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan tiba-tiba Haris. Bukan apa-apa, kami sedang berada di kontrakanku, bagaimana jika ada warga lain yang melihat hal itu. Akan timbul fitnah dan aku yang paling dirugikan jika hal itu terjadi. Ini tidak boleh dibiarkan. Selama ini aku sudah lelah berkelahi urusan hati, aku ingin hidup tenang tak mau menambah masalah lagi.


“Tolong, lepaskan Haris!” seruku saat pria itu masih saja memeluk erat tubuh ini.


“Aku akan melepaskan pelukan ini asal kamu berjanji tidak lari lagi, Keysha.”


Ucapannya benar-benar membuatku tak berdaya. Badan kekarnya begitu kukuh melindungi seolah siap menghadapi badai, dan aroma parfum ini adalah wangi khas yang kurindui. Bahkan hanya mengidunya saja aku merasa ketenangan yang luar biasa. Begitu kuatnya pesona Haris untukku.


“Janji dulu, Key, kamu nggak kabur-kaburan lagi, oke?” tawarnya sambil menatap dua bola mataku.


“Lepaskan Haris, nanti ada yang melihat,” jawabku dengan nada tegas. Mau tak mau Haris melepaskan cengkraman tangannya.


“Kamu harus percaya penjelasanku, Alesha, Diana selama ini menipuku.” Haris masih bersikeras, akhirnya aku melepaskan diri dengan tegas kutepis tangannya lalu mempersilakannya duduk di kursi teras.


“Jelaskan sambil duduk, aku bikinin minum dulu.”  


Aku bergegas masuk dan membuat secangkir teh. Kini aku butuh sedikit ruang untuk melepaskan diri dari dahsyatnya pesona pria ganteng di hadapanku ini. Dia bilang anak itu bukan anaknya, lalu anak siapa?


Haris segera duduk di kursi sederhana di teras. Rumah kontrakanku memang tidak dilengkapi ruang tamu, hanya satu ruangan kecil disekat antara kamar, dapur, dan kamar mandi.


Sambil mengaduk teh, aku berusaha menenangkan gejolak hati ini. Bertemu dengan pria tampan yang hendak aku usir dari hati, sama sekali tak terpikirkan lagi dalam benakku. Seharusnya dia sudah pergi sejauh-jauhnya dan kami tidak berhubungan lagi.Aku ingin memulai hidup baru tanpa dipayungi rasa bersalah lagi. Namun tak bisa kunafikan ada secuil kelegaan yang membuat hatiku merasa nyaman. Bertemu pria ini selalu memporak-porandakan jiwa dan ragaku seperti dulu.


Usai menarik napas panjang, berusaha memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya, Aku berusaha menetralkan perasaanku yang masih mengambang. Setelah memastikan hatiku sudah tenang, aku membawa minuman itu ke teras.

__ADS_1


“Silakan diminum dulu tehnya, Haris,” ucapku perlahan. Tanganku sedikit gemetar saat meletakkan secangkir teh di meja.


“Mereka benar-benar pintar bersandiwara, Keysha. Aku tak sengaja mendengar perbincangan keduanya di klinik tempat Diana periksa kandungan setiap bulan. Andre berusaha mencari tahu anak itu anaknya atau bukan, tapi Diana tidak mau jujur. Andre  kemudian mencari tahu dengan caranya sendiri, sampai akhirnya Diana tak bisa berkutik. Key, anak itu anak Andre bukan anakku.” Suara Haris yang biasanya lembut kini terdengar meledak-ledak berusaha meyakinkanku.


"Kami sudah bercerai, Diana akhirnya melepaskan aku, memang tidak mudah keluar dari belenggu pernikahan ini, tapi lihatlah Tuhan selalu punya cara untuk menunjukkan kebenaran."


Aku tersentak setengah percaya. Sama sekali aku tidak menyangka mereka bisa berbuat sejauh itu. Ternyata mereka juga bermain gila. Apakah itu bentuk frustasi mas Andre? Aku pun tidak tahu. Kini aku jadi paham mengapa saat di Pengadilan Agama, mas Andre bersikap biasa saja. Ternyata dia sudah mendapatkan hal yang tidak bisa aku berikan. Ada sedikit nyeri diatas kelegaan ini.


