
POV Diana
Tega sekali Haris mengatakan akan menceraikan aku setelah anak yang aku kandung ini lahir. Apa dia pikir aku ini pabrik anak? Hanya bisa mengandung, melahirkan, lalu setelah itu ditinggalkan?
'Cuma dalam mimpimu, Haris!' Aku hanya membatin tapi tidak mau ambil pusing dengan ucapannya.
Haris boleh berkata apa saja tentang masa depan rumah tangga kami, tapi kita lihat saja nanti, apa dia benar-benar bisa melakukan itu. Orang yang paling didengarkan pendapatnya, yaitu mertua, sudah berpihak padaku.
Haris dengan kesadaran penuh kembali padaku. Meskipun mungkin sebabnya hanya rasa belas kasihan, aku tidak peduli. Yang penting dia sekarang bersama aku dan kembali jadi milikku lagi.
Aku segera melompat ke atas ranjang apartemen yang empuk. Ranjang dengan kualitas import terbaik yang memberikan kenyamanan saat aku di atasnya.
Desis lembut udara segar dari Air Conditioner menerpa wajahku, menghadirkan sensasi dingin yang aku rindukan. Aku segera menghidupkan Diffuser aromaterapi, dan wangi lavender lembut menyapa hidung.
Ah, sempurna sekali hidupku! Kutarik napas dalam-dalam, menyedot semua kenyamanan yang tersaji di depan mata.
Selama hampir seminggu berada di rumah Haris, aku sangat tersiksa. Udara dingin tidak terkira membuatku malas untuk sekedar cuci muka. Imbasnya, wajahku menjadi kusam. Aroma lembab di kamar pun membuatku mual.
"Hah, akhirnya aku sampai di apartemen juga!" Aku tersenyum kegirangan.
Jika ada pilihan harus kembali ke rumah orang tua Haris, aku berjanji tidak akan pernah memilih ke sana lagi. Tempat terindah, surga terbaik ya di kamar ini.
__ADS_1
Baru sejenak aku meluruskan kaki yang otot-ototnya terasa pegal, tiba-tiba Haris datang. Ia masuk tanpa mengetuk pintu. Aku senang pada akhirnya kami akan tidur bersama lagi.
"Tunggu dulu ya Haris, nanti aku ganti spreinya dulu. Badanku masih capek," ucapku saat melihat dia sedang menuju ke ranjang kami.
"Terserah kamu, aku cuma mau mengambil bantal, guling, dan selimut ini!" Haris menarik bantal, guling, dan selimut yang berada di sampingku.
"Kamu mau ke mana?" tanyaku saat melihat pria itu menjauh. Haris membalikkan badan lalu menatapku tajam.
"Jangan pernah berpikir kita akan tidur seranjang lagi, Diana. Karena aku cuma kembali ke rumah ini sebagai ayah dari anak itu, bukan sebagai seorang suami. Jadi jangan pernah mengharapkan aku tidur sama kamu lagi!"
Ucapan Haris kembali menyayat hatiku. Aku termenung sesaat mendengar ucapannya. Sejenak aku bingung harus bersikap bagaimana.
"Kamu ngerti 'kan maksudku? Mulai sekarang kita pisah ranjang, dan aku ulangi setelah anak itu lahir, gugatan cerai tetap aku layangkan ke pengadilan agama."
Aku tersenyum miris, meskipun hanya dalam hati. Lama-lama aku semakin menikmati permainan ini. Membuat Haris tak berkutik nyatanya memberikan kepuasan tersendiri.
"Sayang, kamu pasti capek setelah menyetir jauh, sebaiknya kamu istirahat, ya." Aku berusaha menenangkannya.
Kata-kata ibu Haris masih terngiang di telingaku. Sebenarnya nasehat itu untuk anaknya, tapi kenapa terasa lebih related dengan kondisiku? Aku yang harus banyak bersabar menghadapi Haris. Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan menganggap ini sebagai pengorbanan cinta.
'Nak, lihat, mama sedang berjuang untukmu. Mama akan melakukan apa saja supaya papamu kembali sama kita,' batinku sambil mengelus perut di mana janinku pasti juga sedang merasakan gejolak yang sama. Perlahan-lahan air mataku turun, tapi aku segera menyekanya.
__ADS_1
"Jangan cengeng, Diana!" Aku berusaha menguatkan hati.
Malam ini Haris benar-benar tidur di sofa ruang tamu. Aku memandangnya dari kamar karena pintu kamar sengaja aku biarkan terbuka. Siapa tahu saat malam tiba, Haris berubah pikiran, tapi sampai pagi menjelang, pria itu sepertinya sudah nyaman dengan posisi tidurnya dan tidak menggubris aku lagi.
Keesokan harinya, kami pergi ke rumah papa sesuai janjiku. Saat sudah pulang ke rumah, aku memberitahu papa.
"Diana sayang, congratulations! Mama senang akhirnya kamu hamil! Jaga baik-baik kandunganmu ini." Sambutan mama begitu hangat. Dia memelukku erat. Aku pun membalasnya dengan sukacita.
"Thanks, Ma. Mama akan segera jadi oma."
Di tengah keluarga ini, aku selalu merasa menjadi putri, tidak pernah disakiti dan disia-siakan.
"Diana, Papa kangen sama kamu. Kalau mau ke mana-mana, setidaknya beritahu Papa supaya Papa tahu kamu baik-baik saja." Kali ini Papa yang menyambutku dengan dekapan hangatnya.
"Iya, Pa. Aku baik-baik saja kok. Kemarin kan aku dijemput Mas Haris di rumahnya," jawabku sambil melirik suamiku yang sepertinya kurang nyaman berada di antara kedua orangtuaku.
"Ayo, ayo sini, Mama sudah bikin masakan istimewa untuk menyambut calon cucu. Yuk, kita ke meja makan," ajak mama.
Kenapa mereka tidak menyapa Haris? Ah, sudahlah, mungkin ini balasan kecil yang pantas didapatkan Haris dari keluargaku. Dia sudah berani menyakiti aku, putri kesayangan keluarga ini.
Tanpa aku duga, ternyata Haris malah keluar dari rumah. Aku melihat punggungnya menjauh. Sepertinya dia ingin ke taman yang ada di depan kompleks perumahan ini.
__ADS_1
Tbc.