Rahim Impian

Rahim Impian
Siapa dia?


__ADS_3

Seminggu sudah aku mengajar dengan penuh suka cita, membuat memory masa lalu terulang. Betapa bahagia masa-masa itu, sejenak aku melupakan segala kemalangan yang sempat menimpaku.


“Dadah, Bu Keysha!” seorang anak kelas 4 SD melambaikan tangan saat ia ingin menaiki mobil. Aku membalasnya dengan senyuman.


“Hati-hati di jalan, Tian!”


Aku menunggui sampai mobilnya keluar dan menghilang dari pandangan. Semua berjalan lancar, begitu lancar hingga kadang membuatku sedikit takut. Kadang hal yang sesuai ekspektasi menyimpan suatu kejutan yang tidak disangka-sangka. Entah itu sebuah kejutan yang baik atau pun yang buruk.


Drtt … drtt.. drtt…


Ponselku bergetar membuyarkan lamunan yang hampir melanglang buana. Aku mengeceknya, ternyata panggilan dari Ayu. Aku sudah mengganti nomorku, menghilang dari peredaran agar Mas Andre tidak bisa melacakku. Aku belum


siap untuk bertemu dengannya, sampai surat undangan pengadilan dikirimkan padanya.


“Halo, ada apa Ayu?”


[Keysha, sepertinya aku akan telat menjemput karena ada rapat orang tua di sekolah Rara. Tidak apa-apa ‘kan?]


“Ya ampun, Ayu. Aku kira ada apa? Aku bisa pulang sendiri, kok! Jadi kamu tidak perlu menjemputku,” terangku memaklumi.

__ADS_1


[Kamu yakin? Aku masih bisa jemput, cuma kamu harus menunggu sedikit lebih lama.] tawar Ayu lagi.


Aku mengulum senyum sambil menata alat peraga lalu memasukkannya ke dalam lemari. “Yakin … Kebetulan aku mau membeli sesuatu


sebelum pulang ke rumah.”


[Beneran?] Ayu seperti tidak percaya. Aku pun terkekeh.


“Beneran! Udah, jangan pikirin aku. Oh Iya, Rara suka cake nggak?”


[Suka banget! Apalagi kalau yang rasa coklat ditambah susu coklat,] seru Ayu.


Terdengar suara tawa dari seberang sana. [Ya, sedikit icip-icip nggak apa-apa lha.]


“Iya, asal jangan semuanya. Ya sudah, aku mau pulang dulu, bye!”


[Bye, Key … hati-hati di jalan.]


Panggilan pun terputus, sekali lagi mengecek barang sebelum aku keluar dari ruangan. Aku melangkah menuju meja bagian informasi.

__ADS_1


“Mbak, aku pulang dulu, ya!” pamitku.


 “Iya Mbak Keysha, sampai jumpa besok,” ucap pegawai itu.


Setelah pamit, aku pergi menuju sebuah swalayan yang berada tidak jauh dari sana. Aku ingin membeli beberapa buku untuk bahan ajarku di tempatku bekerja. Menambah referensi dan berbagai metode baru yang saat ini digunakan. Tentu saja kurikulum sekarang sudah berbeda dengan masaku mengajar.


Semakin canggih zaman semakin beragam pula cara pengajaran yang efektif agar murid tidak merasa bosan dan mampu menyerap ilmu yang diberikan. Aku tidak mau memakan gaji buta tanpa memberikan hasil yang maksimal.


Aku hampir sampai swalayan saat hujan turun secara tiba-tiba membuat langkahku tertahan. Aku memilih berteduh sejenak karena aku tidak


membawa payung saat itu. Aku mengusap rambutku yang sedikit basah dan menghela napas. Aku akan menunggu sebentar sampai hujannya reda.


Aku pun sibuk menyibak dressku yang terdapat tetesan air hujan, di saat itu juga ada seseorang yang ikut berteduh. Aku tidak tahu siapa, karena aku memilih membelakanginya, menatap lurus pada swalayan yang akan aku tuju. Tiba-tiba aku merasakan sebuah sentuhan yang mengelilingi pinggangku, merengkuh erat sampai membuatku memekik. Aku terperanjat dan menoleh pada sosok yang berani melakukan hal kurang ajar ini.


“Apa-apan ini? Tolong lep-“


Ucapanku terhenti ketika aku mengetahui siapa orang itu, sosok yang menatapku lamat dan membawa tubuhku ke dalam pelukannya.


“Aku merindukanmu, Keysha.”

__ADS_1


__ADS_2