"Aku nggak tahu harus bereaksi apa, bagaimana bisa mereka berbuat sejauh itu," gumamku tak percaya. Mas Andre yang menuduhku berselingkuh, tapi dia juga yang melakukannya.


Mendengar sebuah fakta jika Diana hamil anak orang lain, juga perceraian Haris yang sudah terjadi. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata ayah dari bayi itu adalah Mas Andre benar-benar mengaduk-aduk perasaan. Antara perih dan lega, susah menggambarkannya. Tanpa sadar aku menggelengkan kepala berkali-kali.


“Key, kamu nggak rela kalau Andre dengan Diana?” Haris menelisik ekspresiku dan dia menyimpulkan berdasarkan asumsinya. Tentu saja itu tidak benar.


Aku menggeleng, aku hanya merasa seperti semua mimpi, dan semesta memberikan jalan yang tidak disangka-sangka.


Aku tersenyum lega karena kini sudah tahu jawabannya.


“Haris makasih kamu sudah mau repot-repot memberi tahu ini ya, kabar ini sangat melegakan. Setidaknya aku senang akhirnya Diana dan Mas Andre bisa mendapatkan keturunan.”


“Kamu bilang senang, tapi wajahmu seolah tak rela begitu. Keysha, jangan bilang kamu cemburu,” ucap Haris seperti tidak senang.


Dia malah meraih tanganku tanpa mendengar penjelasanku lagi.

__ADS_1


“Jadi sekarang sudah tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, bukan? Aku nggak bisa berpisah begitu saja sama kamu, Keysha, aku mencintaimu.”


Haris terus menatap wajahku seolah memendam kerinduan yang begitu dalam. Lagi-lagi aku harus menghindari tatapannya yang mematikan ini. Sekarang jantungku pasti tidak baik-baik saja.


“Kenapa kamu tiba-tiba pergi tanpa memberi penjelasan, Key? Apakah rasa yang terjalin di antara kita tidak penting bagimu?” selidik Haris terdengar seperti nada keputusasaan.


Mungkin ia sudah lama menunggu saat ini, maka ketika bertemu Haris langsung menuntut hubungan kami. Belum sempat aku menjawab tiba-tiba Haris kembali berbicara.


“Aku juga minta maaf sama kamu karena sudah ingkar janji, Keysha. Aku benar-benar bingung saat itu dan itu semua karena Diana yang menjebakku.” Haris menghela napas panjang.


“Aku salut sama Diana yang punya seribu satu cara untuk mempertahankan rumahtangganya. Tidak seperti aku,” ucapku lirih. Entah kenapa aku terkadang merasa satu-satunya alasan Mas Andre bersatu dengan Diana adalah ingin membalas dendam kepada kami atas kebersamaan di Puncak dulu.


“Ucapanmu masih menyiratkan penyesalan, Key.” Haris seperti tidak rela mendengar jawabanku. Menyesali perpisahan dengan pria yang selalu merendahkan? Ah, bukan begitu, Haris.


“Yang jelas aku tidak seberani itu untuk membuat rumah tanggamu juga hancur, Haris. Aku pikir kamu kembali pada Diana. Ternyata semua hanya salah paham yang dibuat oleh Diana.”


“Keysha, tolong kembali padaku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Sayang.” Haris menggenggam tanganku erat-erat dan memohon agar aku kembali padanya. Pria ini pintar sekali membuat badanku panas dingin.


Aku bingung harus menjawab apa, meski jujur hatiku pun masih ada dirinya. Haruskah kami memulai kembali? Tapi aku ingat ibu Haris yang tidak menyukaiku.


“Mana mungkin Haris menentang ibunya? Dari cerita Santi dia anak yang sangat berbakti dan sangat menyayangi ibunya.” Batinku kembali bergejolak.


Naluriku kembali mengingatkan logika agar tidak lagi terjerat pada perasaan yang hanya akan melemahkan. Aku juga bisa mengerti dan memaklumi sikap ibu Haris, jadi anggap saja memang harus begini jalan takdir kami. Sekarang, iya kupikir sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Haris dengan cara yang benar.

__ADS_1


 


 


__ADS_2